Skip to main content

Kemana perginya sang waktu?

 



Seberapa sering kita berdiri di pintu yang sama, menatap dinding yang sama, tanpa terasa lima tahun sudah lewat sejak pertama kali kita menginjakkan kaki di tempat itu?

Seberapa sering kita terbangun di pagi hari, mengerjakan satu-dua rutinitas, dan ternyata matahari sudah hendak terbenam?


Kita bahkan baru sadar bahwa satu tahun nyaris tidak memiliki arti apa-apa ketika ingat mimpi-mimpi dan keinginan yang tak jua tertunaikan. Semua hanya sebatas angan yang diamini dengan dalih ga ada waktu. 


Kemana sejatinya sang waktu berlalu?

***


"Ih aku ya, Mbak, kalau suamiku lagi ga ada suka bingung mau ngapain. Kalau lagi sendirian di rumah gitu, pusing."

"Untung ada Vinka ya, Mbak" jawabku sambil mengelus punggung putri kecil yang sedang sibuk mengeluarkan semua cat air yang dia punya.

"Hehe, iya untung ada Vinka. Mbak Hilma kok bisa betah gitu sendirian" 

Saya menjawab dengan jujur, bahwa sejak masih remaja saya memang lebih suka menyendiri kalau di rumah. Beda dengan di sekolah, yang selalu kemana-mana dengan teman, bikin geng, bikin nama geng, tampil di panggung, jadi MC atau pidato, tapi begitu tiba di rumah, yang saya inginkan hanya hening dan berpikir dengan diri sendiri. 

"Baca buku, nonton, ngulik dapur, banyak Mbak yang aku bikin di rumah tu kalau lagi ga kerja. Ya memang sebagian besar waktu habis buat kerja sih, tapi kalau lagi ga kerja banyak banget yang pingin aku selesaikan. Itupun belum semua sebenernya"

"Ih enak ya, jadi kamu.. Hihi.."

Mbak tetangga depan rumah, usianya hanya lebih tua dua tahun di atas saya. Menikah dengan seseorang yang usianya berbeda jauh dengannya, dikaruniai seorang putri, dan rumahnya yang paling 'menonjol' di blok ini. Mbak yang selalu berbagi makanan yang dia masak sendiri.

Sebutnya dia kagum pada saya yang jarang keluar rumah, padahal dulu tidak pernah di rumah, namun tidak pernah terlihat mengeluh, dan selalu senyam-senyum setiap kali bertemu.


Obrolan sore tadi sedikit banyak mengingatkan saya, bahwa ternyata sudah nyaris setahun rutinitas pandemi ini berlangsung. Tidak keluar rumah kecuali sangat perlu, cooking and everything, dan ternyata satu tahun pun tidak cukup untuk saya bisa melakukan apa yang saya mau lakukan. Yaa walau ada juga yang berhasil terpenuhi, seperti launching baby juice, cut my hair (yang ini takut banget dari dulu tapi baru sekarang memberanikan diri dengan tagline 'screw it! I'm doing it anyway!!') mengevaluasi seluruh benda di rumah, dan mulai menulis dengan sangat-super-ekstra-legend-serius. Tapi itu semua hanya sekitar empat puluh persen dari hal-hal yang sebetulnya ingin saya lakukan. Setahun berlalu, sisanya hanya masih sebatas rencana.


Kemana perginya sang waktu jika dia telah berlalu?

Tahu-tahu, kita sudah berdiri di persimpangan. Antara meneruskan jalan yang lurus tapi tidak akan ada apa-apa di sana, atau mencoba belok kanan ke hutan tapi tidak pasti apa yang akan kita temukan di sana. 


Sebuah pekerjaan ditunda hingga berhari-hari, dengan dalih mikirin konsep dan alur nya, ternyata saat dikerjakan, hanya butuh 90 menit hingga dia selesai. Dengan permainan di ponsel yang menyertakan tujuan serta jumlah poin sebagai target yang harus dikumpulkan, 140 menit bisa lewat begitu saja. Kenapa waktu begitu tidak adil? Berputar cepat tidak terasa saat sedang asyik, namun lambat seperti berhenti saat sedang sedih.


Jika waktu berlalu, apa yang kita sisakan dalam arusnya?

Karena dalam arus itu terdapat sel tubuh yang luruh, sel yang menua, aliran darah yang terus terpompa, dan tahu-tahu kita sudah.. tua. Sudah tidak lagi kuat mengangkat beban, mempersingkat durasi plank, rupa-rupa perubahan fisik mulai kita rasakan. Waktu terus berjalan, tanpa pernah mau menunggu, apakah kita siap menjadi tua. Apakah kita sudah pantas disebut sebagai orang tua. Atau apakah kita mampu membimbing seseorang yang menganggap kita sebagai panutan hanya karena kita jauh lebih tua.


Usia bisa sangat menipu. Kita pikir kita tahu tentang hidup dan kehidupan, kita pikir kita bijak dalam mengambil keputusan, tapi ternyata kita tak lain hanyalah bualan belaka. Terlebih jika kita masih berbangga diri bersikap seperti anak remaja padahal usia sudah menginjak kepala empat hanya demi disebut gaul dan asik. 


Percuma menjadi tua, jika kita berhenti belajar sesaat setelah mencapai semua yang kita cita-citakan; karir, suami/istri, anak, rumah, mobil, seolah dunia sudah menjadi shelter yang sangat nyaman sehingga tidak perlu lagi merusak suasana itu dengan harus baca buku tiap pagi, dengar podcast tiap saat, baca berita di ponsel, karena kita lebih memilih untuk menikmati hidup dengan baca gosip artis, scroll instagram gaya hidup mewah, nonton video tidak faedah, dan berangkat kerja, kerja seadanya, lalu pulang untuk kembali pada rutinitas hiburan yang sama.


Jika itu yang kita lakukan, saat sang waktu pergi, apa yang terbawa dari kita?

***

Berhati-hatilah sebab waktu bisa menjadi sangat kejam. Ya, dia penyembuh ulung, tapi dia jugalah yang bisa menorehkan luka paling dalam jika kita terlambat mengaturnya.


Minimalist selalu ingin memastikan bahwa setiap waktu yang berlalu akan pergi membawa hal-hal penuh makna dari dirinya. Tentu saja itu tidak mudah karena godaan berserakan di mana-mana. Resikonya bisa jadi seperti ini; kamu tidak tahu siapa itu Rachel Vennya, karna isi feed instagrammu hanya hedgehog yang berkaitan dengan minat dan hobi mu saja seperti design-design minimalism. Atau kamu tidak lagi diundang ke grup gosip, karena daging bangkai sudah bukan lagi jadi makanan favoritmu. Jumlah teman yang tersisa untukmu hanya sedikit sekali, itupun teman lama yang sudah teruji oleh waktu, dan kalian pun jarang sekali bertemu.


Tapi, kalau seseorang punya visi, hal-hal seperti itu sudah bukan lagi jadi soal. Dengan sendirinya lingkaran sosial akan tersaring, mengeliminasi semua orang yang baik hanya karena ingin dibalas dan dipuji, mengeliminasi si pembisik jahat yang selalu tega mengabari kabar buruk tentang omongan di belakang, dan semua orang-orang temporary.


Karena yang terpenting adalah menjaga waktu agar tidak berlalu dengan percuma, tanpa membawa bekal yang berarti untuk bisa digunakan di hari esok. Yang dengan sendirinya akan menjaga relasi, agar tidak membawa terlalu banyak beban dari orang-orang yang tidak menularkan kebaikan sedikitpun untuk bekal hari esok. Semua orang nampaknya sepakat bahwa waktu adalah harta yang paling berharga yang kita punya, namun sepertinya tidak semua orang berminat memperlakukannya dengan istimewa, hingga mereka bisa dengan tega membuat orang lain menunggu pada pertemuan yang sudah disepakati bersama.


Misalkan jika sang waktu ternyata pergi menemui Sang Pemilik Waktu. 

Dan dia menceritakan semua tentang bagaimana kita menghabiskannya,

Apakah kita akan bangga, atau akan malu saat nanti bertemu dengan Sang Pemilik Waktu?

Kita ini hanya sedang menunggu antrian untuk melapor pada-Nya suatu saat nanti, dan waktu adalah satu-satunya yang kita punya sembari mengantri. Kemana kita habiskan dia jika pikiran kita hanya terus menerus tentang dunia?

***

Bogor, 6 Februari 2021

Saya bersyukur untuk hal-hal yang membuat hidup tidak nyaman. Karena dengan begitu saya bisa merindukan Negeri Akhirat. Barusan baca di Surah Yunus, ternyata ada orang-orang yang dibuat lupa dengan kesenangan dunia sampai-sampai berpikir bahwa hidup hanya di sini saja. 

Mungkin itulah kenapa orang-orang yang meninggal karena sakit, dikatakan pada mereka bahwa sakit mereka adalah pembersih dosa. Mungkin, saat sedang berjuang melawan rasa sakit itu, mereka jadi tahu bahwa dunia tidak pantas dihuni selamanya, karena ada rasa sakit yang terus merongrong. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk