Skip to main content

Revelation

 


I just realise something... well.. two things, actually. It's not something if you can define how many is that something is, right?


I was lying on the floor this afternoon, habit, filling the gap between Magrib and Isya, because I'm too lazy to take off my prayer clothes and because I like to do some thinking. (As an excuse to procrastinate reading The Quran). I realised that.. last night.. I forgot to close the trash bin. 


Yeah. I put a bone in that thrash bin, in a plastic bag, but I didn't close the lid. I let it open, and maybe that's the cause of my terrible dream last night. Syaithan loves bones and blood. If you have left over meat or something related to animal containing flesh and blood, you better throw it away or put it in the storage. I wasn't thinking yesterday, and I was too busy with work my new hilarious series. 


I also realised that.. their appearance in both of my dreams.. they both had the same expression. I really like to put it here, but bad dreams shouldn't be told. That's sunnah, if you have a bad dream, just keep it to yourself. And I got goosebump right now. But my point is, they both had the similar facial expression. Which got me thinking.. do they mad at me or do they just tryin to scare me off? Because I do. I'm terrified. 


But I am more scared of Allah, He's the one I should be worry about. Kalau Allah sampai marah karena ku lebih takut sama makhluknya kan lebih mengerikan lagi.


So yeah. This post will remind me a year later, how I love being in this house, how I love lying on the floor, staring at that perfectly-flawless-painted walls, killing the time instead of doing dzikr or praying.

I can do so much, but I end up doing nothing but to stare kolong kasur. Tapi ini juga bagian dari my defense mechanism. By staring at what's under my bed for five minutes straight, make sure nothing comes out there, make sure it's clearly empty even if its' not clean because I have no idea how to move this effing heavy wooden bed. Nope. Nothing there. I can assure me, I am safe. 


***

Bogor, Still January 7th 2021

I can't believe I make it this far.. 

Hey, me. I'm proud of you. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal