Skip to main content

Basic Thinking of Life

 


The only reason why I love Disney and Marvel so much is because they're Jewish using what they've been told from the Bible, or from whatever their ancestors has taught them. They use it in a way that even kids can understand. Their tribe is, well let's be completely honest here, special. They've been mentioned for so many times in the Quran, with their very special traits. 


Pesan yang selalu mereka sampaikan dalam setiap film atau serial yang dibuat oleh kaum itu, adalah tentang soul. Tentang mengejar makna hidup, dan tentang kebaikan manusia. Sejatinya, itulah yang manusia butuhkan di Bumi ini. Karena tidak semua sempat memikirkan tentang arti, apalagi koneksi di dalam diri sendiri. Kebanyakan mereka yang beragama justru terperangkap ke dalam puzzle ibadah ritual, dan bahkan jauh lebih buruk dari itu; sibuk membenarkan ibadah ritual orang lain, atas nama menyebarkan kebaikan.


Yaa, tapi memang penting juga sih itu. Sebutnya dakwah mungkin ya, yang senantiasa mengingatkan orang lain, membenarkan perilaku yang menyimpang, menjadi polisi bagi moral dan kebajikan.. memang harus juga ada yang mengambil peran itu. Yang kita tidak bisa nilai juga dari luarnya, apakah dia memang tulus melakukannya to impress The Master, or merely to impress other people, dan gak perlu juga kita terka, ngapain kan buang-buang waktu.


Bagi yang belum sampai ke sana ilmunya untuk disebarkan ke orang lain, yang pengetahuannya hanya sebesar biji jagung itupun yang ujung-ujungnya, juga tetap bisa dakwah dengan cara memperbaiki diri. Seriusan. Itu saya mikir sendiri tadinya, trus ternyata Aa Gym juga ngomong begitu. Dengan memperbaiki diri sendiri, bersikap baik ke orang lain, itu juga sudah bagian dari menyebarkan Islam. Ada yang bahkan convert ke Islam hanya karena bertemu dengan muslim yang selalu ramah dan selalu senyum. 


***

Saya baru selesai menonton film Soul pukul 15.15. Sebetulnya sudah lama sekali ingin nonton, tapi saya maunya menonton dengan kondisi ideal. Sebulan kemarin suasana masih belum kondusif dengan segala persiapan meeting, ngurus Eyang, jemput Mama, dll. Sejak awal bulan ini pun hectic nya masih sama, dengan persiapan meeting tahunan ditambah lagi persiapan event pelatihan. Belum lagi saya harus membuat rencana tahunan, dan yang namanya bikin rencana kan involve deep thinking and daydreaming yang membuat otak sibuk sekali tidak berhenti bekerja. Tapi sore ini saya putuskan untuk nonton Soul. Dengan kondisi rumah yang sudah sangat teratur, dan saya pun harus ada alasan untuk menunda bikin presentasi, dan suasananya juga sedang kondusif karena matahari bersinar pagi ini. Untuk itu, saya nyalakan speaker, menghubungkan ke laptop, dan menonton di ruang tengah sendirian dengan suara bergema.


Musiknya.. percakapannya.. alur cerita.. warna.. suara.. saya yakin ini adalah jenis film yang bisa saya tonton lebih dari lima kali.


Film ini berbicara tentang Soul yang berpedoman pada kitab --karena yang ada di film ini juga ada di Quran, dan Jewish Bible memang paling dekat dengan Quran dan kata NAK, Allah sendiri juga yang menyatakan bahwa masih ada cahaya dari kitab-kitab terdahulu-- tentang menikmati hidup saat ini, menit ini, dan tidak terlalu sibuk untuk mencari sesuatu yang besar nan hebat tapi justru bikin tidak bahagia.


Saya selalu suka topik ini, pun jika dikaitkan dengan rasi bintang walau saya menolak adanya horoskop, tapi saya masih terbuka pada kemungkinan bahwa mungkin Astrology memang ada benarnya. Lagipula, tentu bukan kebetulan kenapa mereka yang lahir di Bulan April-Mei doyan makan, Mei-Juni pada charming, dan Maret-April ditakdirkan jadi the great leaders berjiwa kepemimpinan tinggi. 


Jika berbicara tentang soul dan pedomannya adalah kitab, ya tentu selaras. Karena soul adalah cahaya, dan sumber cahayanya adalah kitab. Semestinya anak-anak sudah dikenalkan ini sejak kecil, walaupun pasti mereka tidak mengerti. Karena anak-anak lah yang paling masih kental interaksinya dengan soul nya sendiri. Agar mereka terus berpegang pada koneksi itu, dan jangan sampai kehilangan pegangan seiring dengan tumbuh dewasa. Kalau bahasa lainnya ya agar mereka terpelihara dari segi kecerdasan emosional dan tidak terus menerus dicekoki dengan kecerdasan intelektual. 


Lagipula, memang kalian pikir kenapa kita mengejar cita-cita. Padahal cita-cita kan yang buat adalah anak kecil (sewaktu kita masih kecil).


Ya ya..

Di tahap ini sejujurnya saya sudah mulai rindu akan satu sosok yang belum pernah ketemu. Yang tiap kali liat yang serupa dia, bawaannya pengen nangis melulu. Gimana sih ya, rindu tapi belum pernah bertemu. Seperti sudah jatuh cinta duluan, tapi padahal belum tahu ni rupanya seperti apa. Menonton film tadi juga bikin saya semakin yakin bahwa suatu hari nanti kita akan bertemu, dan kelak akan saya ajarkan padanya tentang basic thinking of life; connecting to the soul, finding your spark, live the moment, always be kind. Sabar ya Nak., Ibu juga nahan-nahan ni. Blame your father pokoknya. Lama bet dia nyari jalan ga nyampe-nyampe.


Because I believe that soul are created in pairs. Yang diciptakan berpasangan bukan jasad kita ini, tapi ruh yang ada di dalam diri kita. Sudah diciptakan sejak jaman Nabi Adam masih di surga. Lalu kita diutus turun ke Bumi, menjalani hidup masing-masing, but we will meet eventually. Cerita tentang pertemuan dua ruh manusia dalam jasad yang tidak saling mengenal, adalah romansa yang membuktikan akan kebesaran Sang Maha Pembuat Skenario. Salah satu pengingat yang semestinya membuat kita, para budak, semakin tunduk dan kagum pada-Nya.


Some take a detour, marry wrong and get divorce, but they eventually find their right one in the end. Yang berpasangan pasti ditakdirkan bertemu, karena di dalam pertemuan itu terkandung kebaikan yang tidak mungkin Tuhan menjauhkan kita dari kebaikan itu. Tuhan selalu mau yang terbaik untuk hamba-Nya, jadi kalian tenang saja. 


Cuma masalahnya kadang people tu stupid gitu loh. Suka terperangkap terlalu banyak mendengarkan akal, sampai tidak bisa mendengar ketika ruh berbicara.

***

Kadang saya terpikir juga sama teman-teman atau saudara yang sudah menikah tapi belum dikaruniai anak. Saya saja segini rindunya punya sosok itu di sini, apalagi mereka yang jelas-jelas sudah ada jalan untuk memilikinya tapi belum juga tiba. 


Keluarga kadang tidak begitu berguna juga kalau sudah urusan ini. Masa kemarin ada tante yang posting foto cucunya, anak sepupu kami, lalu dikomentari dengan pujian oleh sepupu saya yang lain yang sudah sekian tahun menikah tapi belum punya anak. Tante saya itu justru membalas pujian itu dengan "capat jo..." atau "cepetan dehh.." seolah-olah sepupu saya ini tidak punya anak karena memang mereka lambat. 


If I were her, I'll reply it with 'alrite tante, so mo have sex napa'. 

Jadi eug yang kzl jir. wkwk.

But never mind, she's not our blood anyway, bukan tante itu yang sedarah dengan kami tapi suaminya. So yeah.. I'm not really a family person, and I am more of my Mom's family than my father's but since I still wanna connected with that string, just so I don't forget where I came from, jadi yah.. bertahan saja. Toh tidak pernah ketemu ini.


Sedih kalau lihat bayi-bayi lucu sekarang tu, saya pasti nangis kalau lihatnya pas lagi sendiri. Lucu.. menyejukkan mata... menentramkan hati.. dan ladang kebaikan untuk orangtuanya mengajarkan tentang dunia dan seisinya, manusia dan interaksinya, tentang rahasia semesta dan isi di dalam kepala. 


Well..

Here I am. Sibuk dua bulan penuh memikirkan pengembangan bisnis dari sebuah perusahaan yang saya bahkan tidak punya saham di dalamnya. Sibuk mendesign bahan presentasi agar mudah dicerna oleh mereka yang terus menerus bertanya namun tidak benar-benar mendengar jawabnya. Sibuk menyederhanakan pendekatan business thinking, design thinking, appreciative inquiry, agar semua orang bisa menggunakannya dengan baik dan tidak terjebak dengan rumitnya pikiran. 


Mungkin bagian saya sekarang ini dulu. Minding the business, and my own baby business, and raise them both well. Mungkin saat ini bagian saya adalah untuk membantu orang lain menyederhanakan pikirannya untuk menyelesaikan masalah demi masalah di perusahaan. Agar suatu hari nanti, saat ada orang mungil lain datang dengan matanya yang mungil, jemarinya yang kecil, saya sudah siap untuk  tidak terlalu rumit dalam berpikir. Sederhana dalam tujuan setiap hari, membuat dirinya kenyang, nyaman, dan tercukupi nutrisi. Sederhana dalam tujuan dalam hidup, membersamainya hingga kelak dia tangguh, siap menghadapi dunia, berdiri di kakinya sendiri. Hingga nanti waktunya tiba, apa yang saya ajarkan padanya, menjadi kebaikan yang dia turut tebarkan di muka Bumi.


***

Bogor, 23 Januari 2021

Soal procrastinasi, saya memang jago sekali. Sudah menunda bikin presentasi dengan bikin Panduan Annual Meeting berisi alur berpikir, penyederhanaan agenda agar mudah dipahami, pengenalan singkat pendekatan yang akan digunakan, sampai aturan meeting dan protokol kesehatan. Lalu menunda bikin presentasi dengan makan siang sambil nonton Wanda Vision dan Soul. Lalu setelah itu semua, bukannya dikerjain malah nulis ini. Dan sekarang sudah mau magrib. Habis ini alasannya sudah ketebak; solat magrib, beli makan malam, nungguin makan malam, makan malam sambil nonton New Girl, terus beresin nonton New Girl.. tahu-tahu udah mau tengah malam. Trus dibesokin lagi presentasinya. Begitu terus.. sejak sebulan lalu.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Archived

Show more