Skip to main content

Solitude is good, but I don't think you should get addicted to it

 



"If you wanna go fast, go alone. If you wanna go far, go together" kutipan dari twitnya Paulo Coelho.

***


Memasuki tahun ketiga tinggal sendirian di rumah ini belakangan membuat saya berpikir.. kenapa ini terasa nyaman sekali tapi juga tidak ada yang berprogres di sini. Seperti berada dalam zona stagnan yang sebetulnya ada yang berkembang jika diukur dari segi kuantitas, namun seolah tidak ada yang berkembang secara kualitas.


Misal, jika seseorang punya anak, setidaknya ada yang berkembang di sana; kecerdasan emosional si anak, kecerdasan intelektual si anak, kemampuan kognitif, dan lain-lain. Seiring berlalunya waktu, Ibu bisa mengantarkan anak tersebut ke tempat-tempat yang akan membuka cakrawalanya, menyiapkan dia menyambut dunia. Bagi si Ibu, mungkin tidak ada yang berkembang untuk dirinya, namun sejatinya dia tengah berinvestasi pada sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri dan itu kontribusinya boleh jadi bukan hanya untuk dia dan keluarga melainkan untuk bangsa dan agama.


Namun, jika seseorang itu terus menerus single dan menyendiri, walaupun dia tidak butuh pendamping karena bisa melakukan semuanya sendiri, tetap saja ada satu slot kosong yang seakan butuh untuk diisi. Kini, saya bisa mengakui, manusia memang tidak diciptakan untuk hidup sendirian. Kamu, kita, saya, butuh pendamping. Kita butuh orang lain untuk menyeimbangkan langkah, bertukar pikiran, dan berbagi beban. Sulit jika kamu terus menerus berdiam diri seperti ini, karena peluang seperti itu kecil kemungkinan untuk ditemukan secara daring sebagaimana yang kini sering kita lakukan.


Solusinya bisa jadi adalah dengan membuka peluang. Mendaftar ke sekolah umum, mengikuti kursus, atau apapun yang mendatangkan komunikasi intelektual secara fisik. Jika kamu tipe orang seperti saya, yang tidak peduli dengan tampilan fisik seseorang, maka yang kamu butuhkan adalah koneksi nyata dengan tatap muka. Karena pertemuan daring hanya akan mengarah pada prediksi tampilan luar, dan sulit menjangkau area-area terdalam seperti how conscious you are, do you believe in God, how do you think food should be eaten? 


Untuk itu, saya sangat menyarankan bagi siapapun yang kini tengah menunggu mereka yang tidak pasti, tolong.. plis.. jangan mau. Please for the love of God, tidak peduli seberapa besar cintamu pada dia, kalau dia hanya terus menerus berdalih untuk menunda waktumu, menunggu nya untuk selesai ini dan itu, lebih baik jangan. Mungkin bisa saja kamu menunggu, tapi tetap buka peluang bagi yang lain untuk bisa masuk dan bertamu. Siapa tahu.. only God knows.. siapa tahu yang bertamu itu justru sejatimu. Kalau kamu sudah dibuat menunggu terlalu lama, tanpa kunjung ada kepastian, boleh jadi di tengah jalan nanti salah satu dari kalian akan berubah pikiran. Kalau sudah begitu, siapa yang akan kamu salahkan? Kamu pasti terlalu sayang sama dia untuk menyalahkannya atas waktumu yang kepalang terbuang, jadi satu-satunya individu yang akan kamu salahkan adalah.. dirimu sendiri.


***

Saya tahu ini berat, saya paham karena saya pun sama. Baru kini saya sadar dan mengakui bahwa ya, pendamping itu penting. Kehadirannya penting dan jati dirinya penting. Tidak bisa kita terus dibuai oleh angan bahwa suatu saat nanti akan tiba, tanpa ada usaha yang berarti. Walaupun tiap orang akan berbeda dalam urusan ikhtiar, dan ikhtiar saya pun sampai sejauh ini hanya doa. Tapi itu tetap ikhtiar.


Tapi kita tidak boleh terjebak pada satu ikhtiar saja. Teruslah kreatif dalam mencari cara, agar bisa dipertemukan. Tahu tidak, salah satu teman yang saya kenal dalam kelompok minimalism sewaktu diskusi di Jakarta, bertemu pasangannya lewat telepon salah sambung! Ya, salah sambung!


Artinya itu memang bukan sesuatu yang bisa kamu rencanakan, ikhtiarmu mungkin ke Semarang, tapi dia justru datang dari Palembang (misal) bawa pempek. Kita tidak akan pernah tahu. Yang kita tahu adalah kesungguhan ikhtiar kita selaras dengan niat yang Sang Pemilik Semesta sukai, yaitu untuk beribadah padanya. Namun pertama-tama, terlebih dahulu kamu harus mau mengakui bahwa.. ya, kamu butuh pendamping, dan kehadirannya sangatlah penting.


***

Bogor, 1 Februari 2021

Hello, February! If that day happened, in five days, it should be our 5th wedding anniversary. wkwk. Masih aja diinget Mim. Tulisan ini ditulis karna semalem kemimpian lagi, lalu kulangsung ngecek semua barang yang tersisa apa masih ada pemberiannya, ternyata masih ada. Siap untuk didonasikan! First day of work after meeting yang persiapannya sebulan, otak rasanya macet but I managed to cross all of today's task list (so proud of myself). Duhai.. kurindu laut pake bangettttt,

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk