Skip to main content

Dia yang mencintaimu

 



Dia yang tumbuh tanpa orang tua, hanya mengenal ibu hingga usia kanak-kanak. Bergantian diasuh oleh Kakek lalu Paman, beranjak dewasa dalam kesahajaan. Bertemu cinta sejati di usia gemilang, bertumbuh dalam naungan ilmu, kasih, dan kebijaksanaan hidup. Hingga satu persatu orang yang ia cintai.. pergi meninggalkannya.


Mereka pergi di saat beban tanggung jawab kian besar menggantung di bahunya. Seakan terus menerus menjadi pengingat bahwa kau di sini sendiri wahai manusia! Pamannya pergi, istrinya pergi.. kekasih yang ia cintai sepenuh hati, yang paling mengerti dirinya, belahan jiwanya, meninggalkan ia sendiri.


Baginya hidup harus terus berjalan. Namun tak sedikitpun ia berubah. Ia tetap sahaja, dermawan, lembut namun tegas. Teguh pendirian dalam mengemban tugas. Walau ujian tidak berhenti menerpa.


Kata orang, ada sebutan bagi mereka yang ditinggal mati oleh orang tuanya: yatim/piatu, atau yang ditinggal mati oleh pasangannya: janda/duda. Tapi tidak ada sebutan bagi mereka yang ditinggal mati oleh anaknya.. karena itu adalah hal terburuk yang bisa terjadi pada orang tua. Ia pun demikian. Sosok mungil itu tidur lelap dipangkuannya. Ia pun menangis. Bahkan sosok paling bijaksana, paling mulia di muka bumi, paling tangguh dan lapang hatinya, pun tetap menangis kehilangan si buah hati.


Dia yang menanggung beban dua kali lebih berat dibanding setiap insan yang pernah hadir di Bumi. Jika demam tubuhnya, panas badannya dapat membuat siapapun berjengit ngeri. Panas. Dua kali lebih panas dari demam manusia lain. 


Berat beban yang ia pikul, setara dengan jaminan hari akhir yang sudah jelas indah untuknya. Tapi tetap ia tegakkan ibadah di malam senyap. Memilih berdiri ketimbang rebah. Memilih ‘berduaan’ dengan Sang Pencipta ketimbang berlindung dibalik selimut tebal.


Dia yang cintanya padamu tak lekang oleh waktu. Bahkan saat waktunya nyaris tiba untuk berpulang menemui sang belahan jiwa, kita lah yang justru ia sebut.


Umatku.. umatku.. umatku.


Saya memang penuh dosa. Tapi keinginan untuk bertemu dengannya tetap ada.. jika pantas.. kelak ia menunggu orang-orang yang beriman di telaganya. Telaga Al-Kautsar. Telaga yang dihadiahkan tuk menghibur hatinya yang luka atas kepergian si kecil. Jika pantas.. ingin lah saya menjadi bagian dari segelintir itu.. yang disambutnya melepas dahaga di sana.


Atau.. bertemu dengannya lewat mimpi. I’ve been dreaming some weird dreams lately. Ingin rasanya salah satu dari mimpi itu terganti.. dengan bertemu dengannya, mungkin mencium tangannya, dan.. bertanya. ‘Seperti apa rasanya terus menerus dipapar ujian tapi tetap menjalani hidup dalam kebaikan dan iman?’


***

Bogor, 26 Maret 2021

Papa Gode meninggal, wabah penyakit masih merajalela, mudik dilarang, dan saya semakin paham rasanya berpikir suicidal. It gets lonelier in ramadhan, walaupun saya mencintai solitude, tapi berkesendirian di bulan suci adalah lain soal. I must admit.. saya trauma sendirian di ramadan.


Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal