Skip to main content

Tulisan Curhat

 


Dear Diary..

My workload is crazy!


Saya tidak biasa membicarakan orang kantor di blog ini. Peran saya di pekerjaan masih menjadi misteri bagi sebagian besar teman-teman saya, karena terlalu sulit untuk dijelaskan. Mungkin baru dua tahun terakhir ini saja peran saya di pekerjaan jadi agak lebih mudah dijelaskan; marketing, tapi tetap saja apa yang ada di balik meja, dan jenis bisnis yang digeluti oleh perusahaan tempat saya bekerja, masih terbilang unik untuk publik.


Tapi bukan itu yang ingin saya bahas sekarang, melainkan tentang kesadaran betapa saya mulai kewalahan menghadapi ini semua. Tentu saja saya pun ingin berhenti. Keluar sepertinya adalah satu-satunya solusi. Namun, lagi-lagi, saya selalu pantang keluar jika hanya karena sesuatu itu sulit, atau hanya karena menghadapi satu-dua orang yang agak mengkonsumsi isi hati. Saya hanya akan keluar jika memang sudah selesai dan sudah tidak ada lagi yang bisa saya pelajari dari sini. (Insya Allah).


Itulah kenapa saya sangat keras terhadap waktu. Saya tidak suka pada orang petantang petenteng yang menganggap remeh online meeting, dan bisa baru bergabung lima belas menit ngaret dari waktu yang sudah disepakati. Sungguh orang seperti itu sudah dzolim terhadap waktu saya yang sangat terbatas ini. Walaupun saya sudah mencoba mulai kerja dari pukul delapan pagi, terduduk rapat di kursi tanpa ada haha-hehe sana sini, dan hanya istirahat satu atau dua jam di pukul satu siang, tetap saja pekerjaan saya tidak habis walau azan magrib berkumandang.


Saya sudah mengajukan beberapa permintaan untuk meringankan beban tugas saya, yang nampaknya didengar oleh para direksi. Saya bersyukur, walau sepertinya mereka masih belum paham bagaimana load kerja dari apa yang mereka embankan pada mereka. Ya saya pun tidak berharap mereka mengerti sih, karena saya tahu mereka sudah pernah melalui yang jauh lebih ini.. that's why they're the Directors now, right. Saya pun tidak mau terlalu terdengar menye-menye, mengemis memohon pengertian betapa saya sudah lelah bekerja memeras keringat, kalau memang secara nyata tidak ada kontribusi apapun yang sudah saya lakukan selain menjabarkan konsep-konsep utopis yang saya raup dari buku.


Ditambah lagi, baru-baru klien setia saya mengirimi pesan hendak meminta penawaran harga pekerjaan sampingan yang sudah saya geluti sejak lima tahun lalu. Saya bersyukur sekali karenanya, walau agak deg-degan juga, dengan load kerja seperti ini, tambahan side job yang biasa saya kerjakan mulai pukul delapan malam akan mulai memenuhi rongga otak saya. Saya mungkin tidak akan lagi sempat berpikir menu makan dan hanya akan terus menerus beli bahan ungkepan atau makanan fast food demi keberlanjutan hidup. Sungguh tidak sehat.


Makanya sekali lagi saya bilang, saya sangat berhati-hati terhadap waktu. Saya sudah mulai mengkalkulasi semuanya; berapa jam di pagi hari yang saya butuhkan untuk mempersiapkan diri, termasuk bersih-bersih rumah, menyiapkan hati, membaca buku, memberi nutrisi pada otak hati dan perut. Berapa jam yang saya butuhkan untuk menyiapkan makan siang, menggoreng telur dan tahu yang sudah dibumbui, mengeluarkan bebek dari kulkas, mencuci sayur dan meniriskan, tidak ada sama sekali celah waktu untuk lengah. Pun jika sore menjelang, saya sudah menghitung, berapa waktu yang saya butuhkan untuk menunaikan ibadah sore beserta pengingat-pengingatnya, dan kembali mengerjakan pekerjaan yang ringan dan saya tahu bisa ditunaikan sore hari (biasanya kerja-kerja berat saya tuntaskan di pagi-siang hari). Lalu saat malam tiba, berapa waktu yang saya butuhkan untuk menunaikan ibadah malam, makan malam jika perlu, menulis, dan skincare.


Malam ini sebetulnya saya mau mencoba untuk tidur mulai pukul delapan, supaya bisa bangun lebih awal dan benar-benar bangun untuk start lebih awal. Tapi sepertinya memang susah, karena harus curhat dulu di sini.


***

Saya bukan orang yang relijius. Teman-teman SMA saya paling tahu bagaimana kelakuan saya dulu di sekolah, bahkan hingga kuliah. Mereka mungkin adalah orang pertama yang tertawa terpingkal-pingkal jika kamu sebut saya relijius di depan mereka. Saya pun bukan penghapal Al-Quran. Saya berusaha menghafal, walau hanya 1 juz itupun sampai sekarang belum tuntas. Terakhir kali saya masih sangat antusias menghafal ayat demi ayat dan berhasil menyambung utuh sampai nyaris ke dua surah terakhir di juz 30, itu waktu Bulan September. Masuk ke Oktober saya sudah terdistraksi dengan kehadiran Baby Juices dan berbagai urusan pekerjaan yang mendadak cerah lagi tujuannya. Sekarang saya mulai sadar, bahwa hafalan yang mati-matian saya susun di otak kemarin, sudah mulai buyar ketika saya tonton video anak kecil menghafal Al-Quran dan membaca surah yang terakhir saya hafal, dan sudah hilang sempurna dari ingatan.


Sedih.


Sedih sekali rasanya jika tahu betapa sudah susah payah melepaskan dunia dari hati, tapi tetap saja melekat erat. Menempel kuat bagaikan lem glue gun kekeringan di Gurun Sahara.


Kalau dunia sudah sedemikian terasa berat, dan terus menerus yang ada di kepala ini hanya urusan pekerjaan, apa yang akan dikerjakan setelah ini, apa yang akan disampaikan saat meeting nanti, bahan apa yang akan saya minta untuk rekan-rekan siapkan pada meeting yang saya atur, bagaimana design yang akan saya buat, wujudnya serta tulisannya, apa yang akan saya tulis di social media untuk mempromosikan bisnis ini, bagaimana cara membuat penjualan meningkat.. and so on so forth. Otak saya seperti tidak berhenti berpikir dan semua yang dipikirkan hanya tentang dunia dan dunia saja.


Saya tahu, ini adalah jalan yang saya pilih sejak nyaris enam tahun lalu saat memutuskan mengambil pekerjaan ini di waktu-waktu hendak menikah. Saya sadar betul waktu itu bahwa pekerjaan ini akan beresiko mengakhiri hubungan kami. Namun saat itu saya sungguh tidak peduli, karena inilah yang saya impikan --bukan jadi wanita gila kerjanya, tapi jenis pekerjaannya yang membawa saya travel ke nyaris seluruh pelosok negeri-- dan saya membayar harganya dengan penuh kesadaran.


Yang saya tidak tahu adalah betapa jauh saya sudah terbenam. Tanpa terasa, enam tahun hendak menyapa. Walau saya beruntung sekarang tidak ada urusan cinta-cinta menye yang menginterupsi pikiran ini.. kebayang sih bagaimana rasanya kalau punya pacar dan saya tidak membalas pesannya tapi terus menerus terlihat online karena harus membalas pesan-pesan yang masuk lalu lalang seperti penumpang Commuter Line. Saya tertolong dengan kehadiran seseorang, nyaris empat tahun lalu, karena menjatuhi hati secara tidak sengaja padanya telah membawa saya pada kesengsaraan yang menuju pada self help, singgah di pencarian tentang Astrology, menemukan minimalism, dan berujung pada menemukan tentang kesadaran diri dalam beragama. I have loved you, You. But not anymore. Thanks for the emotion, though. I really can use it. You were the one for me, I'd do anything for you.. anything.. But not anymore (ini bisa dibikin jadi lirik lagu gak sih. Ugh I wish I can write a song)

Makanya saya bisa membentengi diri dari berbagai jenis godaan, mau dia sudah se dewasa apapun (yang mana saya suka sekali pria dewasa), mapan dan berkutat di bidang yang saya sangat minati, saya tidak tergiur untuk mau meruntuhkan benteng untuknya. Benteng saya benar-benar tertutup dan sekarang ditambah lagi dengan akar berduri yang bernama: pekerjaan. 


Jadi kalau ada orang yang mau masuk ke benteng ini, harus lewati akar-akar itu dulu.


Jadwal meeting selalu ada setiap hari. Which is good, because I like meeting. Yang tidak good adalah tumpukan pekerjaan setelahnya yang harus ditunaikan. Saya takut kalau keburu mati, dan janji-janji ini tidak terpenuhi, apakah nanti akan ditagih di sana? Masa saya sudah mati harus tetap ngerjain revisi..


Tapi alih-alih bikin revisi, saya malah curhat di sini.


Haha..

***


Tujuan tulisan ini tak lain dan tak bukan hanyalah untuk pamer menjadi pengingat di masa mendatang, bahwa pernah ada masa di mana saya menenggelamkan diri di dalam kesibukan, tapi bukannya diving, saya malah beneran kelelep. Saya emang ga bisa berenang sih, honestly. 


Tapi saya sedang tidak meminta nasehat, apalagi pendapat tentang bagaimana saya harus menjalani hidup ini. Saya cukup ingin menuangkan apa yang saya rasakan, dibaca atau didengar terserah, nanti selebihnya saya serahkan pada-Nya. Karena saya cuma ingin Dia terkesan pada apa yang sudah saya upayakan, dan Dia senang pada usaha saya.


Saya ingin membuka bagi mereka yang ingin tahu, bahwa semua perempuan memang ditakdirkan untuk kuat, karena Ibu kita semua: Hawa, adalah perempuan kuat yang tidak hadir saat Nabi Adam diperkenalkan tentang nama benda-benda di muka Bumi. Dia tidak tahu menahu soal apa yang ada di isi Bumi, tapi bisa bertahan hidup hingga dipertemukan kembali dengan suaminya. Sendirian di Bumi tanpa tahu mana tumbuhan yang bisa dimakan, bagaimana cara membuat pakaian, apa fungsi batu, ranting dan goa, ditambah lagi beliau harus sendirian berjalan tanpa tahu ke mana arahnya, dan yang satu-satunya ia punya hanya keyakinan dalam hati bahwa Tuhannya tidak pernah menzolimi hamba-Nya. 


Bukan berarti dengan kekuatan itu dia bisa dibiarkan sendiri. Sedikit banyak pasti mereka menangis. Menumpahkan kesal dan amarah yang tidak bisa diluapkan, karena mereka tahu jika mereka luapkan itu, hanya akan menimbulkan sakit hati pada si lawan bicara. Bukan berarti meskipun mereka kuat, mereka bisa menanggung semua beban hidup sendiri. Tidak.. sayang. Tidak begitu. 


Meskipun perempuan itu kuat dan mandiri, dia pasti tetap butuh laki-laki minimal untuk menyalurkan rasa kasih dan sayang yang mereka miliki untuk sekedar dibagi. Dengan begitu dia bisa jadi lebih kuat lagi, karena dia tahu ada orang lain yang berjalan bersamanya, berjuang dengannya, dan tidak akan melepaskan genggamnya. Meskipun mereka kuat, mereka tetap merindukan rasa aman dari orang yang percaya padanya, dan menghargainya. Maka untuk itu lagi-lagi saya minta, pada teman-teman yang masih menunggu dengan setia, tolong.. tolonglah. Jika dia sudah menunjukkan tanda-tanda tidak menghargaimu, tidak mendengarkanmu (atau berlagak mendengarkan padahal sebenarnya tidak), jangan lekatkan dirinya di hatimu. Jangan sampai dia menjadi ilah yang lain, padahal lisanmu selalu menyebut tiada Tuhan selain Allah. 


Mudah-mudahan kita semua terbebas dari kesibukan yang menenggelamkan tanpa makna. Tenggelam dalam kesibukan yang sia-sia adalah kerugian yang nyata. Karena waktu terus berjalan, tapi tidak ada bekal untuk akhirat yang terbawa. Dan jika lelah terus menyapa, ingatlah bahwa dunia memang tempatnya lelah. Jangan bersandar di sembarang tempat, karena salah bersandar malah bisa membuat roboh.


***

Bogor, 24 Februari 2021

Nulis ini saja 1 jam. 20.00 - 20.04

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk