Skip to main content

Growth

 


Hari ini tiba-tiba saya paham kenapa perceraian bisa terjadi. Pikiran ini datang begitu saja tanpa ada pemicu apa-apa padahal hari masih pagi, saya bahkan belum menyeduh kopi, dan belum rampung menyapu lantai. Sembari membuka pintu besi, mengeluarkan debu-debu kecil dari dalam rumah, saat itu jugalah tiba-tiba saya mengerti motivasi dari dua insan yang memutuskan bercerai.


Kuncinya adalah growth yang tidak seimbang. Apapun di muka Bumi ini --atau bahkan di seluruh alam semesta-- jika tidak seimbang pasti akan menimbulkan kekacauan. Pertumbuhan yang tidak imbang di antara suami dan istri bisa membuat salah satu jengah dan tidak tahan bukan kepalang. Karena growth pasti terjadi, kita pasti selalu berubah seiring bertambahnya usia, pengalaman, dan rasa sakit hati. Pain is the real cause of growth. Boleh jadi dirimu pun begitu, kamu yang sekarang pasti berbeda dengan kamu lima tahun yang lalu. Kalau dulu mungkin selera fashionmu penuh renda, sekarang selalu polos tanpa motif. 


Saat seseorang mengalami evolusi pikiran --saya terjemahkan saja growth sebagai evolusi pikiran ya-- dia cenderung akan meninggalkan hal-hal yang merepresentasikan kehidupan lamanya. Orang yang tadinya suka main judi, lalu hatinya disentuh oleh hidayah dan hijrah menjadi muslim taat, pasti akan jijik dengan kegiatan berjudi dan tidak mau lagi ada di dalam radius area perjudian. Evolusi pikiran membuat seseorang 'berpindah' tempat, dan menjadikan 'tempat' lamanya sebagai tempat gelap dan tidak elok untuk dikenang, apalagi dikunjungi lagi.


Tapi ini tidak hanya terjadi pada pasangan menikah. Ini terjadi di hampir semua hubungan sosial manusia. Teman sekolah, teman kantor, bahkan pada orang yang dulu kita anggap sebagai mentor pun kalau dia tidak mampu menyeimbangkan laju pikiran kita berevolusi bisa membuat kita jengah dan berhenti menjadi mentee nya. 


Evolusi pikiran menempatkan seseorang pada sudut pandang baru yang memukau dan jangkauannya lebih luas. Menjadikan seseorang itu tidak hanya lebih cerdas, tapi juga memahami hal-hal yang hanya bisa dimengerti dalam hati, the unspoken truth sebagaimana norma yang disepakati bersama tanpa ada tandatangan persetujuan. Kesadaran yang kita punya saat masih kuliah, tentu berbeda dengan kesadaran kita saat masih SMA. Jika waktu SMA ada hal-hal yang kita anggap paling benar, boleh jadi ternyata kita malah memandang sebaliknya saat pikiran telah mengalami evolusi.


Makanya jangan pernah main-main dengan pikiran. Area itu berbahaya. Kuatkan dulu pondasinya, baru bertualang. Kalau tersesat di sana, tidak ada tim SAR yang bisa datang menjemput.


Misalnya lagi kalau dulu hal paling penting dalam hidup ini adalah punya pasangan, jatuh cinta, dicintai, dan hidup penuh cinta, bisa jadi setelah mengalami evolusi pikiran hal terpenting dalam hidup ini adalah diri sendiri, kenyamanan hati, dan mempersiapkan hubungan jangka panjang yang tidak melulu soal cinta. Ada pergeseran yang memang membuat tidak nyaman ketika seseorang mengalami evolusi pikiran. Maka jika itu terjadi pada pasangan menikah, efeknya jadi lebih buruk karena mereka tinggal di bawah atap yang sama. Berbeda dengan mentor-mentee tadi, jika salah satu sudah mulai merasa jengah dengan yang lain karena tidak bertumbuh dan selalu mengulang-ngulang lelucon yang sama, maka salah satu bisa dengan mudah meninggalkan yang lain seperti ditinggalin tengah malam dan dikunci dari luar sembari meninggalkan pesan via whatsapp. Proses tinggal meninggalkan ini disebut cerai bagi mereka yang tinggal di bawah atap yang sama, sedangkan bagi yang tinggal di bawah langit yang sama disebut dengan move on. 


Lalu bagaimana caranya agar bisa memiliki laju growth yang seimbang?

Simple Kuncinya adalah sering-sering komunikasi. Kalau yang satu suka baca buku tapi yang lain tidak, tetap usahakan untuk memberi nutrisi pada otak dengan cara-cara yang disukai. Ketidakseimbangan terjadi ketika yang satu getol baca buku, sedang yang lain hanya sibuk menonton hiburan. Saya tidak berada dalam posisi yang tepat untuk memberi nasihat tentang menjaga hubungan, bahkan terakhir kali ada orang yang curhat tentang pernikahannya saya beri dia saran untuk bercerai lalu kemudian mereka bercerai dan saya jadi ngeri sendiri, jadi saya tidak akan panjang lebar mengurusi soal ini.


Intinya adalah kita sendiri yang tahu seberapa pesat kita berkembang --secara pikiran dan bukan bentuk badan-- jadi pastikan pasangan kita pun mengalami hal yang serupa walau berbeda cara. Kuasai cara komunikasi yang menyenangkan, walaupun itu agak sedikit fake buatmu tapi tidak apa-apa, demi keberlanjutan hubungan kalian sedikit fake tak masalah. Sedikit effort switching tab demi menyisipkan sebuah emoji basa basi saat sedang bertanya memastikan tanpa membuatnya merasa digurui, itu penting. Mending effort switching tab daripada effort bolak balik ke pengadilan agama dan duduk di depan juri. 

***


Malam ini saya menemukan lagi satu fakta yang saya pun takjub sendiri. Dimulai dari makan malam yang tidak lazim, biasanya saya tidak makan malam dan tidak lapar juga tapi karena hari ini baru makan roti gandum pakai telor dan romaine lettuce dan dua minggu ke depan saya harus fit, jadi saya paksakan order go food.


Seperti biasa sebelum makan saya selalu berdoa mencari film. Scrolling hotstar tidak ketemu, scrolling di situs film gratisan juga tidak ketemu akhirnya saya buka youtube. Di video paling pertama adalah live tabligh akbar menampilkan Ustad Abdul Somad. Saya klik saja tanpa ada ekspektasi apa-apa, buat nemenin makan, se simple itu.

Dua puluh lima menit berlalu, sampailah pada satu pertanyaan tentang cara meredakan sedih akibat ditinggal orang tua yang meninggal dan dimakakamkan dengan protokol covid, serta menghilangkan ketakutan dari omongan tetangga. Beginilah jawaban UAS yang membuat saya terpukau;

Rasa sedih adalah karena masa lalu. Rasa takut adalah karena masa depan. Orang yang dikehendaki kebaikan atasnya, akan dihilangkan oleh Allah (lalu beliau mengutip ayat Al-Quran) '..dan dia tidak merasa takut juga tidak merasa sedih..' dicabut rasa takut dan rasa sedihnya itu. 


Itulah minimalisme. Hidup untuk masa sekarang. Walaupun minimalisme dalam konsep Islam dikenal dengan istilah zuhud, tapi beda konsep antara zuhud dengan living in the present. Minimalism, stoicism, you name it.. pun mengutamakan hidup untuk masa sekarang agar memperoleh kebahagiaan. Dan itu sudah Allah katakan jauh sejak Al-Quran diturunkan, bahwa jika Dia kehendaki seseorang itu dengan kebaikan yang artinya akan diberi kebahagiaan, maka Allah cabut rasa sedih (masa lalu) dan rasa takut (masa depan) dari dirinya. Cuma ya kita tetap butuh istilah untuk melabeli diri kita, jadi tidak apa-apa mau tetap pakai istilah minimalist juga, walau kebarat-baratan, tapi kan kita tidak perlu anti juga sama mereka, toh yang berbahaya adalah ideologinya bukan orangnya. Kalau orangnya kan ciptaan Tuhan juga. 


Kita bisa tetap pakai istilah yang sama, I am a minimalist, tapi niat di dalam hati harus diperbaiki dan ini cukup antara Tuhan dengan kamu saja. Mengatur ulang niat menjalankan gaya hidup ini, dasarnya karena apa, tujuannya untuk siapa, itu yang perlu dievaluasi terus menerus. Di situlah evolusi pikiran terjadi. Jika kamu memang berniat untuk selalu memperbaiki diri, ilmu akan datang menghampiri bahkan dengan cara paling acak sekalipun. Selama kamu terus membuka hati terhadap kemungkinan-kemungkinan lain, ilmu yang datang bisa dengan mudah kamu terima dan pahami.

Semua orang bisa mendengarkan ceramah yang sama, namun level resapannya beda-beda. Maka bersyukurlah jika kamu merasa tersirami dengan baik dan menghujam hingga ke dalam, mudah-mudahan itu tandanya kebaikan sedang menyertaimu.


Saya juga tidak pernah menyangka bisa makan malam nonton ceramah. Dulu, dengar suaranya UAS saja saya kurang suka.. bahkan setelah mau dengar ceramah NAK pun saya tetap kurang suka dengan UAS yang bersuara lantang. Baru sekarang-sekarang saja mulai terbuka dan hati bisa menerima, ternyata indah luar biasa rasanya jika diberikan kelapangan untuk menerima hal baru bahkan dari orang yang pernah kita kurang sukai sekalipun.


Manusia seharusnya bersyukur karena dibekali akal yang mampu berevolusi. Syukurnya itu perlu ditunjukkan dengan terus menerus berevolusi, bukan malah berbangga diri karena bisa stay the same untuk waktu yang sangat lama, menertawai kebodohan yang sama berulang-ulang sampai sudah tidak lucu lagi.

Syukurnya cuma manusia yang bisa mengevolusi pikirannya. Bayangkan kalau nyamuk yang berevolusi pikiran, lalu mereka menemukan cara untuk bisa menyedot darah manusia secara virtual dan tidak terlihat.. bisa pucat pasi kita bangun tidur oleh sedotan nyamuk tak kasat mata.

***


Akal dan pikiran boleh berkembang. Tapi harus disertai dengan hati yang kokoh, kemana dia ditancapkan. Tanpa keteguhan semacam itu, akal bisa terombang ambing terbawa ideologi orang dengan misi berbeda. Menetapkan hati ya kurang lebih sama dengan menetapkan visi. Di mana dia ditancapkan, kemana dia dituju, harus jelas dulu agar perkembangan akal bisa mengikuti jalur yang telah ditetapkan ini.


Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan ditemui di sepanjang jalan ini. Jalan tidak selalu lurus, dan tidak selalu sudah di aspal. Mungkin sesekali kita harus belok ke jalanan berkerikil di tengah hutan, dan menemukan hal-hal asik lain di sana. Namun jika visi dan hati sudah di set ke satu tujuan yang jelas, one or two detours won't be a problem. Kita bisa mengambil jalan memutar, sesekali tersesat ditengah gurun, atau mungkin mengambil jeda yang ekstra lebih lama. Semua itu tidak masalah, karena kita sudah tahu tujuan kita, dan sekarang tinggal menikmati perjalanan. Lagipula, jalan yang terlalu lurus itu membosankan. Buktinya, kalau ke Yogya, lewat Tol Cipali sama lewat jalur biasa, lebih seru lewat jalur biasa. Bisa mampir di Tegal beli telor asin.


Sekarang saya jadi paham kenapa doa-doa yang direkam oleh Al-Quran kebanyakan adalah doa tentang menjaga hati. Doa Nabi Adam saat dia diturunkan ke muka bumi, adalah tentang memohon ampun dan mengaku salah. Doa Nabi Yunus saat dia berada di perut ikan, adalah tentang memohon ampun dan mengaku salah. Doa-doa lain adalah meminta ketetapan hati, menjaga agar jangan menyimpang. 


Karena kekuatan hati dalam mengendalikan pikiran memang tidak bisa diremehkan. Hati juga rentan godaan dan bisikan, sehingga doa-doa yang paling penting untuk kita panjatkan memang untuk menguatkan hati, menguatkan pondasi. Setelahnya, barulah minta kejayaan di dunia, hingga negeri akhirat nanti.

***


Tulisan ini juga terinspirasi dari dua kali menemukan cuplikan kutipan di instagram tentang growth. 




Kamu tim yang mana?

***


Bogor, 8 Februari 2021

Katanya ikan yang menelan Nabi Yunus itu masih hidup ya?

Nabi Musa meninggalnya bagaimana ya ceritanya?

Jadi Dzulqarnain di Surah Al-Kahfi itu bertanduk?

I really mean to learn.. how deep is your love how deep is your love.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal