Skip to main content

Mima's Specialty #1

 



If you don't see me active in twitter or this blog, that's because I'm writing. Yep. I am serious this time, doing the novel I always wanna do. 


Serius sekarang.

Beneran.


So let me put this one shallow post instead. Because I've been cooking way too many weird foods, goes unrecorded. I should start placing them in a way I could revisit, because some of my recipe notes, has gone from decluttering.


This one I call it; Tofu-Renzo.

(Please don't mind the chicken karage and imperfect cracker.. in my defence, karena musim hujan kan gabisa jemur kerupuk, jadinya ya begitu. Tapi walaupun agak bantet, semua tergoreng  merata dan tetap crunchy. Dan ayam karagenya agak gosong, karena ku memang suka yang gosong-gosong).


The Tofu-Renzo is a mix between Tofu and Horenzo.

Ini lebih seperti menu krisis identitas, karena bumbunya bumbu opor ayam, tapi isinya tahu, jadi mau dibuat sebagai opor tahu tapi pake sayur. Kenapa saya masukkan horenzo? Selain karena enak, juga supaya praktis jadi saya gak perlu nyayur lagi. Kalau kemarin hanya makan romaine lettuce kesukaan saya. Romaine lettuce memang sayuran terbaik yang renyah dan enak dimakan mentah. Berbeda dengan horenzo. Jadi saya masukkan saja ke dalam panci untuk direbus bersamaan dengan tahu.


Cara masaknya sederhana; 

Pertama-tama, goreng tahu, ayam karage dan kerupuk, lalu pisahkan.

Tumis bawang putih, bawang merah dan bawang merah secara berurutan, lalu campur dengan bumbu opor. Sebetulnya kalau mau jadi opor, ditambahi dengan santan, tapi saya tidak bisa mentoleransi asupan santan ataupun susu, jadi selama ini kalau masak masakan bersantan selalu diganti dengan fiber creme atau plain water. Kali ini saya pakai plain water. 

Setelah itu masukkan tomat, tunggu sampai shimmering tipis-tipis, baru masukkan horenzo, dan tahu yang sudah digoreng. Tujuannya tahu digoreng dulu supaya bentuknya tetap bagus dan tidak hancur saat direbus.


Ini bukan cara yang patut ditiru, tapi karena saya suka dengan masakan sendiri apapun bentuknya, segimanapun weirdnya, jadi inilah cara saya menikmati makan siang. I can't eat what normal people eat, so I might as well be the biggest fan of my own cooking.


Have a happy weekend, everyone!

Always provide your gut-microbiotas with a good environment!

***

Bogor, 13 Februari 2021. 01.34

Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal