Skip to main content

I am Finally Writing (one of the magical effect after tidying)

 



I know it sounds common, because my problem is not about starting, it always been about finishing. I always wanna write a novel, but I'm bad at ending so I got stuck all the time for ten years now.


And here I am, starting. For real this time. With whole picture of how it's gonna end. Also, I start using my Buku Catatan untuk Calon Penulis which I bought on twitter, and the note says 

'Bogor, 4 Juli 2019. Dibeli sejak Juni, ditunggu hingga Juli, begitu tiba seminggu kemudian baru dibuka' 

With my name and signature on the first page. This is a pre-ordered book, by Puthut EA and I still remember the great enthusiasm on twitter which provoke me to join the crowd. I must admit, I didn't remember having this one until decluttering. Because, there is nothing in it.. literally nothing. The book was designed for a writer to write, and I didn't know what to write because I only write temporary things like story plots, characters, names, and more names, which change a lot...  this book can't handle the temporaries. I mean.. how on Earth will I keep it then.


Thanks to decluttering, now I finally found what to write and how to --probably-- end the story. I also have created a map, because that's the first thing I always do when starting something - drawing map, about how the story will go. I have a picture in my head about it's exact location, and the exact feelings that the characters felt.


I know it's gonna be a long journey and I shouldn't be proud of my self just for starting. 


Always remember this, my friend; the dream you had when you were little, was not just a blurry vision of your younger self. There is something inside her, something you don't know now but you knew it then, that provide you with clear sets of goal for you. Your younger self was more connected to your soul than you are now. So trust her, follow the direction that brings ease in your heart.


***

Bogor, January 30 2021

Our body is amazing. Four days into meeting, and I kept waking up before four am --procrastinate a little bit and rewaking (if that's even a word) at five am-- with no desire whatsoever for going back to sleep. Now, one day after the meeting is over, I rebound to the old habit, of waking up late in the morning. Not proud, tapi kusudah beli jam weker jadul buat bekal Ramadan. Ramadan kian mendekat, gunung merapi erupsi berbarengan ya.. :')



Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal

Archived

Show more