Skip to main content

02.53

 



Terbangun pukul 02.53, dan saya masih menolak beranjak. Udara dingin, kasur dingin, dan ini adalah hari kedua gak nyalain AC. Nikmaat sekali. Saya ingat tahun lalu, di awal tahun begini pernah ada 5 hari gak pakai AC. Hari-hari tanpa harus menyalakan AC memang sangat spesial bagi saya. Makanya begitu dikasih kesempatan bisa berdoa di sepertiga malam, saya agak ogah-ogahan.


Eh ternyata dikasih hujan. Dalam seketika langsung bunyi suara hujan deras. Saya langsung membuka mata dan beranjak. Kalau ini sore, pasti langsung ke luar duduk di teras, menonton hujan. Saya suka hujan.


Dikasih sepertiga malam, hujan pula.. adalah hadiah terindah untuk hari ini. Bisa minta apa saja, dan pasti dikabulkan. Maka saya minta supaya semakin dikuatkan dalam menjaga hati. Dan mendoakan dia yang belum jelas siapa orangnya, tapi saya yakin pasti dia juga lagi berusaha. Berusaha untuk jadi lebih baik, dan berusaha menemukan jalan supaya sampai ke sini. Saya minta pada-Nya, untuk melembutkan hatinya, mudah menerima segala tentang-Nya. Saya tidak butuh yang sempurna, yang solat subuhnya tiap hari di mesjid. Cukup yang tidak pernah berhenti berusaha memperbaiki diri, karna itu juga yang sedang saya lakukan. Doesn’t have to be perfect, because perfect is boring.


***

Bogor, 20 Januari 2020

Don’t be too hard to yourself, kalau mau tidur lagi habis subuhan ya gapapa, jangan takut jadi kebiasaan pas nanti udah menikah jadi kagok. Minta sama Allah supaya nanti bisa cepat beradaptasi. Sekarang, nikmati saja dulu. Kalau mau tidur lagi ga apa, tapi setidaknya tunggu setelah matahari terbit. Tidur di waktu subuh masih fresh, hanya akan menurunkan kecerdasan. Makanya saya bunuh waktu dengan baca-baca yang ingin dibaca, tapi kalau mata makin berat ya nulis aja. Nulis ini maksudnya. Bukan nulis buku. Padahal ga ada excuse ya buat itu buku. Ini aja ada waktu tuk nulis blog tiap hari.

Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal

Archived

Show more