Skip to main content

My Very Unusual Struggle

 



I wanna remember this 'struggle' so that my future self will laugh at it. Karena pernah ada masa di mana dia berhari-hari memikirkan hal yang sangat.. sangat.. important ini.


***


I'm more of a shoes than bags kind of girl. Kalau beli tas entah kenapa saya sangat sangat picky, jadi saya hanya punya sedikit sekali; satu occasion, satu tas. Beda dengan sepatu, yang sering mengundang komentar siapapun yang datang ke rumah, dan selalu berhasil saya tangkis dengan dalih klasik; minimalism bukan soal quantity. Blah. Padahal saya nya saja yang gatelan kalau lihat sepatu melintas di mana-mana. 


A year into pandemic.. sepatu rupanya awet dan anteng saja disimpan di dalam box masing-masing. Satu-dua kantong silica gel cukup membuat permukaan mereka aman dan tenang. Beda dengan tas. Setelah satu tahun tidak digunakan, begitu saya periksa.. satu-satunya tas 'main' saya kulitnya sudah mbrudul gak jelas. Selain ugly dan lusuh, juga tidak ramah di baju karena si kulit yang luruh ini nempel-nempel di mana-mana.


Padahal tas main itu sudah saya pakai kemana-mana; Gorontalo, Jambi, Papua, Belitung, you name it. Satu-satunya tas casual yang 'masuk' dengan gaya pakaian apa saja. 


Kenapa ini penting? Karena ini menentukan jumlah barang yang bisa saya bawa. Tas semi-casual saya yang lain ukurannya terlalu kecil untuk dimasukkan mukena (atau saya harus cari mukena yang super kecil seperti punya tante Fitri). Sedangkan, saya tidak mungkin lagi bepergian tanpa membawa mukena dan sajadah. Dua barang itu sudah jadi item wajib bawa bahkan ke kantor sekalipun. Tas lain yang bisa saya pakai adalah tas ransel yang biasa saya bawa untuk kerja, atau tote bag canvas. Di sinilah kemalasan saya terpampang nyata. 


Saya selalu dress-up jika sedang bekerja. Bertemu klien, memfasilitasi training, meeting, saya selalu diharuskan untuk tampil. Jadi pakaian saya sehari-hari ya antara kemeja dan pajamas and almost nothing in between. Sedangkan saya lebih nyaman jika bisa mengenakan kaos polos, jeans dan sendal jepit, paduan outfit andalan kalau pulang ke rumah eyang dan terprediksi akan mampir ke KM57 (kalau terprediksi bisa jalan terus, saya hanya pake pajamas). Makanya jika ada kesempatan untuk main sama teman-teman, saya maunya casual saja. Kaos, sneakers, dan tas main. Jadi agak tidak mungkin kalau saya pun harus pakai ransel tas kerja itu. Akhirnya saya memutuskan untuk pakai tote bag canvas gratisan dari FSC.


Ternyata sudah lewat adzan dzuhur saat saya tiba di stasiun Pasar Minggu. Awalnya saya berniat solat dulu di mushola, karena sedari rumah memang masih menjaga wudhu (sengaja, supaya tidak wudhu di tempat umum). Tapi ternyata saya salah pilih tangga, yang jadinya malah mengarah ke pintu keluar. Ya sudahlah, saya pikir solat di kafe nya saja, pasti kan ada mushola, saya berpikir mantap.


Saya berjalan ke arah pintu keluar, abang ojek online mengarahkan untuk menunggu di depan masjid karena saya salah ambil pintu keluar. Lagi-lagi di situ saya tergerak.. apa solat dulu ya, batin saya. Tapi saya tetap memutuskan untuk solat di kafe saja, karena tidak mau membuat teman-teman menunggu.


Sesampai di kafe, setelah bersapa-sapa sebentar, saya langsung tanya letak mushola. Dan benar saja.. kafe itu tidak menyediakan mushola. Saya harus jalan kaki sejarak 300 meter (kata mbaknya, tapi serasa satu kilo), di bawah langit Jakarta yang sedang sengit-sengitnya. Ya sudah.. tidak apa-apa. Anggap saja ini teguran, jika memang sudah ada niat baik untuk mengerjakan amalan wajib dan jalannya sudah di depan mata.. langsung diambil jangan ditunda. Karena boleh jadi kalau ditunda, struggle nya luar biasa. Kaki saya lecet, karena sepatu yang saya beli sejak Desember ini baru sempat dipakai sekarang. Darahnya nempel di kaos kaki dan bikin saya berjengit sendiri saat mengalirkan air ke dua luka lecet itu. Baiklah.. ini akibatnya kalau menunda kewajiban, yang jelas-jelas bisa dilakukan.


Tapi Allah Maha Baik. Setelah selesai sholat, langit Jakarta mulai mendung. Saya berjalan kembali ke kafe dengan gesekan lecet yang jauh berkurang, dan naungan awan yang meneduhkan. Namun demikian.. saya tetap saja galau, apakah solat dzuhur saja, atau jamak ashar sekalian? saya galau luar biasa, karena saya tahu dari segi jarak memang tidak seberapa. Tapi kalau kesorean dan harus solat di tempat ramai seperti stasiun.. agak serem juga. Akhirnya saya memutuskan untuk solat di waktu normal saja.


Ternyata benar.. saya kesorean. Pukul lima lewat lima belas saya baru turun dari jembatan penyeberangan stasiun Bogor. Sengaja memilih menyebrang padahal biasanya saya paling anti nyebrang dan selalu memilih menunggu ojol di area memutar. Saya berhitung cepat karena kita berkejaran dengan waktu Magrib sedang asar belum tunai.


"Pak punten, saya buru-buru, belum ashar" pinta saya jujur pada ojek online. Dengan sigap dia memilh jalur tercepat, dan tidak basa-basi dalam melajukan motornya. 


Jadwal haid saya memang (Insya Allah) tiga hari lagi, tapi somehow, sejak kemarin saya berharap bahwa setidaknya hari ini saya haid supaya tidak sulit melaksanakan solatnya. Maka sesampai di rumah, dengan sigap menanggalkan semua yang perlu ditanggalkan, melesat ke kamar mandi.. dan bam.. ternyata ada bercak yang saya yakini itu adalah darah haid. Lega luar biasa karena saya yakin saat itu posisi matahari sudah berada di tanduk setan, sudah memasuki waktu dilarang solat. Dengan santai saya keluar kamar mandi, memberesi barang-barang yang saya geletakkan sembarangan, dan menikmati hadiah dari pasangan suami istri favorit saya; nasi kuning Gorontalo plus sagela.. nyam! 


Lewat waktu magrib.. Isya.. saya mulai ragu. Saat saya selesai menyantap makan malam yang dibumbui rindu, lalu lanjut mandi, saat itu juga saya sadar bahwa bercak itu.. sepertinya bukan darah. Melainkan bercak kecoklatan penanda jelang haid atau berakhirnya haid. Di situ baru saya malu sejadi-jadinya. Seperti sudah pede sekali mau haid, dan sudah skip nyaris tiga solat, ternyata salah sangka. Mudah-mudahan Allah memaafkan.. >.< (malu Ya Allah..).


Di sinilah saya merasa pentingnya seorang mentor. Karena saya selalu punya banyak sekali pertanyaan, dan biasanya selama ini terjawab dengan sendirinya oleh video-video youtube yang melintas tiba-tiba. Tapi ada kalanya pertanyaan itu terlalu besar, dan terlalu jarang dibahas.. ya seperti ini. Semisal kita ragu dengan yang kita lihat, apakah itu darah haid atau bukan, bagaimana cara mengujinya.. Lalu saya teringat.. Dulu sekali, Mama pernah mengirimi sebuah nomor whatsapp pengajian yang bisa saya ikuti di Bogor. Katanya itu dari teman pengajiannya di sana. Tentu saja saya tidak tertarik.. sejak dulu saya tidak pernah tertarik dengan cara orang tua mengajarkan agama pada saya, (tolong jangan ditiru). But that's the thing about parents.. apa yang mereka beri, jika kita tidak suka, ada baiknya disimpan saja jangan ditolak mentah-mentah. karena boleh jadi suatu nanti, kamu memang akan butuh itu, dan kamu tidak pernah tahu what kind of stage in life you'll jump to. Ingatan nomor whatsapp itu seperti a lonely dot yang terkatung-katung di alam pikiran saya sejak berbulan lamanya, menunggu untuk dihubungkan, dan pada akhirnya memang terhubung juga.


***

Saya sedang terobsesi dengan Raline Shah.. bukan 'sedang' sih, karena beliau memang panutan saya sejak lima tahun yang lalu. Sekarang saya terobsesi dengan cara berpikirnya, yang ternyata kita sama.. 

Kita sama-sama lahir sebagai anak tertua, di Bulan Maret, dari ayah yang mendidik dengan keras, ayah yang taat pada agama, dan ayah yang tidak mampu mengekspresikan perasaan. Kita jadi perempuan pemberontak, yang sibuk cari perhatian dari sang ayah, walau itu artinya harus menyakiti perasaannya sekalipun. Ayah kita mungkin sama-sama miris melihat kelakuan dan gaya berpakaian kita, tapi mereka diam, dan tidak berkomentar apa-apa, dan itu yang membuat kita semakin menjadi.


Semakin ke sini, saya semakin sadar betapa penting figur seorang ayah bagi anak perempuannya. Beruntung, saya tidak jadi menikah waktu itu, karena boleh jadi kita tidak mampu menyatukan frekuensi sehingga dia tidak bisa mengekspresikan diri yang membuatnya berjarak dengan keluarga dan tidak bisa hadir untuk anaknya. Beruntung sekarang saya masih diberi kesempatan untuk memilihkan sosok ayah untuk anak-anak saya kelak. 


Raline seperti menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tentang diri saya sendiri, termasuk alasan kenapa minat menikah sampai kini masih minim sekali. Kemarin pun saya ditanya soal ini oleh teman saya, why,. saya jawab dengan jawaban klasik. Hingga dia bertanya tentang kriteria suami bagi saya seperti apa, yang saya jawab juga dengan jawaban klasik, dan ditertawakan olehnya. Barulah setelah telepon ditutup, dan saya menemukan video interview Raline.. saya jadi sadar.. bahwa selama ini mungkin bukan tentang saya, bukan tentang dia, tapi tentang ayah saya. Seperti ada keinginan untuk mengunggulinya tapi juga tidak ingin membuatnya kesepian, dan kami sama-sama tidak mampu mengungkapkan perasaan. Sehingga saya sibuk menghindari segala bentuk tipe yang serupa atau mewakili ayah saya.. kayak waktu si mas itu hadir dan secara fisik tinggi badan dan bentuk rambutnya mirip papa.. saya pun langsung tidak mau karena alasan itu. 


Ternyata.. selama ini.. saya terlalu sibuk menghindari ayah saya, bahkan di dalam diri orang-orang yang mendekat sekalipun. Termasuk, fakta bahwa selama ini saya menghindar untuk menjalin hubungan dengan orang-orang yang berasal dari daerah tempat papa lahir.. juga karena takut kalau dia akan sama keras kepalanya dengan papa. Padahal kan..

Bisa jadi belum tentu.


Raline Shah membuat saya merasa less weird, dari caranya memuji dunia, caranya memuji koneksi dalam internal diri sendiri, koneksi dengan ruh.. saya jadi merasa bahwa saya tidak sendiri. I just have to deal with my self a little bit more.. sampai saya yakin bahwa saya pantas mendapatkan apa yang saya inginkan. Gambaran di kepala yang seolah too good to be true, karena merasa diri ini tidak worthy mendapatkan yang seindah itu.. harus perlahan dihilangkan. Ini pelajaran baru bagi saya, mungkin masuk minggu terakhir bulan Maret, akan mulai saya pelajari. You deserve the best things in life.. jangan pernah berpikir kalau kamu nggak pantas karena kamu begini dan begitu. Tidak. Kamu pantas! Allah selalu memberi yang terbaik bagi hamba-Nya. Jangan pernah remehkan ke Maha Baikan Allah untuk kamu. Karena 'Aku sesuai prasangka hambaKu kepadaKu'. 


***

Bogor, 28 Maret 2021

Ngantuk parahh

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2