Skip to main content

Joining Clubhouse

 


Ternyata begini cara-Nya tidak membiarkan saya sendirian. Selepas pelatihan yang ternyata tidak happy ending, saya tetap dikasih akhir hari yang happy ending. Saya semakin percaya bahwa sebaik-baik perlindungan yang bisa manusia upayakan, adalah dengan menggunakan dzikir pagi-petang. Kenapa efeknya dahsyat? Karena prakteknya susah. Susah bukan main harus duduk baca dzikir yang sepanjang itu di pagi hari saat mata masih sepet, dan sore hari saat kerjaan seperti memburu.


Saya juga baru mempraktekkannya, itu pun masih suka bolong. Namun jadi berasa ketika bolong, selalu ada saja yang bikin sakit hati, dan saya menutup hari sambil menangis. Beda dengan kalau mempraktekkan dzikir alias remindernya, setiap kali ada yang bikin sedih, pasti ada saja.. ada saja yang membuat bahagia dan bikin lupa sama yang bikin sakit hati tadi.


"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan sesuatu yang diciptakan-Nya"

Doa ini hanya ada di dzikir petang. Seolah menjadi pelengkap dan penyeimbang dzikir pagi, bahwa perlindungan kita telah disempurnakan jika dua ini telah ditunaikan. Lalu besok.. diulangi lagi, dan lagi, dan lagi. Terus begitu hingga akhir hayat.


Tadi sewaktu ada perlakuan yang sangat menyinggung, saya membatin dalam hati.. sedikit menangis juga sih.. kan tadi pagi dzikir ya, kenapa ada yang bikin sakit hati.. Lalu saya buru-buru mohon ampun. Sambil terus menerus berusaha menetralkan hati, menenangkan pikiran, karena perjalanan pelatihan masih panjang.


Sorenya, selepas pelatihan selesai, entah dapat ide darimana, saya memutuskan untuk join clubhouse yang sudah lumayan lama diperbincangkan di twitter. Biasanya ya saya memang tidak pernah peduli dengan apapun yang terlalu hype. Path, tiktok, you name it.. saya tidak pernah pakai keduanya. Tapi sore tadi begitu saja saya mendaftar, lalu ternyata harus menunggu ada yang 'mengantar' dan tanpa diminta sahabat saya, Hera, mengeluarkan saya dari waiting room dan bergabung di keramaian dunia maya.


Satu dua hal berhasil bikin ngakak malam ini, disambut dengan riuh ramai canda teman-teman tentang aplikasi ini baik di pesan instagram maupun twitter. Menertawai banyak hal, termasuk keluguan kami mencoba menu-menu dalam aplikasi ini.


Ditambah lagi, sahabat saya tadi ngajak telponan, dengan tingkah polah anaknya yang lucu nan menggemaskan. Sore jadi sangat berwarna, sembari bapak-bapak komplek berusaha mencari cara untuk menyambungkan listrik lampu jalan ke rumah saya. (Rupanya mereka gagal karena rumah saya tertutup amat rapi dari kanopi sampai plafon, jadi rumah tetangga yang jadi korban menyumbangkan listrik demi lampu jalan.. duh, haha.. nanti gw ikut patungan deh, B15.. feeling guilty jadinya).


Baru kemudian saya sadar, itulah cara-Nya mengirimkan bala tentaranya untuk mengusir rasa sedih saya. Walaupun Dia tahu saya sudah punya cara sendiri untuk mengusir sedih dengan memanggang pie susu, tapi hadiah-hadiah-Nya jauh lebih hebat dari itu. 

***


Sekarang saya mau berbicara tentang guru. Karena dari obrolan di clubhouse tadi, banyak sekali yang tampak seperti 'guru', memberi nasehat, motivasi, pada mereka yang bertanya. Usut punya usut, mereka itu adalah golongan kaum privillege yang sejak usia 21 tahun sudah bisa membeli franchise, berbekal apalagi kalau bukan uang papah. Tapi saya terus mendengarkan, tanpa menghakimi, karena saya tahu walau perjuangan mereka nampaknya lebih mudah, bukan berarti perjalanan mereka memang mudah. 


Sejak dulu, saya selalu mengagumi orang-orang yang mau jadi guru. Waktu masih umur sepuluh tahun pun cita-cita saya sebenarnya ingin jadi guru. Namun, walau Allah kasih saya kemampuan untuk cepat menyerap pelajaran dan senang belajar, Dia kasih juga saya kelemahan akan ketidakmampuan berkomitmen dan mengerjakan sesuatu yang berulang secara terus menerus. Jangankan sejak usia belasan, sampai tahun lalu pun saya masih belum bisa. Satu-satunya komitmen yang bisa saya jaga, baru dipelajari per empat tahun lalu dalam wujud blog ini. Blog terlama yang saya miliki. Baru di umur sekarang ini lah saya bisa menikmati rasanya rutinitas, menjaganya, dan terus menerapkannya. Termasuk dzikir pagi-petang yang mudah-mudahan istiqomah (walau masih belum janji).


Waktu SMA, ada seorang guru yang sedang cuti, beliau sedang menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Bandung.. bukan main-main, tapi di ITB. Bayangkan.. lulusan doktoral ITB, dan kembali untuk mengabdi jadi guru fisika di SMA yang dikelilingi sawah! Dengan otak gemilang seperti itu beliau bisa dapat pekerjaan yang jauh lebih layak dengan gaji yang 250 juta jauh lebih besar. Tapi.. keputusannya itu membuat anak-anak yang malas belajar, anak-anak yang suka seenaknya sendiri, menjadi gemar dengan Fisika. Membuat mata pelajaran paling menakutkan itu menjadi yang paling ditunggu karena suara lembutnya, dan cara praktisnya dalam menenangkan. Semoga Allah berkahi umur Bu Yana dalam keberkahan, amin.


Lalu siang tadi juga saya menemukan postingan facebook dari seorang teman dari klub debat waktu SMA. Dia menulis tentang ayahnya, dan segala pelajaran hidup yang dia peroleh dari sang ayah yang hari ini dianugerahi gelar Guru Besar. Inti postingannya itu adalah betapa ia bersyukur terlahir dari seorang ayah yang cerdas, bijaksana, namun juga humoris walau cringe, yang mengajarkan dia nilai-nilai hidup dan cara memilih prioritas.


Dari semua itu saya berkesimpulan, bahwa yang menjadikan seseorang itu menjadi guru bukanlah titel atau profesinya. Dia bisa saja menjadi seorang pengajar, trainer misal, atau apapun yang menularkan ilmu-ilmu melalui platform manapun, tapi tanpa attitude seorang pengajar, status guru nya hanya sebatas status belaka.


Makanya saya semakin yakin, bahwa profesi apapun, jika diseriusi dan dikomitmeni, dikonsisteni, pasti akan berbuah menjadi besar dan signifikan. Asal tidak melulu stay small. Seperti dosen pengajar yang mungkin tidak signifikan, namun jika diseriusi, suatu saat bisa jadi guru besar, dan guru besar tentu punya dampak besar.


***

Joining clubhouse hari ini setelah mengakhiri sesi pelatihan adalah keputusan terbaik karena saya seringkali melakukan pemrosesan ulang (re-processing) event pelatihan yang kadang berakhir dengan sesak. Tapi dengan adanya ini, dan topik-topik yang dibahas pun saya pilih seputar membangun bisnis, skill dan kemungkinan lain.. setidaknya menumbuhkan sedikit harapan. You can always change your life when you want to.. cuma tinggal pintunya udah mau terbuka atau belum. Kalau belum, ya.. tetap harus kreatif-kreatif mencari cara. Kalau cara yang sama tetap bebal, cari cara lain. Kalau biasanya tidak pernah ikut-ikutan yang hype, ya coba patahkan itu.


I dont trust feeling, but I trust patterns. Dan untuk memulai sesuatu yang baru, biasanya harus dimulai dengan memutus pola yang lama.

***


Bogor, 18 Februari 2021

Mungkin salah satu alasan kenapa rejeki kita seret, adalah karena kita punya attitude buruk terhadap sesama manusia. Mungkin hubungan dengan Tuhan baik-baik saja, tapi ke manusia suka ngegampangin, tidak mau mendengarkan, maunya ikut aturan main sendiri, tidak mengindahkan omongan orang.. yang artinya.. sombong. Sombong itu bukan cocky. Sombong itu menolak kebenaran, dan merasa paling benar sendiri. Dan tidak akan masuk surga orang yang ada sombong di hatinya walau setitik.

Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal