Skip to main content

Vibe with Vision


Jika purpose sudah terdefinisi, seperti yang saya tulis di postingan sebelum ini, maka selanjutnya yang seseorang harus miliki adalah sebuah visi. Visi yang disertai dengan rencana tahap demi tahap untuk mencapai tujuan itu. Memang agak dalem sih, dan mungkin tidak semua orang akan berhasil mencapainya. Tidak semua orang akan berhasil mendefinisikan visi hidupnya, tapi memang tidak semua orang harus punya visi dalam hidup. Beberapa memang dicukupkan hatinya dengan menjalani hidup yang mengalir seperti air, dan itu baik juga buat dia.


Vision bisa juga diartikan sebagai pandangan hidup ke depan, jenis hidup seperti apa yang ingin kita jalani di hari nanti. Apakah yang terus menerus berjibaku dengan pekerjaan, atau yang kelak akan bisa menikmati warna sore sambil menikmati minuman hangat tapi tetap punya penghasilan tiga digit. Ya, itu pilihan. Karena setiap yang dipilih punya konsekuensi dengan levelnya masing-masing, semakin tinggi dan wah, semakin besar juga tekanan yang harus ditahan.


Jangan pikir ah masih muda ini, nanti aja lah mikirin rencana masa depan, sekarang mah enjoy aja., karena saya bertemu banyak sekali -- I repeat, banyak sekali-- orang di masa tuanya, empat puluh, lima puluh tahun, yang tujuannya hanya untuk mendapatkan cinta sejati. Ya bukan juga saya meremehkan tujuan untuk menemukan cinta sejati, karena memang idealnya kita itu semua tercipta berpasangan, dan bagi yang gagal membina rumah tangga, tentu tidak mau terus menerus sendirian dan menganggap diri tidak punya jodoh. Bukan begitu. Tapi maksud saya, cinta sejati, pasangan, atau apapun itu semestinya tidak dijadikan sebagai tujuan. Justru, dia akan menjadi bagian dari perjalanan. Seiring waktu jika seseorang sudah menemukan koneksi kembali ke dirinya sendiri, dia menciptakan getaran dalam frekuensi tertentu, yang dengan sendirinya akan sampai pada soul yang juga berada pada satu frekuensi yang sama. Kalian pasti akan dipertemukan, Allah punya cara-Nya dan itu tidak perlu kita duga, hanya saja setelah bertemu, lantas apa?


Jika kamu, dan dia, punya visi, dan visi kalian masing-masing ini ketika di overlay (halah) ternyata selaras dan seimbang, tentu setelah itu cinta bukan lagi jadi satu-satunya perekat hubungan.


Lagipula, cinta bisa bertahan berapa lama sih dalam suatu hubungan? Lima tahun udah paling maksimal kayaknya. Setelah lima tahun biasanya yang ada hanya tinggal tanggung jawab dan kasih sayang yang tumbuh karena terbiasa. 


Iyaa.. aku sotoy iyaa..


Anyway.,


Tulisan ini ditulis karena saya gatau lagi mau ngapain. Harusnya sih packing Karena kamar lagi disemprot, belakangan jadi banyak sekali nyamuk entah kenapa. Mungkin saya harus mulai decluttering lagi.


Decluttering itu juga salah satu cara membersihkan hati alias al-misbakh yang saya tulis di post sebelumnya, loh. Menelusuri lagi benda-benda yang kita punya, mempertanyakan kegunaannya pada diri kita. Kenapa masih disimpan? Karena memang masih berguna? Siapa tahu akan berguna? Atau hanya karena masih sayang aja?


Kalau cuma karena sayang mending langsung dialihkan ke tangan lain yang mungkin bisa menyayangi dengan lebih dalam. Boleh jadi benda itu sebenarnya menangis karena tidak pernah dipakai olehmu, dan dia lebih bahagia jika diberikan ke orang lain yang jelas-jelas akan memanfaatkan jasanya. Jika kamu memang sayang, maka berikan dia ke orang yang lebih membutuhkan. Bukankah dalam Islam, sedekah terbaik adalah sedekah benda yang paling kita sayangi?


Dengan decluttering, kita jadi bisa tahu sudah berapa banyak benda yang kita tumpuk dalam sebulan, enam bulan, atau setahun. Saya sendiri sudah setahun ini fix gak decluttering sama sekali. Padahal pandemi, dan dari dulu selalu bilang kalau bisa ada waktu di rumah yang lamaaa pasti rumah akan dibersihin secara keseluruhan. lie lie. 


Benda-benda yang tersimpan itu, yang tidak pernah digunakan itu, akan jadi temuan audit kita nanti di hari akhir. Alias dihisab. Satu persatu keberadaan mereka akan dipertanyakan, dan semakin banyak yang kamu punya, semakin lama juga pertanyaannya. Kalau kita sekarang di dunia saja sudah jadi orang anti ribet, pasti di akhirat juga makin males ribet. Maka selagi belum sampai ke sana, yuk dilepas-lepas. Saya juga habis ini akan ambil cuti khusus untuk decluttering dan berbenah diri memasuki tahun yang baru. Yaa walaupun hidup saya akan selalu menempuh awal baru di setiap momen; ulang tahun, awal yang baru. Habis lebaran, awal yang baru. Tiap Senin, awal yang baru. Tidak butuh tahun baru hanya untuk sebuah awal yang baru, tapi berhubung jatah cuti 2020 masih tersisa, dan harus dihabiskan.. so yep. There I go. lol. (too much information kali Mimm..)


Kalian juga pernah gitu gak sih? Cuti hanya untuk beberes rumah? Saya tadinya fikir itu aneh, tapi kok lama-lama ya biasa.


***

Vibe with vision ini maksudnya adalah doa, agar bagi yang hendak berpasangan atau bahkan mungkin sudah berpasangan tapi masih saling menyesuaikan, supaya bisa selaras dalam tujuan. Tujuan tentu sama; sama-sama melayani Allah. Tapi jenis hidup di masa depan yang akan kalian jalani nanti, mudah-mudahan bisa selaras dan seimbang.


Jangan sampai yang satu ingin tinggal di kota, yang satu ingin tinggal di pedesaan. 


Jenis hidup juga bukan melulu tentang letak geografis, atau design bangunan rumah, atau hal-hal fisik lainnya. Jenis hidup yang menjadi mimpi itu bisa juga berupa aktifitas, seperti yang saya sebutkan di atas, sore-sore menikmati matahari, pagi baca buku, dan yang chill-chill lain. Atau mungkin nantinya pingin punya sekolah atau lembaga pendidikan informal, yang membantu menyiapkan generasi muda untuk menjadi pemimpin masa depan. Karena kita masih punya tugas, setelah Konstatinopel berhasil ditaklukkan. Generasi kita, atau setelah kita yang akan mencatat sejarah berikut untuk menaklukkan Roma. Tapi kayaknya generasi kita udah agak... hmmm.. ya.. ya mungkin generasi setelah kita. Berarti tugas kita lah, terutama para perempuan, untuk menyiapkan diri menjadi Ibu bagi para pejuang. Ibu bagi anak-anak yang cerdas, berani, berkarakter dan tentu punya akhlak. 


Saingannya berat ya bund, ama tiktok. 

Hehe.

***

Bogor, 28 Desember 2020

Sudah lebih dari sebulan ini saya makan siang dengan menu selalu sama; Sambal Lalap. Maksudnya menunya ganti-ganti antara ayam bakar, ikan bakar, dan baru beberapa hari belakangan ini ayam goreng. Tadi, walau tahu belum pulih total, saya iseng mencocol sambal koreknya ayam goreng. Enak banget Ya Allah :(( dan benar saja, setelah itu serangan datang. Tapi saya lawan. Kali ini saya lawan dan berhasil! Saya pergi ke departemen store sore hari, sambil beristigfar tiap abang gojek lewatin lubang dan motornya terantuk batu karena itu kena ke kepala yang sakit bukan main, beli bolen (bolen Yogya kenapa enak banget sih), beli milk tea boba (YEAH sudah sebulan lebih ga minum boba, dan ternyata aku kangeen), dan beli beli sayuran sama buah untuk juicing besok.

Sampai di rumah, walau kepala masih sakit, dan sempat mencoba untuk throw up, saya paksakan diri untuk berkeringat. Nyapu ngepel nyetrika beberes, makan bolen, minum milk tea boba kopi kenangan, dan whuzz.. serangan itu pergi sendiri. HAHA!

Sambal lalap kenapa enak banget sih sambelnya.. tapi selama ini gapernah ku makan, baru dua kali ini aja ku makan dan langsung kumat.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk