Skip to main content

Maret belum selesai..

 




Ya, beberapa hari ini saya absen menulis. Alasannya tak lain dan tak bukan adalah karena side job yang datang (biasanya) setahun dua kali, kini sudah tiba. Pekerjaan sampingan menerjemahkan dokumen ini sudah saya geluti nyaris lima tahun terakhir. Hasilnya lumayan untuk bangun dapur, pagar dan kanopi. Jadi salah satu sumber tambahan yang tidak pernah saya tolak, meski dulu sempat kewalahan bukan main saat masih harus terbang kesana kemari untuk assessment.


Ditambah lagi saya baru saja kehilangan satu anggota keluarga inti. Anggota keluarga yang saya panggil dengan panggilan amat khusus. Mama terlahir dari lima bersaudara, dua laki-laki dan tiga perempuan. Anak pertama saya panggil dengan Papa Gode, harusnya disebut dengan Pakde karna Eyang masih ingin mempertahankan kesukuan-Jawanya di kalangan anak-cucu, tapi gagal karena terlalu aneh sebutan itu di tengah-tengah kami yang sudah nyunda pisan. Anak terakhir, perempuan, saya panggil Euteu. Harusnya Ateu, orang-orang umum manggil tantenya dengan Ateu, tapi saya Euteu. Euteu adalah sebutan untuk tante kecil, karena umur kami hanya terpaut tujuh tahun. Sisanya ya om dan tante biasa.


Yang pergi adalah Papa Gode. Kakak tertua mamah yang paling bisa memeriahkan suasana. Bahkan dengan sakitnya, setiap kali beliau ada, pasti hanya kelakar yang kami dengar. Tertawa kami dibuatnya, dan jarang sekali kami mendengarnya mengeluh.


Beberapa waktu dalam moment terakhir hidupnya, sempatlah saya dan beliau menempuh jalur pantura bersama. Pernah juga sampai exit tol Cibubur, di mana dia minta diturunkan dan saya balik lagi masuk ke tol Jagorawi untuk melanjutkan perjalanan, atau sampai Cikopo, agar dia bisa melanjutkan perjalanan dengan bis. Yang terakhir itu sampai sekarang masih menyisakan sembilu. Saat saya menurunkan beliau dari mobil, beliau yang baru selesai di rawat di rumah sakit dan memutuskan untuk pulang ke Pamanukan lalu kembali ke rumahnya di Cimanggis dengan menumpang mobil yang saya bawa. Tapi saat itu saya... ah sudahlah.. saya tidak mau menangis lagi. Tidak malam ini.


Senin dan Selasa adalah hari yang saya dedikasikan untuk beliau jua. Rabu, saya harus menepis semua rasa sedih itu, karena memang hari itu adalah hari bahagia untuk kantor kami yang memutuskan berkumpul secara offline di kedai kopi yang saya idamkan sejak berbulan lalu. Pinta saya untuk mengadakan meeting di situ sekaligus dalam rangka merayakan ulang tahun, rupanya dikabulkan dengan mudah. Board of directors sangat baik hati mendengarkan pinta saya, tapi saya yakin, ini perlahan akan menimbulkan kebencian nyata dari mereka yang tidak suka dengan hadir saya di sini.


Kamis saya benar-benar drop. Tidak bisa berfungsi kecuali hanya mengerjakan pekerjaan inti yang benar-benar harus selesai hari itu. Dan Jumat.. Jumat saya sakit panas, sampai malamnya harus kembali berjibaku dengan mengeluarkan semua isi perut. Berulang kali terbangun tengah malam, dan memutuskan untuk mandi sebelum pukul empat pagi, walau habis itu tidur lagi. Hari ini saya bangun dengan sebuah keputusan; ini harus berakhir di sini. Kesedihan, ketakutan, tentang hidup yang singkat, hidup yang stagnan, dan hidup yang tak kunjung ada perubahan, harus berhenti di sini. Juga rasa kehilangan yang begitu dalam, namun tidak ada hal lain yang bisa saya lakukan selain merasa bersalah pada beliau dan gambar memori di Cikopo, yang saya harus hadapi dengan nyata. Gambar itu tidak bisa saya hilangkan. Masih selalu melintas bahkan saat saya sedang mengeluarkan isi perut di kamar mandi sambil menangis. 


Maaf.. hanya itu kata yang saya bisik berulang-ulang, tidak henti sepanjang jalan menembus tol macet sampai ke papan nisan. 


Pagi saya awali dengan pergi ke pasar dan supermarket. Membeli beberapa bahan baku untuk juice sekaligus juga belanja bulanan. Baru sadar ini sudah jelang akhir bulan, pantas saja sabun odol dan seisinya sudah mulai menipis. Berangkat dengan cuaca cerah, dan pulang diiringi hujan. Saya memang berniat untuk pulang nanti mau menumpang taxi online, tapi terlalu takut dibilang manja naik mobil padahal bisa naik motor.. ternyata sama Allah dikasih hujan. Kalau hujan kan mau tidak mau harus naik mobil, hehe. Harus ya cari alasan, padahal yang nge judge diri sendiri.


Sesampai di rumah saya langsung mengemasi semua hasil belanja, menyusunnya ke dalam kulkas yang sudah sangat penuh. Menata sabun dan segala stok makanan di tempat lain, dan mulai memanaskan setrika. Saya mencicil setrikaan yang sudah menggunung karena dua minggu tidak sempat mengerjakan pekerjaan rumah. Di sinilah saya merasa sangat bersyukur sudah tidying-up.


Biasanya, jika orderan side job ini datang, rumah saya kacau balau karena tidak sempat beres-beres, dan barang-barang akan saya letakkan sembarangan. Tapi kali ini, yang saya lakukan hanya menyapu rumah pagi hari, sesekali dipel, dan sudah. Kalaupun makan, hanya perlu mencuci peralatan makan yang digunakan. Sekarang, karena semua benda sudah punya 'rumah' masing-masing, sangat mudah bagi saya untuk 'memulangkan' mereka selepas dipakai.


Biasanya jika saya sudah keluar rumah, tas akan tergeletak di kursi atau lantai. Isinya beberapa keluar, dan tercecer di meja. Meja jadi penuh, dan untuk bisa dipakai, saya singkirkan benda-benda itu seadanya. Tapi sekarang tidak lagi. Sepulang dari luar rumah, isi tas semua saya keluarkan dan saya 'pulangkan' sehingga tidak ada satupun yang bercecer di meja. Meja tetap rapih. Begitupun alat makan, yang sekarang sudah punya tempat yang jelas. Setiap selesai dicuci dan dikeringkan, bisa langsung dipulangkan. Tidak butuh waktu lama, hanya kurang dari lima menit, semua sudah rapi seperti sedia kala. Jadi yang hanya saya perlu lakukan hanya menyapu lantai. Cukup itu, dan bisa langsung berjibaku dengan laptop.


Ini juga jadi bikin lebih hemat, karena dulu setiap ada orderan side job saya pasti sewa bibi. Sekedar untuk beres-beres atau nyetrika. Sekarang, saya bisa mencicil setrikaan, dan itu bukan saja sebagai menyelesaikan tanggung jawab, tapi bagian dari refreshing. Melihat tumpukan baju terlipat rapi dan ketat itu kan relieving ya buk.


Sekarang saya paham mentalitas orang yang fokus pada growthnya. Paham dengan cara berpikir orang yang orientasinya adalah waktu. Saya mengerjakan side job sejak dulu memang dengan menggunakan tata waktu yang rapi dan disiplin, tapi baru sekarang saya paham seperti apa rasanya ketika rapi dan disiplin itu sudah mendarah daging. Kalau kata buku yang saya selesaikan minggu lalu sih namanya atomic habit. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang signifikan dan mendarah daging.


Saya hanya ingin fokus pada dua hal itu saja sekarang. Karena tahu bahwa hidup ini terlalu singkat untuk mengurusi hidup orang lain, apalagi sampai berusaha mati-matian agar disukai, dipuja dan dipuji. Meskipun sampai kini masih ada satu vibe toxic yang belum berhasil saya singkirkan, tapi setidaknya kini saya sadar untuk tidak lagi mencoba menyingkirkannya. Level toxicnya bukan lagi untuk di detox melainkan untuk diganti baru. 


Akan habis umur mengurusi orang-orang yang membuat kita sakit hati. Kini saya belajar, pada setiap yang membuat sakit hati, jangan sampai itu terjadi pada kita. Jika kita yang sakit hati, tidak apa-apa, karena jika kita ikhlas, Insya Allah ganjaran kebaikannya akan berlipat ganda. Tapi kalau kita yang bikin sakit hati,, no no. Jangan sampai, karena kita tidak tahu apa yang akan mereka bisikkan di papan nisan kita nanti. 


Ada orang-orang yang selalu ingin menjadi pusat perhatian. Dirinya tidak kuat jika lampu sorot diberikan pada orang lain, sehingga sebisa mungkin, bahkan jika harus main belakang sekalipun, akan dilakoni. Saya hendak meminta maaf pada seseorang yang saya sakiti tempo hari, itupun karena dibisikki oleh bisikan toxic tentang omongannya di belakang saya yang seharusnya saya tidak tahu. Mudah-mudahan ini bisa jadi solusi. Jadi exit gate pada sesuatu yang sudah sangat menggerogoti kenyamanan dan kedamaian diri. 


Satu yang saya pelajari kini; perempuan memang ditakdirkan untuk hidup bersama laki-laki, dan bergantung pada laki-laki. Tapi jangan pernah kamu percaya pada perempuan yang tidak bisa bergaul dengan sesamanya, dan hanya memilih kumpulan laki-laki sebagai teman mainnya.


***

Bogor, 20 Maret 2021

22.07. Happy International Day of Happiness. Hariku hari ini indah, tapi barusan aku googling dan berujung scrolling quora, how to hide someone's name in ig likes. karena selalu ada nama itu gitu loh heran aku. 


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk