Skip to main content

Cinta

 


Setelah dua hari berhasil tidak melakukan sesuatu yang signifikan --selain masak, nyapu dan ngepel-- sekarang saya terpikir untuk menulis sesuatu yang agak melankolis. Sejatinya saya memang termasuk kaum romantis mellow, hanya sedang tidak ada saja yang bisa dijadikan objek untuk mencurah-curahkan perasaan. Jadi saya limpahkan semua ke diri sendiri, dan membiarkan satu Sabtu berlalu tanpa apapun yang dilakukan kecuali tidur empat jam mulai pukul delapan pagi hingga pukul satu siang. 


Perasaan yang satu ini memang indah luar biasa dan bagi mereka yang masih belum berpasangan, hanya inilah satu-satunya yang didamba. Saya berbicara dengan beberapa kawan lama kemarin malam, dan urusan yang dibahas pun tidak jauh-jauh dari soalan cinta. Ya.. memang hanya inilah yang sanggup membuat hari menjadi lebih berwarna, membayar semua lelah sepulang bekerja, dan membuat hal yang teramat sederhana pun menjadi bermakna.


Namun ada satu hal yang seringkali luput dari perempuan seperti saya --yang masih single di akhir usia dua puluhannya-- ketika sedang tenggelam dalam mengharap sebuah cinta. Kita seringkali lupa, bahwa bahagia yang meletup-letup saat dia menyapa, itu hanyalah perasaan untuk saat ini saja. Tapi seringkali, perasaan yang sementara seperti itu menjadi dasar pembuatan keputusan untuk cerita yang diharapkan akan berakhir selamanya. Selamanya, dalam artian bukan hanya di Bumi ini saja. 


Di sini sebetulnya saya ingin mengingatkan kepada para perempuan, yang kini tengah dilanda asmara dan sangat tidak sabar untuk dipersatukan dengannya; hold it. Jangan biarkan dirimu membuat keputusan saat sedang bahagia. Tetap selalu dinginkan kepala, agar tidak tertipu dengan bahagia yang sementara itu. Lihat lebih jauh, adakah kesamaan antara kalian yang bisa dijadikan pegangan untuk menghadapi ratusan perbedaan kalian nantinya?


That's the thing about love. Kamu bisa mencintai seseorang, tapi bukan berarti dia tidak akan pernah menjadi sumber kecewa dan sedih terbesarmu. Malah yang sering terjadi, dialah justru yang paling bisa membuatmu menjadi wanita terbahagia dan tersedih di dunia.


Untuk itu saya tidak menyarankan untuk menyandarkan keputusan pada perasaan semata. Perasaan bisa menipu, karena syaitan mudah sekali membisiki hati. 


Benarlah kata Nicole Kidman di serial The Undoing; "Whatever I feel about you, that doesn't matter. Because my mind is stronger than my heart". Saya percaya perempuan harus selalu bisa mengendalikan perasaannya dengan logika. Agar tidak bereaksi berlebihan saat sedang dilanda cinta, karena saya tahu perempuan jika sudah cinta, akan sulit lupa. Perempuan jika sudah cinta, dia tidak mungkin hanya setengah hati dan pasti rela melakukan apapun untuk pasangannya. Jenis cinta yang hanya bisa diberikan oleh seorang ibu pada anaknya, istri pada suaminya. Janganlah kamu terburu-buru memberikannya secara cuma-cuma pada dia yang hanya datang memberi bahagia yang bersifat sementara.

***

Ada sepasang suami istri yang sudah bertahun menikah namun belum juga dikaruniai anak. Setelah berjibaku dengan segala macam prasangka, akhirnya mereka memberanikan diri memeriksakan kondisi mereka ke dokter. Tak disangka, salah satu dari mereka memang benar 'bermasalah' dan harus melalui serangkaian prosedur medis untuk bisa mendapat keturunan.


Ini tentu perjuangan yang bukan sepele. Saya tidak terbayang bagaimana satu pihak harus selalu bisa mendukung pasangannya, menyemangati agar tidak putus asa padahal putus asa adalah satu-satunya jalan. Jika sudah demikian, cinta yang sekarang tengah kamu rasa saat awal masa hubungan, sudah hanya tinggal cerita. Bahagia yang meluap itu pun bahkan sudah kamu lupa bagaimana rasanya. Karena yang ada hanyalah perjuangan, berusaha menatap matanya, berusaha melihat wajahnya, sambil terus menerus menekan emosi dan perasaan.


Cerita ini nyata, dan terjadi di dalam lingkaran saya. Beliau bertutur yang saya dengarkan dengan seksama tanpa ada sedikit pun nasehat untuk bersabar dari saya. Ya, because that's what I do best; listen. Membayangkannya saja sudah cukup membuat hati saya bergetar, untuk hari-hari ke depan yang akan mereka lalui bersama sembari terapi. Saling menguatkan, walau pasti lelah bukan main. Belum lagi, satu persatu kabar bahagia dari rekan-rekan lain kian berdatangan. Bahkan ada yang menikah baru kemarin, sudah lagi dikaruniai sepasang anak.


Saya hanya bisa tersenyum, mendoakan, memastikan bagaimana perasaannya menjalani itu semua, dan menemani semampunya. Karena saya tahu, dia pun sama jika nanti saya butuh dirinya untuk menyandarkan urusan kegalauan tentang sang pangeran yang kayaknya kudanya hilang. Alias ga nyampe-nyampe.


***

Sekali lagi saya teringat tentang cara energi bekerja. Energi yang diberikan akan sama dengan yang diperoleh. Hukum aksi-reaksi fisika yang berlaku dalam keseharian, juga teraplikasi dalam amalan sedekah yang selalu saya percaya. Jika sudah bicara energi, frekuensi dan dimensi, rasanya saya ingin sekali menulis itu semua dalam balutan panjang omong kosong. Tapi untuk sekarang cukup begini saja; cinta yang kamu inginkan, akan datang dalam wujud cinta yang kamu berikan. 


Sekarang, jika kamu belum punya pasangan untuk dijatuh cintai, coba lihat di sekitar. Ada teman-temanmu yang selalu memasang mata pada apapun yang kamu post di instagram. Ada orang tua yang selalu menunggu telepon dan kabar darimu. Ada adik atau kakak yang walaupun orang termenyebalkan se dunia, tetap layak kau sambangi mereka dengan cinta. Lalu di atas itu semua, ada dirimu sendiri yang sedang belajar meraba dunia dengan jenis cinta yang kau inginkan.


Temukan itu semua, rangkul, akui, dan kenali. Kelak kamu akan mengerti bagaimana caranya kamu ingin dicintai. Jangan percaya kata orang bahwa cinta tidak butuh alasan. Cinta justru sangat butuh alasan. Alasan utama semestinya adalah karena-Nya, dan alasan selanjutnya adalah karena-mu. Karena cara dia memperlakukan mu, karena perasaan yang kamu rasakan saat dia bersama mu, dan semua hal yang harus kamu ketahui tentang apa yang kamu butuhkan untuk bisa menjaga, membersamai, satu orang sepanjang hidupmu. 

***

Bogor, 21 February 2021

Ulang tahunku sebulan lagi. Ya Allah.. udah persiapan banget nih pingin ulang tahun.. Insya Allah nyampe umurnya amiin.



Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk