Skip to main content

Life as a Missing Rib

 


Meskipun sudah punya set goals, punya visi, dan tahu apa purpose nya, bukan berarti seseorang tidak bisa kehilangan motivasi. Perasaan yang berat, tidak mau melakukan apa-apa, dan sepertinya ingin di tempat tidur terus menerus, masih tetap akan datang menghantui. Kalau sudah begitu, saya cuma punya satu rekomendasi; nikmati saja. 


Kayaknya perasaan seperti itu tidak punya rumus pasti untuk cara penangannya, karena pasti berbeda untuk setiap orang. Makanya beruntunglah orang-orang yang masih single, kala perasaan berat itu menghampiri, dia benar-benar bisa menghabiskan waktunya tanpa melakukan sesuatu yang berarti dan tidak ada yang protes.


Tapi tetap saja bagi seorang perempuan, harus bisa segera menemukan cara menangani rasa malas dan berat itu sebelum dia ditemukan. Sebelum ada orang lain yang bergantung pada dirinya, dia sudah harus tahu, nanti kalau sudah berpasangan dan perasaan berat ini datang dan dia malas beres-beres rumah, apa yang harus dia lakukan dan bagaimana dia akan mengkomunikasikan ini dengan pasangan. Karena salah cara komunikasi dengan mood yang seperti ini bisa menimbulkan perang, karena perempuan kalau moodnya lagi berat, lisannya juga sulit terkontrol tapi hatinya gampang teriris. Rapuh emang.


Maka berulang kali saya selalu ingatkan pada teman-teman yang saya tahu sering mampir ke laman ini, dan masih menunggu untuk ditemukan, bersyukurlah hei kalian. Bisa lebih jauh mengenal diri sendiri dulu, bisa tahu apa yang kamu mau dan bagaimana cara perlakuan yang kamu mau, sehingga nanti pasanganmu tidak kamu tuntut untuk membaca pikiranmu. You're not gonna marry a psychic, so you better know how to communicate yourselves.

***

Saya selalu melihat tahun demi tahun yang saya lewati sejak a restart enam tahun lalu sebagai serial terpisah yang diisi oleh one heartbreak to another. Ketika hidup yang sebenarnya dimulai selepas lulus kuliah, batal menikah, dan ditikam oleh rasa kehilangan yang begitu besar, setiap tahunnya saya selalu merasakan lagi patah hati dari orang-orang yang berbeda.


Ada yang datang without any intention to stay.

Ada yang datang, merasa memiliki dan begitu mengekang hingga saya sulit bernapas tapi tidak lama kemudian dia mendadak pamit pergi untuk kembali membawa sepucuk undangan.


Lalu saya menemukan minimalism di tahun berikutnya. Butuh waktu setahun untuk mempelajari dan mempraktikkan pelan-pelan, hingga di tahun setelahnya (2018) saya bisa benar-benar berhenti tuk develop any romantic feeling to anyone. Trigger nya juga cukup ampuh, seorang kawan lama yang saya percayai sebagai teman terbaik untuk jadi tempat bercerita tentang apa saja, tiba-tiba mengakui perasaannya dan justru melontarkan kalimat yang malah membuat saya menangis karena anggapannya yang salah tentang saya. I still remember that night, I drove so fast at three am in an empty toll road, crying. The next morning I woke up with a strong determination to never again fall in love, nor to be closed to anyone.


Berhasil.

2019 saya lalui tanpa satupun heartbreak yang romantis. Walau tetap ada siih yang bikin nangis sampai jam empat subuh. Saya kan gampang nangis sama mulut pedas. Tapi bukan jenis nangis karena urusan cinta-cinta. Saya berhasil mengentaskan urusan romantisme yang saya bawa sejak 2016 itu di 2019, ditutup dengan perjalanan ke Raijua di awal 2020 dan selesai saat memasuki pandemi.


Bukan berarti saya tidak mau jatuh cinta lagi,. cuma ya mudah saja rasanya bagi saya untuk menjatuh cintai orang. Sudah jadi naluri perempuan untuk memberikan kasih sayang dan perhatian sangat dalam. Saya hanya menyimpannya rapat, untuk nanti orang yang tepat. Karena kalau terlalu mudah terbawa perasaan hanya karena interaksi sementara, cuma ketemu sekali dua kali, itupun lewat event online, lalu bla bla bla, ternyata dianya gak se deep itu.. kan bisa jadi merusak mental juga.


Pun saya tidak mau menerima teman saya itu bukan hanya karena kalimatnya yang membuat saya teriris, tapi karena selama ini dia memang tidak pernah menunjukkan perasaan itu dan justru yang ditunjukkan malah sebaliknya --sering marah-marah, sering ketus--. Ketika dia bilang ada teman kita yang lain, yang juga punya perasaan yang sama ke saya, tapi sayanya acuh dan tetap menganggap mereka sebagai teman, itu karena memang mereka tidak pernah menunjukkan apalagi bilang langsung. I'm a woman with simple mind, if you never tell I'll never know. Karena urusan ini terlalu deep untuk dibawa berasumsi. I'm not Jane Austen anyway, yang tergila-gila dengan kisah cinta cowok dingin ketus dan galak tapi akhirnya jatuh cinta juga. 


Lalu saya dibilang naive.

Hehe.


Sekarang, setelah berhasil melewati satu, dua, tiga, romansa yang gagal, saya belajar untuk benar-benar berdiri sendiri. Berdiri sendiri terhadap sesuatu yang saya percayai. Hasilnya? Sekarang ada teman lain yang ikut berkreasi dengan hasil tangannya, menjual kue-kue manis setiap Hari Minggu, bikin akun instagram jualan, dan lain-lain. Ada ibu-ibu yang ikut beli juicer dan beli komposter, mengikuti gaya hidup yang saya coba tularkan di media sosial.


Berdampak?

Entahlah. Saya belum mau merasa sudah sejauh itu. Karena ini semua saya lakukan simply karena saya senang melakukannya, ya Alhamdulillah jika bisa dilihat dan ditiru orang. 


Karena sebagai A Missing Rib, yang saya perlu lakukan hanya menunggu untuk ditemukan. 

Pernah suatu sore di sebuah kedai kopi, seorang rekan bertanya 'tapi lu udah memutuskan pensiun dari itu semua ya?' merujuk pada pengalaman assessment lapangan saya ke pelosok-pelosok terpencil. Saya mengangguk yakin. Dari situ saya bisa membaca ekspresinya, gurat wajah yang seakan ingin bilang sayang banget sih .. ya saya paham. Saya tahu betul pertanyaan itu, karena itu juga yang kerap saya lontarkan pada perempuan-perempuan yang dulu saya kenal, hebat dengan karir gemilang, tapi memilih mundur dan menjadi Ibu Rumah Tangga sepenuhnya. Terdengar klasik, terdengar klise, tapi saya jamin kamu akan paham kalau mengalami.


A Missing Rib diciptakan tentu dengan tujuan, yang salah satunya adalah menjadi teman, menjadi pendamping. Untuk itu, saya merasa perlu mempersiapkan diri menjadi teman dan pendamping yang pantas, memperkaya isi otak supaya bisa jadi lawan diskusi yang sepadan, dan mengasah keterampilan supaya bisa menjamin nutrisi seisi rumah. Bekerja seharian, bepergian semingguan, tidak akan membawa saya kearah sana. Bagaimana bisa akan ditemukan kalau sayanya saja gak pernah siap.


Jadi dalam masa menunggu ini, saya juga tidak berdiam diri karena banyak sekali yang masih perlu dibenahi. Itulah bagian paling menyenangkannya; beres-beres diri, dan termasuk memanjakan diri. Siapa tahu nanti gak akan ada lagi waktu untuk nonton film baca buku seharian --dua harian-- karena selalu ada yang minta diajak jalan-jalan, disuapin, dicebokin, etc etc.


Hehe.

Life can change in an instant, you know. Just enjoy what you have now, it may won't come for twice.

You're a missing rib anyway, you're not supposed to go out there and looking. He'll find you. 

***

Bogor, 3 Januari 2021

Tulisan ini ditulis untuk menyamarkan rasa bersalah karena dua hari gak ngapa-ngapain. Hanya ke dapur sesekali untuk masak, itu pun belum dicuci piringnya. Sungguh sangat messy. But I will clean them up before bed, I always do. Tapi sekarang, let me watch one more movie. Karena film yang saya tonton sore tadi, absurd dan weird sekali: Only Lovers Left Alive. 




Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Archived

Show more