Skip to main content

Bogor, Seharian.



 I took myself on a date today. Dimulai dengan bangun siang seenaknya, baru siap sebelum zuhur, dan baru berangkat setelah zuhur. Sebenarnya agak berat untuk keluar rumah hari ini, karena baru nyampe rumah jam 03.30 (dari bandara jam 01.54), dan baru tidur selepas solat subuh dengan sedikit gimmick.


Satu-satunya alasan kenapa saya harus keluar rumah hari ini, adalah karena mobil sewaan yang kepalang dirental sampai tanggal 1 Januari untuk antar Mama ke bandara, tidak bisa di cancel. Namanya tanggal merah, harga sewa jadi dua kali lebih mahal, dan bapak rental tentu tidak mau kalau mobilnya cuma dipakai setengah hari.


Berhubung dari kemarin saya sakau kopi yang diseduh manual secara V60, karena selama perjalanan berhari-hari kemarin cuma ketemu kopi yang diseduh dengan mesin kopi, maka pagi tadi saya mencoba satu tempat baru. Seperti biasa, hal pertama yang saya tanya apakah bisa manual brew, dan apakah bisa V60. Ketika jawabannya semua bisa, saya langsung lihat-lihat tempatnya, dan begitu oke baru duduk.


Sekitar empat jam kemudian barulah saya beranjak. Perhentian selanjutnya adalah mall Botani Square untuk ganti batrei jam tangan. Ini jam tangan sudah mulai tua rupanya, tiap tahun ganti batrei. Tapi saya langsung ilfil begitu lihat parkiran yang penuh. Kebayang situasi di dalam mall akan se ramai apa kalau parkiran saja sudah sebegini penuhnya. Langsung belok kanan, Malabar! Hari ini Jumat berkah, saya ikut menyumbang empat ribu rupiah ke pengelola parkiran.


Jadilah destinasi selanjutnya saya ganti dengan Rengganis. Biasanya saya selalu booking dulu, tapi kali ini agak pede bisa langsung show up. Ternyata Rengganis Bangbarung sudah full book dan saya ditolak. Tapi Mbaknya pantang bikin customer kecewa, dia bantu telepon Rengganis Sudirman dan ternyata bisa langsung show up di sana. Saya langsung melarikan mobil ke Sudirman, dan di sanalah bertemu dengan abang parkir galak itu lagi. Abang-abang parkir di area ruko itu memang dari kemarin bikin saya takut. Bicaranya marah-marah dengan ekspresi muka kesal. Bahkan kemarin tukang kerupuk pun ikut meneriaki saya yang masih menunggu arahan abang parkir yang masih mengarahkan mobil lain yang mau keluar. "Maju Bu!! MAJU!!" teriaknya dengan muka garang, lah, saya pikir, maju gimana orang gue mau ambil parkiran yang mobilnya mau keluar ini. 


Tapi si abang itu lebih galak lagi, akhirnya saya maju dan parkir di paling ujung. Tadi juga sama, saya parkir di spot yang paling ujung padahal spot di depan Rengganis masih ada yang kosong. 

"Ibu mau ke mana sih?" tanya si abang parkir dengan kasar melihat saya maju mundur berusaha menyesuaikan parkir paralel. Saya kesal, karena ini mau parkir malah ditanya mau kemana. Bukankah tugas dia bantu parkir.

"Parkir, Pak" kata saya pelan, sudah lelah "bisa dibantu gak, Pak?" saya masih bertanya sopan, dengan suara pelan.

"HAH?" si abang nge Hah in tanpa masker di jendela mobil yang terbuka agak lebar.

"Bisa bantu gak Pak?" saya bertanya agak lebih keras sekarang

"HAH?!!" dia jawab lagi

"BISA BANTU GAK PAK" saya akhirnya balas berteriak. Si abangnya langsung mengarahkan saya ke spot paling ujung yang bebas ga perlu dibantu.

"MAKSUDNYA DIMANA?!!!" saya tanya lagi dengan berteriak kini. si abangnya baru menuntun saya ke sudut pojok dengan muka masam.

Begitu si abang pergi, saya membenamkan muka di balik jaket di atas kemudi. Menyesal berteriak, menyesal marah, padahal ini Jumat dan penghujung hari. Makin sedih, makin lelah.


***

Mbak Rengganis melayani dengan ramah, saya diminta menunggu seperti biasa sambil mereka siapkan segala keperluan perawatan yang saya pesan. Saya sudah menjadi pelanggan Rengganis sejak tujuh tahun lalu, di penghujung masa-masa kuliah waktu sudah mulai punya duit sendiri. Sampai sekarang pelayanan mereka tetap konsisten, tidak berubah, walau harga naik terus.


Dua setengah jam kemudian perawatan yang saya pesan selesai, walau hanya di bagian kaki saja karena belum berani membiarkan badan di sentuh orang lain kala pandemi begini, tapi ternyata tetap dua setengah jam juga prosesnya. Si Mbak benar-benar serius mengeluarkan kulit-kulit mati di sela kuku kaki, mengkilapkan kuku dengan sangat detil. Selesai dari situ, saya beri tip yang serius juga untuk si Mbak, karena dia membuat orang lain bahagia. Berbeda dengan abang parkir, yang kini bantu saya keluar dari pojok itu, (abangnya beda betewe), dan tetap mengarahkan dengan nada suara yang tidak biasa --seperti membentak-bentak-- lalu saya keluarkan uang dua ribu. Tadinya mau saya kasih lembaran lima ribuan tapi karena galak, jadi saya coba dulu kasih dua ribu. Mau lihat kalau protesnya baik, ya saya tambah. Ternyata protesnya nyinyir macam lambe turah. Tutup kaca balik kanan. Bye Bang. Habis ini kalo beli oleh2 lapis talas, ga akan lagi ke Sudirman. Pun kalo mesti ke Rengganis Sudirman dan mesti bawa mobil, ga akan ku parkir situ. Kesel.


Takut aku tu sama orang yang suka bentak-bentak gitu :(


***

Malamnya saya berencana makan malam di luar. Masih dalam suasana liburan dan memanjakan diri, jadi saya mau ke tempat yang agak fancy. Tapi ternyata sudah pada tutup. Sudah jelang jam delapan malam dan area yang ramai hanyalah warung-warung tenda. Selain karena saya masih agak parno dengan virus untuk makan di warung tenda penuh orang begitu, saya juga trauma dengan abang parkir. Takut dimarahin terus :(


Jadi saya teruskan ke Jalan Baru - Yasmin, berharap ada a decent place to eat, tapi nihil. Tadinya hendak ke Kedai Saring karena sudah setahun tidak ke sana padahal dulu tiap nonton AFF ke situ terus, dan sempat girang karena dari jauh keliatan lampunya nyala.. Eh pas saya belok kanan, ternyata pagarnya ditutup. PHP laaa, mending Starbuck rest area yang jelas-jelas kalo tutup, lampunya dimatiin. Ha.


Masih banyak ya orang PHP. wkwk.


Saya tiba di rumah dengan niat ingin makan indomie, tapi malah nulis ini. Curhat. 

Jadi begitu, cerita hari ini, membawa dua Funko Girls ke Rengganis dan si Rachel langsung nyebur aja di rendaman bath-salt saya. Hiks moga warnanya ga luntur. Itu foto di atas diambil setelah si Rachel nyemplung, masih ada sedikit sisa busanya, walau sudah di lap dengan serius oleh si Mbak yang serius.


***

Capek banget ya, saking capeknya jadi berasa besok udah Senin. 


***

Bogor, 1 Januari 2020

Takut banget sih orang yang suka marah-marah gitu :(


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal