Skip to main content

Mengeja Waktu

 



Pemuda tipu-tipu,

Sembunyi malu-malu

Rintik Februari masih sendu, 

Bawa alur memori masa lalu.


Dulu,

Sebutmu dulu,

Seragam putih abu-abu, 

Tawa riang tak tahu malu.

Coba jadi banyak hal baru

Tuk temukan siapa aku


***


Di sini, kita mengeja waktu. Terbawa arus yang terus berlalu, sedetik, semenit, tanpa jeda, tanpa ampun. Menyeret usia pada angka-angka yang dulu hanya angan. 

Ternyata sudah sejauh ini, bisikmu pada diri sendiri. Menyaksikan tontonan yang dulu kau tonton sambil lalu, bersama teman-teman yang berulang kali menguap. Tak paham apalah makna itu. Hanya disuruh Bapak Guru.

Kini, meski film itu tetap sama, pemahamanmu yang berbeda. Lapis demi lapis kian terkuak, membuatmu paham.. oh ini yang beliau ingin kami petik. Dulu, kau terlalu sibuk menunggu bel berbunyi. Menunggu waktu bertitah tuk pulang, berganti seragam, dan rebah di kasur malas. Kau terlalu mengantuk untuk mencari makna hidup, sebutmu usiamu belum genap tujuh belas. Nanti saja kalau sudah dua puluh lima tahun, bisikmu malas.

***

Ada gadis kecil di depan pagar. Berteriak memintamu membukakan pintu untuknya, agar dia bisa mengambil bola yang tidak sengaja terlempar jauh masuk ke halamanmu. Halaman yang kau biarkan kosong, tanpa tanaman apalagi hiasan. Kau ambil bola, kau lempar dengan senyum tipis. Gadis kecil mengangguk riang, berterima kasih, dan lari menjauh. Walau kau tahu, hanya selang waktu lima belas menit dia akan kembali berdiri di depan pagarmu. Pagar putih dari kayu.

***

Tiba waktu pukul delapan. Kini tidak lagi kau kejar pesawat, kereta, tidak lagi harus berkemas dan memilah. Kau punya semua yang pernah kau damba. Semua yang katamu ingin kau lakukan, tunai tuntas terlaksana. Orang boleh mengutuk pandemi, namun kau di sini berjaya diri. Pada akhirnya memenangkan apa yang selama ini hanya sekedar mimpi.

***


Di sini, kita mengeja waktu. Patah-patah menyusun rencana, meski kau tahu rencana tidak pernah bisa sempurna. Jauh dari nyata, namun katamu, setidaknya aku tahu hendak ke mana. Atau setidaknya, kau pikir kau tahu hendak ke mana.


Kita hidup di dunia yang terlalu fana. Tua, muda, tiada yang benar-benar tahu mereka hendak ke mana. Kecuali hanya segelintir mereka yang mampu membaca. Membaca gurat angkasa, pada yang tertera dalam pancaran sinar mata. 


Jadi kini kamu mengerti, bahwa hidup adalah tentang mencari arti. Di mana kan kau temui, tapi sudah simpan saja untuk dirimu sendiri. Kita semua terlalu sibuk hidup dalam bayangan masing-masing. Berita kian bebas, tentang semua hal yang dulu hanya tersembunyi dalam benak. Satu demi satu berita buruk pun kau baca. Menyisakan sayat luka pada teriak sang syuhada, yang disiksa sambil tertawa. Ada ketidak adilan yang dibiarkan, dan kau pun tahu tentang itu. Sedihmu bukan untuk mereka yang telah menyongsong surga, namun pada ketidakmampuanmu melakukan apa-apa.


Mulai hal kecil untuk Ibu Bumi, selama ini kau berteriak lantang dan tegas. Namun di sini, kita mengeja waktu, berdetik, bertahun telah berlalu. Hal kecil yang kau selalu sebut-sebut itu, tetaplah kecil tanpa arti. Kepalamu saja yang kian membesar. Merasa berjasa padahal hanya bualan semata.

Sedihmu, bukan untuk mereka yang telah menyongsong surga. Suami istri yang meninggal bersusulan, gagal dimakamkan berdampingan. Ku di liang yang satu, ku disebelahmu, lirik lagu yang syahdu kau putar sembari mengiring hujan. Tak ayal hanyalah bualan. Suami istri yang meninggal bersusulan, gagal dimakamkan berdampingan. 

***

Di sini, aku mengeja waktu. 

Mengerti tentang memiliki arti. Pada niatan mereka yang memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri, jenis hampa yang aku pahami. Bukan saja Tuhan jawaban untuk mereka, karena aku tahu, mereka tahu, Tuhan ada dan melihat, mendengar, menjawab yang mereka pinta. Aku tidak akan lagi menyeret Tuhan ke hadapan mereka yang ingin segera menemui-Nya. Karena jenis hampa yang mereka rasa, aku tahu arahnya ke mana.


Di sini, aku mengeja waktu.

Mengerti lisan yang tak pernah sempat terucap. Arti gelagat yang mereka perbuat. Rupanya begini rasanya menjadi dewasa. Ada halyang memang hanya bisa dipahami oleh mata, tersirat menjadi makna. Rupanya begini menjadi dewasa. Tidak semua hal bisa selesai dengan kosa kata.

***


Bogor, 2 Februari 2021

Habis nonton Dead Poets Society. (So basically, my personality is depending on what book I currently read, or what series I currently watch, or what movie I currently obsessed).  

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2