Skip to main content

When Things are Started to Fall into Places

 



Pukul 23.50 dan saya baru selesai menulis profil wirausaha  untuk usaha yang baru saya rintis. Ada sedikit haru di dalam proses menulisnya karena saya merasa familiar dengan vibe yang ditimbulkan. Menjawab pertanyaan demi pertanyaan, sebagaimana dulu pada bulan-bulan seperti ini saya selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk lamaran beasiswa. 


Sedikit banyak kini saya mulai berpikir ulang untuk meneruskan perjuangan mendapat beasiswa kuliah ke luar negeri. Karena jika boleh jujur, sebetulnya saya sangat takut dan sangat tidak ingin pergi sejauh itu sendirian. I've been alone in half of my life, I don't wanna be alone for too long. 


Reaksi yang saya dapat ketika memposting cuplikan percakapan dari staff Ditmawa IPB yang meminta saya memasukkan profil ini pun sangat meriah dan di luar dugaan. Ternyata, banyak yang memperhatikan usaha ini. Walau saya tahu tidak sedikit dari mereka yang juga punya sesuatu yang buruk di dalam hati, yang mereka sampaikan dengan ragam kritisi. Tapi begitulah resiko jika kita ingin melaju lebih tinggi. Selama ini, saya memang terlalu nyaman berada di belakang layar. Dulu saya bercita-cita untuk terus berada di belakang layar, mendukung siapapun yang kelak akan menjadi pendamping agar dapat maju meraih apapun yang dia impikan. Namun sekarang, pikiran itu agak bergeser karena rupanya, cita-cita seperti itu juga bentuk lowering your crown ketika kita justru berpotensi untuk bisa lebih dari itu.


Saya mungkin terlalu takut untuk menakuti mereka yang hendak datang melamar. Terbukti beberapa kali, mereka mundur hanya karena urusan keuangan. Tapi sekarang saya sadar, dengan atau tanpa karya, jika Allah berkehendak saya akan dipersatukan dengannya, maka pasti kami akan dipersatukan. Kenapa harus urung maju jika ternyata berdua nanti kita bisa melesat lebih cepat dan lebih jauh lagi.


Ada satu mimpi --dua sih sebenarnya-- yang masih saya ingat sampai sekarang. Kedua mimpi itu datang saat saya masih SMA. Anehnya, mimpi itu terasa nyata sekali dan sangat berbekas di ingatan bahkan sampai sekarang. Saya hanya akan menceritakan mimpi yang satu; yaitu saya bermimpi melihat gugusan bintang, belakangan baru saya tahu gugusan bintang itu persis seperti pemandangan bintang di Gunung Bromo saat kita meniti jalanan aspal menuju tempat musola untuk solat subuh. Di mimpi itu saya tidak sedang berjalan seperti di Gunung Bromo, tetapi berdiri menonton gugus bintang itu. Namun saya terhalang oleh kerumunan orang. Saya terdesak hingga ke belakang. Hingga ada satu orang yang menggamit lengan saya, menyeruak kerumunan, hingga kami berdiri di baris paling depan untuk menyaksikan gugus bintang tersebut. Masih jelas dalam benak saya rupa gugus bintang, kerumunan orang-orang, namun tidak pernah jelas rupa fisik yang menarik lengan saya itu.


Satu hal yang saya yakini dan saya bawa terus hingga kini, adalah saya bisa meraih yang saya cita-citakan dan menyaksikan rencana-rencana itu terwujud dengan indahnya, asal bersama dengan seorang partner yang tepat. 


Dua mimpi itu yang kemudian menjadi pedoman saya hingga kini dalam menyetujui pasangan (karena saya tidak mencari, saya hanya menunggu untuk ditemukan, dan menunggu orang yang tepat untuk bilang ya). 

***

Seiring jalannya waktu, tentu tidak semua orang akan senang pada pencapaian yang kita peroleh. Boleh jadi orang yang tidak senang itu ya karena memang kitanya bitchy dan terlalu banyak pamer di sosial media, atau memang syaitan mempengaruhi otak dan hati mereka untuk iri.


Menyikapi hal ini terus terang saya takut, takut sekali. Saya sudah pernah berada di posisi di mana seseorang iri pada peran yang saya punya, and he did everything in his power to crushed me down includes confronting me in front of public. Sebagai orang yang mudah menangis, mudah sakit jika tertekan, saya tentu harus menghindari hal-hal semacam ini karena bisa sangat tidak sehat. 


Tapi juga tidak terhindarkan, karena mau tidak mau, suka tidak suka, saya tetap akan selalu posting di sosial media demi pemasaran. Kalau tidak diposting bagaimana publik mau ikut membeli, bagaimana bisnis ini akan jalan, dan bagaimana pesan yang ingin saya tebarkan bisa tersampaikan. 


Makanya, saya mulai dengan memperbaiki niat.

Setiap kali saya memposting sesuatu yang mengandung kebaikan, harus disertai dengan permohonan ampun dan menguatkan hati bahwa ini bukan untuk pamer apalagi minta pujian. Ini simply untuk memberi informasi, siapa tahu ada yang terinspirasi. Sudah itu saja, titik dan tidak dilanjutkan. Setiap kali datang pujian, lalu hati saya mulai terbang-terbang bangga, saya terus menerus mengingatkan diri bahwa bukan itu yang saya mau. Pun salah satunya dengan menonton video di youtube yang mengingatkan tentang menjauhi riya, bersyukur dan sebagainya. Karena ceramah-ceramah seperti itu walau kedengarannya klise dan gitu-gitu doang, ternyata sangat mampu memperbaharui semangat untuk tetap berada di track yang semestinya. Begitulah hakikat ilmu, kata Ust Salim A Fillah, bukan untuk menambah pengetahuan baru, tapi untuk meresapi pengetahuan yang sudah lama tahu. 


Bersyukur terlahir sebagai muslim, karena kami sudah dibekali dengan senjata dalam menangani ini. 

Kalau takut terus dengan iri dan dengki dari orang lain, bagaimana kita bisa sukses dan berhasil, sedangkan iri dan dengki itu berada di luar kuasa kita. Bisa-bisa nanti akan terus hidup sebagai mediocre yang merutuk sana sini serta berandai-andai jika dulu saya tidak begini dan begitu pasti saya sudah begini dan begitu. Kalau mau melejit, sukses, dan berhasil, salah satu konsekuensinya adalah menghadapi mereka yang tidak senang, dan kita tidak akan pernah bisa membuat semua orang senang pada kita. Tidak juga bisa menyembuhkan hati orang yang iri hanya dengan bilang ini gak seindah yang kamu lihat, ada bla bla bla yang harus dikorbankan, lihat nih (lalu menceritakan kesedihan serta dosa-dosa yang tidak patut orang lain tahu)


Senjata yang sudah dibekali adalah dzikir pagi dan petang. Saya pun baru mempraktekkan ini, yaa sebetulnya sejak September 2020 tapi on and off dan niatnya masih belum bener waktu itu. Tapi baru benar-benar memaknai baris demi baris dzikir itu dengan terjemahannya ya baru sekarang. Saya baru paham apa saja yang diminta dalam dzikir itu dan saya dibuat terkesima karena kelengkapannya. Lengkap sekali mulai dari harta dunia, keluarga, perilaku baik dan dijauhkan dari perilaku buruk, perlindungan terhadap segala bentuk kejahatan, kesehatan, kekayaan, hingga surga dan perbaikan ibadah. Barulah saya merasa terlindungi di baliknya, dan otomatis merasa bergantung untuk membacanya. Walau ngantuk bukan main kalau habis subuhan. 


Saya bukan orang yang relijius. Tidak ada rekan di sekitar saya yang mungkin percaya kalau saya ceritakan ini semua. Yang ada, saya selalu jadi bahan tertawaan, dan begitulah memang image yang sejak dulu ditampilkan; kekanakan, manja, tidak pernah serius, dan selalu bercanda.


Rebranding memang mahal harganya. 

Itulah harga yang harus kita bayar ketika segala sesuatu mulai mewujudkan dirinya satu demi satu. Sedikit demi sedikit lapis pemahaman pun terbuka, dan kita kian mengerti mengapa jalan ini yang dipertunjukkan. Mengapa pintu itu tertutup, dan mengapa arahnya justru ke tempat yang tidak pernah terduga.


Tugas kita memang berusaha, tapi dibalik semua usaha, ada kuasa lain yang menentukan segalanya. Pada kuasa itulah kita berserah. Pada usaha, kita kerahkan semua tenaga.


Pada akhirnya, yang kita punya hanya cerita. Jika hidup dihabiskan hanya untuk mencari uang, bekerja tanpa makna, kelak cerita apa yang akan kita tinggalkan?


***

Bogor, 25 Januari 2021 00:17

Juicing, nyapu, ngepel, nyuci kamar mandi, menunggu kurir, masak, cuci piring, bersihkan dapur, nyetrika, masak, makan malam, nyuci piring, dan bikin profil.

Akhirnya, hari ini, sama sekali tidak bikin presentasi.

Besok saat presentasi, saya akan tampilkan tulisan ini di slide pertama; after a series of professional procrastination, allow me to present to you.. this topic, simply, and plainly. 

Padahal saya selalu ekstra terhadap hal-hal berbau presentasi. Saya suka presentasi sejak pertama kali mengenal microsoft powerpoint. Tapi sekarang sepertinya pada segala hal yang saya suka sekali itu, I'd prefer things simply, and plainly. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2

Archived

Show more