Skip to main content

Minimalisme sebagai Propoganda Barat

 


Reaksi normal yang dilakukan seseorang ketika menemukan ide yang klik dengan pemikirannya, atau pemahaman yang sejalan dengan jalan pikirannya, adalah langsung mengadopsi ide/paham tersebut sampai ke tulang sumsum. Ide itu mengalir di dalam darahnya, menyatu dalam ikatan hemoglobin, dihembuskan sebagai nafas kehidupan. Jika sudah begitu, aksi mempertanyakan keabsahan ide tersebut adalah haram alias pantang. 


Pikiran ini terlintas satu jam yang lalu, pukul sepuluh malam di ruang kamar yang saya biarkan menjadi kamar setrika. Sambil berdiri dengan mata setengah mengantuk namun hati rindu nyetrika, saya mendengar beberapa video. Dari bahasan tentang personality, bisnis, sampai ceramah agama. Baru di video ceramah agama itulah saya terpikir untuk mempertanyakan ide/paham yang selama empat tahun terakhir ini saya yakini; minimalisme. 


Minimalisme adalah sebuah paham di mana seseorang hanya hidup di masa sekarang. Mempertahankan barang-barang yang hanya dibutuhkan di masa sekarang. Minimalisme bukan gerakan anti kemapanan seperti kaum hippie di Pantai Selatan, melainkan sebuah gerakan gaya hidup yang berfokus pada tujuan. Tujuan ini hanya terbagi antara menikmati hidup di masa sekarang, karena detik menit inilah hidup sebenarnya yang kita punya, agar bisa menyiapkan masa depan dengan penuh makna. Kata kuncinya adalah present and future, tidak pernah ada masa lalu di dalamnya.


Ceramah agama yang saya dengar tadi, membahas tentang masuknya Islam di Nusantara. Dibawakan oleh Ustad Abdul Somad di depan Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia. Di dalamnya juga cukup dijelaskan bagaimana peran penting organisasi, termasuk organisasi mahasiswa Islam ini, terhadap perkembangan Islam di Nusantara. Sedikit banyak saya sudah pernah dengar juga ceramah serupa, bahkan mungkin bisa dibilang yang lebih komprehensif karena durasinya lebih panjang yaitu dari ceramah Ust Salim A Fillah yang memang mengambil bagian syiar dari aspek sejarah. Tapi ceramah UAS ini tetap saya dengar sampai habis, karena ya memang mendengarkan sejarah itu hal terasik untuk dilakukan sembari menyetrika.. sejarah Islam, sejarah nabi-nabi, apalagi sejarah tentang geneologi para Nabi, dan yang membuat sejarah menjadi sangat seksi ya tidak lain dan tidak bukan adalah karena dia terjadi di masa lalu.


UAS menjabarkan tentang Kapur Barus, tentang Ibnu Batuta, dan tentang Bupati di salah satu daerah di Sumatera yang masih menyimpan Al-Quran yang sangat tua, dibawa sejak jaman para sahabat --earlier or later--. Dari sinilah saya mulai tertegun. Rumah Bupati.. simpanan artefak.. 


Lantas ingatan saya melayang ke rumah-rumah keluarga di Gorontalo atau Manado. Rata-rata semua modelnya sama; penuh ornamen, hiasan dan peninggalan keluarga. 


Bagi saya yang seorang minimalist, tentu mustahil menyimpan benda-benda seperti itu di dalam rumah. Karena hanya menjadi pajangan dan mengumpulkan debu dan tidak bisa digunakan sampai kapanpun. Tapi saya bisa berpikiran demikian hanya karena memang saya tidak dibekali oleh benda atau ajimat apapun dari siapapun --Eyang bahkan tidak mempertimbangkan saya untuk menjadi penerima kerisnya karena saya jauh dari cukup umur--. Jelas bahwa memiliki benda-benda bersejarah tidak bisa dibuang begitu saja, tidak bisa didonasikan hanya karena kita tidak punya cukup ruang. Bagi Orang Melayu seperti kita, sejarah adalah pegangan, pengingat, penguat akan betapa hebatnya nenek moyang kita dulu.


Kita berbeda dengan Orang Barat yang bisa merasa superior tanpa butuh benda apapun yang mengingatkan mereka betapa hebatnya bangsa mereka. Kita ini Bangsa Melayu, yang pernah berjaya dengan kerajaan kita sendiri, tapi juga pernah dijajah selama ribuan tahun. Kita sudah terlalu lama dicekoki dengan pemikiran bahwa bangsa kita mereka lebih hebat, lebih cerdas, lebih berkuasa, dan sayangnya pemikiran itu diturunkan secara cuma-cuma dari generasi ke generasi sehingga menciptakan insecurity massal.


Untuk itu sejarawan datang, menguak kembali kehebatan kita di masa lalu. Baik itu sebagai Orang Melayu maupun sebagai Orang Islam, kita membutuhkan pengingat untuk sadar bahwa agama dan bangsa ini adalah yang terbaik. Sejarah menunjukkan itu semua dengan tulisan demi tulisan, buku-buku, artefak, catatan perjalanan, dan segala benda yang menyisakan jejak. 


Lantas, jika kita ikut larut dalam ide paham minimalisme ini, lalu bisa dengan tega membuang foto-foto kakek buyut karena beliau sudah tidak ada di sini lagi dan fotonya juga sudah kuning mengelupas, anak cucu kita mungkin tidak akan tahu seperti apa rupa pendahulunya. Boleh jadi dia adalah seorang Angkatan Laut nan rupawan yang bisa menjadi motivasi si anak untuk menjadi Angkatan Laut.


Hehe, saya tidak ingin menghakimi bahwa paham minimalisme ini adalah propoganda atau konspirasi apalah. Saya hanya ingin kita tidak terlalu terlarut dalam menerapkan suatu ide yang baru, apapun itu selama sumbernya bukan dari kitab pedoman. Walaupun tentu saja, minimalisme ada di dalam Al-Quran dalam bahasa zuhud, tapi ini bukan cuma soal bahasa yang berbeda, makna dan penerapannya juga sebetulnya berbeda walau konsep umumnya sama. 


Saya ingin mengingatkan untuk diri saya di masa depan, kalau suatu waktu nanti kamu menemukan lagi ide baru yang sangat seksi dan langsung kamu terapkan hanya karena sudah kamu pelajari di buku maupun video, tetap sisakan ruang untuk ragu. Ragu itu penting, karena dengan ragu kamu jadi bisa nyetrika satu jam biar bisa mikir melihat dari sudut yang berbeda, boleh jadi setelahnya kamu menjadi semakin yakin, atau justru meninggalkan ide tersebut dan menemukan yang lain yang lebih baik.


Biar bagaimanapun kita tetap harus berhati-hati dalam mengadopsi ideologi. Tetap harus ditelaah asalnya dari mana, dan bagaimana perkembangan yang kamu rasakan di dalam dirimu. Yang terpenting adalah seberapa nyaman kamu menerapkannya, karena sebagus apapun ide, semurni dan se-heroik apapun paham yang kamu pegang, jika itu menyengsarakan dirimu sendiri ya buat apa. Tidak ada hal baik yang datang dengan paksaan, begitupun soal pemahaman.

***

Lain kali jika kamu menemukan sesuatu yang bersifat peninggalan sejarah, walau itu tidak spark joy, jangan langsung membuangnya begitu saja. Sekarang, ajaran yang dulu sempat saya tulis berulang-ulang tentang jangan hidup di masa depan, menyimpan barang-barang yang mungkin akan terpakai, itu saya ralat sedikit. Boleh menyimpan sesuatu yang dimiliki oleh para pendahulu, foto Kakek buyut, atau apapun. Anak cucu kita mungkin akan ingin tahu, dan mungkin bagi mereka informasi itu teramat berharga karena membuat mereka memiliki keterikatan dengan masa lampau, masa yang tidak pernah mereka bayangkan bisa terjadi; tanpa internet, wifi, dan listrik. 


Jangan sampai kita terlalu terikut arus, pada sesuatu yang nampaknya cool  tapi sejatinya sedang berusaha menggerus jati diri. Membuat kita sibuk terpana dengan kehebatan orang lain, sampai lupa bahwa diri sendiri pun hebat bukan main, bahwa suku bangsa sendiri pun hebat bukan main.


Meski saya terbuat dari darah campuran. Jawa, Sunda, dan Sulawesi mengalir jadi satu di dalam darah saya, tapi saya menolak untuk menghilangkan salah satunya. Meski itu artinya, saya harus menjadi bahan pertanyaan calon mertua, kamu orang mana sih sebenernya, gak jelas, tapi sekarang saya paham. Jati diri kita yang sebenarnya adalah yang utama dan harus dipertahankan. Jika mereka tidak bisa terima itu, jangan gugurkan jati dirimu hanya demi bisa diterima. Karena karakter yang sudah terbentuk sejak lahir, akan terus ada di dalam sini, dia mungkin bisa kau bungkam, tapi dia tidak akan mati.


***

Bogor, 5 Februari 2021

Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal