Skip to main content

Fa inna ma'al usri yusro

 



Dia ingin bisa bekerja. Menjadi wanita karir, seperti yang dia impikan sejak remaja. Namun apa mau dikata, kini ia tak lagi leluasa.

Ada dua bocah yang kini bergantung pada hadirnya. Setiap detik, menit, dan hari, ia habiskan hanya untuk memastikan semua kebutuhan mereka. Cukup tersedia nutrisi, cukup asupan ASI, tiada kurang walau sejentik jari. Dua bocah yang bermata indah, sejuk wajahnya jika dipandang, lucu tingkahnya kala bercanda.

Juga seorang suami yang selalu siaga. Yang tahu caranya mencari rezeki, dengan tetap sambil berserah diri. 


***


Dia telah memiliki hampir semua daftar mimpi perempuan seusianya, namun ia masih tetap menginginkan pekerjaan yang sepadan. Pekerjaan yang patut bagi dirinya yang telah menempuh pendidikan tinggi di universitas nan rupawan. Ia lelah terus menerus bekerja banting tulang, dengan bayaran yang hanya cukup untuk menuntaskan tagihan. Bulanan demi bulanan.

Di sisinya kini ada sesosok bayi mungil. Mata bundarnya membesar setiap kali ia selesai menghadiri pertemuan. Sejuk hati jika dipandang, damai kala bersentuhan.

Seorang laki-laki yang dulu hanyalah teman, kini berbaring setiap malam bersisian. Bertukar cerita tentang pekerjaan, tentang semesta, dan manusia. Ia selalu bisa berbicara padanya tentang apa saja, bertukar pikiran dan mendapat lawan diskusi yang imbang nan sepadan. 


***

Dia tidak pernah bercita-cita untuk menjadi seorang wanita karir. Keinginannya sejak dulu hanyalah menikah di usia muda, menjadi seorang ibu, dan hanya itu. Ia kini disiksa oleh rindu yang begitu menggebu, pada satu sosok yang bahkan namanya pun dia sendiri tidak tahu. Sosok mungil seperti yang orang-orang punya. Sosok yang tangisnya mungkin bisa membuatnya ikut menangis, namun bahagianya bisa membuatnya jutaan kali lebih bahagia. Ia ingin bisa dipanggil dengan panggilan paling mesra, oleh suara kecil nan manja. 

Namun yang dia punya kini hanyalah dunia. Semua yang ia inginkan dengan mudah dapat berada dalam genggaman. Apapun yang ia pikirkan, bisa terwujud tanpa menunggu terlalu lama. Uang baginya bukan masalah, bahkan karir pun terasa mudah. Ia dapat merenggut perhatian dari semua pasang mata yang ada di dalam ruangan, untuk larut mendengarkan isi di dalam kepalanya. Setiap dia berbicara, semua diam dan mendengarkan. 'Solutif!' sahut mereka spontan.


***

Bogor, 26 Januari 2021

Cerita tiga perempuan, bisa nyata, bisa fiksi, I'll never tell.

Untuk Yayuk, yang dua hari lalu bertengger di kepalaku saat aku nulis profil wirausaha untuk My Baby Juices. Keesokan harinya, putri kecilnya mengirimiku sebuah gambar. Gambar putri mungil yang ia tinggalkan, menjadi kenangan yang teramat sepadan. Aku yakin, ini pasti bukan kebetulan. :')

Maka bersama kesulitan, pasti ada kemudahan.

Bio Facebook Yayuk sampai sekarang masih sama; fa inna ma'al usri yusro.


Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal

Archived

Show more