Skip to main content

Lesson Plan for The Children

 


Semua orang tentu sepakat bahwa ilmu dan pendidikan adalah hal paling fundamental dalam membentuk karakter bangsa. Dengan akses yang ada seperti sekarang ini, kita bisa memprediksi bahwa generasi mendatang adalah generasi cerdas bukan kepalang. Mereka tahu tentang banyak hal dengan mudahnya akses informasi yang bisa mengakomodir rasa keingintahuan mereka.


Kali ini saya akan membahas tentang rencana pembelajaran untuk anak dalam konteks Rumah Tangga. Bukan anak secara umum dalam metode pembelajaran umum, tapi rencana pembelajaran anak yang disusun oleh orang tua. Kenapa ini penting? Begini..


Saya akan mulai cerita ini dari titik awal yang sangat panjang; awal penciptaan manusia cerita Nabi Yusuf saat dia masih kecil. Baris cerita ini saya dengar nyaris setahun lalu, saat Bulan Ramadan. Saat itu Nouman Ali Khan yang membatalkan semua jadwal tour nya termasuk ke Indonesia, memutuskan untuk mengelaborasi secara mendalam tentang Surah Yusuf. Diawali dengan Nabi Yusuf kecil yang bercerita pada Ayahnya, Israil atau Nabi Yakub, tentang mimpi yang dia lihat semalam. Wahai ayah, aku melihat.. aku melihat Matahari, Bulan, dan sebelas Bintang bersujud padaku, kurang lebih demikian terjemahannya. 


Sang Ayah dengan bijak memilah kata, meminta agar Nabi Yusuf menyimpan saja mimpinya itu untuk dirinya sendiri, dan menyuruhnya agar yakin bahwa suatu hari nanti, Allah akan melengkapi nikmat-Nya kepadamu. Sang Ayah menyampaikannya dengan demikian lugas, lembut, namun berkenan di hati sang anak. Sehingga, puluhan tahun kemudian, pada setiap cobaan yang menimpa Nabi Yusuf; dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, difitnah melakukan zina, dijebloskan ke penjara, tidak sedikitpun mengurangi keyakinannya terhadap Allah. 


Padahal, kala itu beliau masih kecil beranjak remaja. Kita semua tahu bagaiman polah anak remaja yang mudah meledak emosinya bahkan tanpa cobaan yang menyesakkan. Sangat mungkin baginya untuk menyimpang, Allah hates me anyway, wajar kan jika beliau berpikiran demikian setelah semua cobaan yang menimpa, dan bukannya membaik malah dijebloskan ke penjara. Belum sampai di situ, setelah dia berbuat baik kepada orang, dan menitip pesan pada orang itu agar menyampaikan tentangnya pada Raja, berharap agar dia bisa segera bebas, orang itu malah mengkhianatinya. Dua kali. Beliau dikhianati dua kali.


Namun Nabi Yusuf, yang hanya sebentar merasakan kasih sayang seorang ayah, dan menghabiskan nyaris seluruh masa kecilnya tanpa ayah, tetap bisa tumbuh dewasa menjadi karakter yang lugas, tegas, punya visi yang jelas, dan teguh keyakinan. Dia bahkan tahu kapan harus menawar posisi pekerjaan dengan amat yakin, sesaat setelah dibebaskan dari penjara. 


Cerita ini menunjukkan betapa kuat pengaruh Ayah terhadap anaknya, sehingga kata-kata yang sederhana namun powerful bisa menjadi pegangan walau ayah-anak ini terpisah selama puluhan tahun.


Now, 

Fast forward to thousand years later, thousand miles from the place where the conversation started.


Saya membaca Surah Yunus ayat 81-92. Paragraf tersebut sebetulnya tengah bercerita. Sebagaimana halnya cerita, tentu seharusnya ada intonasi, ada pertanyaan, ada hentakan, ancaman, lalu datar karena beralih adegan, lalu ancaman, dan hadiah. 


Sayangnya, saya membaca dengan nada yang sama nyaris di semua bagian. Saya sama sekali tidak bisa menghayati apa yang sedang terjadi, walau sedikit sih bisa meraba berbekal ilmu Bahasa Arab waktu SMA walau saya sering tertidur di kelas, tapi tidak bisa paham keseluruhannya. Hanya di beberapa ayat saat ada kata-kata yang saya kenal, lalu saya paham ini ceritanya sedang apa, di situ baru saya bisa merasakan berada di dalam alur cerita, dan membaca sesuai nada bicara yang diceritakan. Seperti misal, ada kalimat tanya di situ, saya membacanya juga dengan seolah bertanya-mengancam. Setelah selesai dengan paragraf tersebut, membaca terjemahannya, dan saya terpukau dengan alur cerita yang tadi ditampilkan.


Bagian ini pernah dibawakan oleh Nouman Ali Khan dengan gaya story telling yang sangat menarik, sangat menggugah perasaan, dan mind blowing. Sayangnya, saya tidak bisa merasakan kedalaman makna seperti yang NAK coba ajari, simply karena saya tidak bisa Bahasa Arab.


Dari sinilah kemudian saya berkesimpulan, bahwa penting bagi setiap orang tua untuk mendesain sebuah Lesson Plan untuk anaknya. 


Lesson Plan dalam konteks ini adalah rencana pembelajaran berupa target-target secara umum. Sangat umum. Sebagaimana sebuah target, tentu harus ada visi yang orang tua inginkan untuk anaknya. Visi ini lagi-lagi harus di set se-general mungkin sehingga tidak akan membebani si anak dengan jalan spesifik yang harus dia pilih. Tidak begitu. Percayalah ini bukan tentang menyetir kehidupan si anak, bacanya pelan-pelan ya, jangan di skip. Saya pun termasuk orang yang menolak praktek-praktek menyetir anak, tapi orang tua yang cerdas dan bijak, tidak akan membiarkan anak begitu saja memilih pilihan sesuka hatinya. Karena kesukaan hati seorang anak penuh dengan bias dan nafsu sementara. Mereka masih mudah terpengaruh oleh lingkungan, media, dan bisikan orang.


Misalnya begini.

Sebutlah visi yang ditetapkan orang tua adalah untuk menjadikan anak ini seorang dengan kecerdasan ilmu dunia dan dibarengi dengan karakter ke-Islaman yang kuat. Untuk itu, targetnya adalah si anak ini harus mau belajar keduanya; ilmu dunia dan juga ilmu agama. Dalam hal ilmu agama, tentu tidak lengkap rasanya jika tidak mengajarkan dia Bahasa Arab, sebab itulah bahasa yang digunakan Al-Quran. Jika kita tidak mampu menghayati cerita dalam kitab karena tidak kenal bahasanya, sebisa mungkin jangan biarkan anak kita pun mengalami yang sama. Tapii.. tunggu dulu. Ini bukan berarti mengajarkan dia Bahasa Arab dari masih umur tiga tahun yang bicara saja masih patah-patah. Tidak begitu.


Nanti setelah terdefinisi, ilmu-ilmu dasar apa saja yang harus dikuasai si anak, misal; minimal Bahasa Arab dan Inggris, maka target pertama dan paling utama adalah membuat mereka senang dengan keduanya. Cara membuat anak senang ini kan ada banyak, dan yang paling mudah adalah dengan memberi contoh karena anak suka meniru, dan orang tua bagi mereka adalah manusia terhebat untuk ditiru. Jadi, kita bisa mulai dengan cara menyukai apa yang kita ingin anak kita sukai. Jika itu Bahasa Arab, ya kita mulai dari sekarang menyukai belajar Bahasa Arab, dan seterusnya. Nanti akan sangat tidak adil jika kita terus memaksa anak mempelajari apa yang dia tidak suka, hanya demi memenuhi ambisi kita dan kalimat seperti 'dulu mama ga bisa, kamu harus bisa!' menjadi pamungkas. 


Setelah ilmu dasar, maka selanjutnya adalah karakter dan mental. Ini yang paling peer. Saya juga baru belajar dari teori saja waktu kuliah ambil jurusan minor, tapi saya yakin setiap orang tua pasti tahu cara membentuk karakter anaknya masing-masing. Karena mereka adalah cerminan dari kita. Yang paling penting justru bukan caranya, tapi kemananya. Karakter seperti apa yang ingin ditanamkan. Jika itu mental pembelajar, tanamkan untuk suka baca buku. Contohkan dengan selalu membaca buku. Jika itu mental berbuat baik, tanamkan untuk selalu berbagi. Contohkan dengan selalu mengajaknya bersedekah. 


Saya selalu melihat parenting sebagai satu hal yang kompleks dan menyenangkan. Imbang antara tidak perlu terlalu dipikirkan tapi juga jangan terlalu dibiarkan. Yang namanya menjaga keseimbangan, selalu butuh tenaga dan pikiran super ekstra hati-hati, dan ribuan kali helaan napas dalam sehari. Menjaga tenang dari dalam diri sendiri bsa sangat membantu proses ini. 

Bisa jadi.


Sebetulnya saya tidak sedang dalam posisi yang tepat untuk menulis tentang ini, tapi ini semata-mata hanya untuk pengingat bagi diri sendiri di masa depan nanti. Jika kelak diberi kesempatan oleh-Nya untuk menumbuhkan satu-dua atau lebih jiwa-jiwa kecil. Ditambah lagi pelajaran tentang father and son dari Nouman Ali Khan ini terlalu penting untuk dilewatkan begitu saja. Mudah-mudahan siapapun yang sedang mampir, tidak melihat ini sebagai pendapat saya pribadi. Melainkan kumpulan dari buah pikir para pemikir hebat, yang saya rangkumkan di sini.


Parenting memang adalah ketakutan terbesar saya saat mulai memasuki usia muda-dewasa. Saat kemungkinan untuk menikah itu datang, yang saya takutkan bukan tentang menghabiskan hidup dengan satu orang yang sama selamanya, tapi lebih ke kesiapan saya menjadi orang tua. Alasannya panjang jika dijabarkan, namun saya punya alasan yang sangat kuat untuk takut. Makanya, setiap kali menemukan hal baru tentang ilmu ini, saya langsung ingin merekamnya dengan sedetil mungkin.


Mudah-mudahan apa yang saya tulis ini memberi manfaat pada yang menyempatkan untuk mampir. Mudah-mudahan dari rahim kalian lahir generasi yang akan menebarkan kebaikan yang selama ini disembunyikan dari Islam. Menampilkan wajah-wajah baru yang selalu berseri, cerdas dalam keilmuan, lembut dalam berinteraksi, namun tegas dalam keyakinan. Mudah-mudahan kalian pun dikaruniai pasangan yang mau bersama-sama menyusun rencana pembelajaran seperti ini, atau kurikulum kalau bahasa guru-guru mah, mau bersama-sama mengamati si kecil untuk mendapatkan metode pembelajaran terbaik untuknya. Karena biar bagaimanapun, urusan ini adalah urusan dua pasang tangan. Sebagaimana Ibrahim, bapak para nabi, atau Yaqub bapak Bani Israil, yang mencontohkan pentingnya peran ayah dalam membentuk karakter anak-anaknya.


Karena anak butuh memori masa kecil saat ia duduk berdua dengan ayahnya, membuka buku, menjelajah waktu, menuangkan dunia dalam carikan kertas, dan membuat segala hal jadi mungkin sejak dalam pikiran. Bukan memori menunggu-nunggu kepulangan sang ayah, sampai ia tertidur lelap, dan bangun mendapati ayahnya sudah pergi lagi.


***

Bogor, 7 Februari 2021. 09.30 PM.

Scarcity creates scarcity. Lagi-lagi saya teringat kalimat dari buku yang saya baca berbulan lalu. Kelangkaan akan menciptakan kelangkaan baru. Tapi kali ini, saya menemukan benang merah antara kondisi scarcity dengan musyrikin

Bagaimana jika ternyata, scarcity terjadi karena seseorang terlalu fokus mendamba apa yang dia tidak punya. Sehingga isi kepalanya dipenuhi dengan satu hal yang kurang itu, dan dia lakukan segalanya untuk bisa mendapatkan hal tersebut. Apapun dia lakukan demi si lubang kosong yang menganga ini. Padahal, segala bentuk mendamba yang berlebihan, hingga rela melakukan apa saja demi dia, adalah bentuk menduakan Tuhan. Menduakan Tuhan artinya punya Tuhan lain selain Allah. Dan satu-satunya jalan keluar hanyalah dengan berhenti menuhankan lubang kosong menganga itu, dan berfokus pada satu-satunya entitas yang patut diutamakan, disembah, dan dijadikan alasan melakukan hal-hal besar maupun kecil.

Pantas saja salah satu solusi di buku Scarcity agar bisa keluar dari scarcity adalah dengan bersyukur. Karena dengan bersyukur, hati sudah kembali terfokus pada satu-satunya Tuhan yang ada, dan berhenti mendewakan apa yang sedang ia inginkan.


Haha.

Am I being too weird, and too complex? I can be that difficult sometimes. 

Whoever you are, good luck marrying me. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal