Skip to main content

What I Made of

Do you believe in higher power?
Do you believe in connectivity? That everything in the universe is connected to each other even at the most random moment?

Do you believe that the trees, and sky, and seas, and stars are doing tasbeeh?
Did you know that in science it called String Theory, where their frequency meets and connected to one another?

This is what I made of. A deep long conversation, and I’ll bore people to sleep. I’ve always been this way since I was a kid but I refuse to be me because my friends think I’m weird. But not anymore.

I’ve found myself since he left, and I’m grateful for his absence. This is the part where usually an idea came up, and become an endless novel to write (because it never finished). But that’s okay. I just have to be patient with myself, because one day, I’ll publish that effing book. And his name will be the chapter in it, as a means to my end: closure. 

***
Bogor, (still) December 22
And I think now he’s back. I don’t care if he’s here, reading thru from where he left off. Maybe he’s shocked by now on how honest I could be. How naked I am in this blog. I don’t care if anyone’s here at all. It’ll just make things easier. We could cut the bullshit and save our time. 
By time I realised all the patterns: datang trus pergi lagi, nanti kalo kusudah hampir clean dia datang lagi, merusak tembok yg sudah dibangun kokoh, lalu habis itu ku tertipu ilusi lagi, dan trus dia pergi lagi, ku menangis lagi.

Kalo kata Taylor Swift ‘but the cycle ends right now..’. I’m done. Really done. I have my mind on my baby juices and that’s all I would wanna think about. 

And I’m busy falling in love with myself. Didn’t know she could be this cute and sweet and smart and funny! Lol. Sorry, But you’re replaceable. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal