Skip to main content

404

 


Hari ini saya merasakan di php-in. Lagi.

Ga kaget sih. Ga kesal juga. Biasa aja, karena memang sudah biasa. Sudah wajar kalau banyak orang sulit memenuhi janji. Karena sekarang gampang banget orang menjanjikan sesuatu. Kenapa?


Karena dunia sedang sedih. Situasi ekonomi yang buruk, pandemi yang penanganannya tidak jelas, membuat kesedihan jadi tontonan sehari-hari. Media informasi yang ada di genggaman itu selalu dengan mudah menampilkan amarah atau kegelisahan. Banyak metode marketing yang justru memanfaatkan situasi dengan semakin membesar-besarkan ketakutan, agar supaya produknya dibeli. Wajar kalau orang jadi gampang sedih.


Masalahnya, setiap kali seseorang merasa sedih, yang mereka lakukan justru menyembunyikan kesedihan itu. Akibatnya, kesedihan yang tiap orang rasakan jadi semacam duri terselubung yang semakin disembunyikan semakin menusuk. Sehingga., ketika si orang itu ketemu orang lain, hal kecil saja bikin jadi saangat bahagia, dan sudah jadi watak manusia ketika bahagia, gampang menebar janji-janji yang belum tentu dia tepati.


Saya bukan kesal apalagi marah karena pemberi harapan palsu yang baru saja terjadi. Janji akan antar pesanan yang saya beli jam dua siang, tapi ternyata baru datang jam setengah lima. Selama itu juga saya menahan diri tidak masak apa-apa demi bisa makan siang dengan lauk yang dia jual. Wajar, kan? Saya ingin makan itu dalam keadaan segar. Karena saya tahu kalau sudah disimpan di kulkas, bisa nanti habis lebaran saya masak itu barang. Mood masak yang sedang bergairah ini harus lekas dituntaskan, kalau hilang susah lagi nyarinya.


Ternyata, selain baru datang jam setengah lima sore, lauk itu datang dalam keadaan beku. Bukan beku freezer biasa, tapi beku freezer canggih yang tingkat kebekuannya butuh microwave atau setara dua jam defrost suhu ruang. Ya sudah, saya menyerah. Ambil ayam karage di kulkas, lalu goreng. Makan siang yang kesorean ini, ujung-ujungnya makan ayam frozen juga.


But that's the thing about small business.

Apa saya kecewa? Ya 

Apakah saya akan beli lagi di situ? Ya, tentu saja.

Because you love your friends, and sometimes, this is the benefit of doing business with your friend: you will never tell their weakness. Kecuali kalau memang kamu orangnya terlalu jujur. Tapi pertemanan yang biasa-biasa saja akan saling support tanpa saling mengemukakan kesalahanmu secara terus terang.


Apa saya kaget karena di php-in? Tidak juga.

I eat 404 for breakfast, babe.

***

Bogor, 7 Januari 2020

I think this house is haunted. Last night, I had a terrible dream again, and last time I had it (which only a week ago), we made eye contact. Just like last night. I woke up with a strange position of my legs, like they're defending me of something. I couldn't move, and the air con was still on. My air con will automatically goes off after three am, so I guess it wasn't three am, but I was too scared to check my phone. Even now, I am scared with the corner of the house, where I saw that thing. God..

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2

Archived

Show more