Skip to main content

The Cringe in Everything

 What is worse than heartbreak PMS? Give me one right answer and I'll give you my heart money.

***

Cuma PMS yang bisa bikin emosi meluap-luap lebih dari biasanya. Urusan apapun bisa jadi baper dan sedih, termasuk kalau ada orang dikasih emot kiss kiss sedangkan gue cuma dikasih jempol doang. Padahal kalo dikasih emot kiss guenya cringe

Lihat ada orang bebecandaan di grup whatsapp, sambil berkode-kode ria ingin dicengin dipuji, gue naro hape sambil bergidik. Cringe. 

Nulis tulisan ini, dikoreksi terus sama grammarly soktau, hape diganti jadi shape, bikin gw langsung klik setting - turn off forever instead of next visit. Kezal. 

Yang paling parah adalah hari ini, ketika dalam sehari ada dua permintaan in-house training. Masing-masing orang itu kemudian menelepon, yang tidak saya angkat karena masih training dan masih meeting. Selepas makan siang, waktu sudah mulai selow, mulai saya telepon satu persatu. Hasil dari telepon pertama ini? Saya nangis dong, ngadu ke Allah.


Dari awal bicara si orang ini sudah mulai sok akrab, bentar ya mbak saya ngerokok dulu, yang saya jawab seperti biasa saya jawab orang-orang di telepon iya sok aja Pak, gak nyampe sini ini asepnya. Trus setelah itu dia tertawa, terbahak malah, lalu dengan seenaknya nanya saya kelahiran tahun berapa. Walau agak tersinggung, saya jawab dong, demi basa-basi klien yang mau minta penawaran. Pas dia sudah tahu makin terbahak lah dianya, masih bocah ternyata, gue sembilan satu, ujarnya lu bulan apa deh? eh ini gue ber lu gue aja ga apa yak., sambil haha hehe. Saya masih ladeni. Lama kelamaan makin centil, makin centil, makin ngaco, dan saya makin kesal. Jangan panggil 'Pak' dong, Aa aja, neng, Aa.. pingin nangis langsung.. 'gue orangnya gabisa berkata-kata, langsung action..' katanya lagi nyelipin di salah satu pembahasan. Sampai situ saya sudah jengah dan saya tutup dengan 'baik Pak, ini saya susun dulu penawarannya, karena kalau berlisensi atau tidak pun nanti komponen biaya nya kurang lebih sama. Saya kirim dalam 2-3 hari kerja'. 


Menjadi perempuan, single, di industri yang didominasi laki-laki memang sebetulnya menyeramkan. Saya sudah lumayan kenyang dengan perlakuan para laki-laki itu, yang menjadi salah satu alasan kenapa saya memutuskan mundur dari keproject-an. Saya tidak bisa menggadaikan status keperempuanan saya hanya demi cuan. 


Dianggap remeh? Sering. Dianggap anak kecil? Sering. Dipanggil 'Neng' supaya bisa sok akrab dan ngecentil-centilin saya? Duh gak kehitung ini sih. Pernah ada satu fase di mana saya selalu pakai lipstik merah supaya terlihat dewasa dan kayak ibu-ibu. Kerudung pun saya panjangin gak dililit-lilit karna saya takut dengan mata mereka. Pernah juga saya malah harus meminjam foto selfie berdua dengan teman laki-laki saya, supaya disangka nya saya punya pasangan. Padahal bo ti Papi nya Biru. 


Bahkan terakhir saya ke lapangan setahun yang lalu pun, saya masih ketemu staff yang menganggap saya ini gak tahu apa-apa dan harus diajari DI DEPAN FORUM. Saya konsultan, mendatangi masyarakat, untuk melakukan suatu agenda, dan dia, mengajari saya caranya melakukan sesuatu dengan microphone tertempel di bibirnya. Gitu Mbak, kalau orang lagi ngomong tu dengar. Katanya di microphone. Saya cuma bisa tersenyum kecut, tanpa sengaja bertukar tatap dengan bapak ketua Adat yang melipat tangan mengernyit dan melempar pandang tidak suka pada si mas-mas ex NGO yang bekerja di korporat itu. 

Yang terakhir saya dengar sih dia akhirnya resign ya?

Entah. Bodoamat. Dia itulah memori hitam yang gak ingin saya ingat lagi tentang aksi turun lapangan saya.


Belum lagi their dirty jokes. Ya Tuhan.. kadang kalau bapak-bapaknya asik, saya mau aja ikut nimbrung. I can be flirtier than them if I want, tapi seringnya merekanya gak asik. Tatapannya seperti melecehkan, bukan seperti menganggap saya ini rekan kerja. Itu saya tidak suka. 


Jadi belakangan ini kalau dapat perlakuan serupa, yang hanya lewat telepon atau chat, saya biasa saja. Toh sudah biasa diperlakukan begitu dalam pertemuan-pertemuan langsung sebelumnya. Tapi entah kenapa hari ini, saya nangis dicentil-centilin gitu. Cringe. 

***

I am not just my status.

I am not just my look. 

***

Jelang berakhirnya tahun, sambil merumuskan agenda meeting tahunan, sambil menyusun keseluruhan big point dari apa yang tahun ini sudah kita lalui sebagai perusahaan - menyambungkan titik yang berserakan antara catatan poin meeting sebelumnya dan aksi realisasi selama setahun belakangan - membuat saya.. baper lagi. Well done, PMS.


Ya, umur memang bukan ukuran segalanya. Bukan juga sebagai indikator kapan seseorang wajib dan pantas untuk menikah. Tapi sekarang saya dibuat berpikir, masih adakah orang yang menghargai perempuan, karena isi dalam pikirannya? Bukan saja karena bentuk tubuhnya, wajahnya, apalagi hartanya. Bukan tertarik padanya karna dia masih single, dan bisa seenak jidat merayu-rayu ajak makan malam sembunyi-sembunyi dari sang istri. Cringe. 


Kalau para laki-laki beristri itu tahu value dari seorang perempuan, tidak mungkin kan dia mencoba-coba ajak nge date seenaknya? 

Kalau para laki-laki single itu tahu value dari seorang perempuan, tahu kan cara memperlakukannya dengan respek dan tidak langsung nodong nanya umur nanya status, dan bilang duh masih bocah tar lu gue bully bully lu yak. Atau bilang kirim cepet ya penawarannya, atau kalau kamunya dikirim ke sini juga boleh. Cringe!


Masih adakah stok laki-laki yang tahu arti dan rasanya menghargai perempuan dengan cara mengajaknya berbincang tentang sesuatu yang dalam, dan bukan malah dipotong sambil bilang jangan sotoy deh lu. 

Yang mau mendengarkan jika dia berbicara tentang hal-hal abstrak seperti koneksi antara galaksi dan psikologi manusia, yang diwakili oleh bentuk yang sama antara semesta dan sel jaringan penyusun otak?

Atau tentang bagaimana hal-hal yang terjadi bisa sangat acak tapi sebetulnya menyambungkan dua titik yang memang sejak awal sudah ditakdirkan untuk tersambung?


Serius, masih ada kah?

***

Lima belas Desember kemarin adalah hari jadi yang saya pilih untuk merayakan enam bulan menjatuhcintai diri sendiri. Ini juga yang sedang diumumkan oleh Taylor Swift dari video clip Cardigan dan Willow. Makanya saya cinta sekali Taylor Swift, karena relatability kita bisa dibilang sampai 90%. Ketika Taylor bilang, I see my life as an album, what will this year be, is an album, dan sebelum itu juga saya sudah mulai menemukan bahwa setiap tahun ada poin besar pembelajarannya masing-masing, yang selalu membentuk saya menjadi sesuatu yang baru. 

Tahun ini, Taylor menandainya dengan willow tree, dan saya.. sebelum album ini keluar, sudah menggunakan warna willow tree green menjadi warna wajib dalam logo my baby business yang saya brief kepada designer lima bulan yang lalu. Saya jatuh cinta pada warna willow tree green yang saya lihat di Raijua. Memasuki tahun dua ribu dua puluh dengan penuh harap, disambut sederet pohon berwarna willow tree green sambil mendengarkan orang sana bilang 'ini baru hijau-hijau muncul, ibu. Kalau kemarin kering su..'

Sejak itu saya berkesimpulan, willow tree green bagi saya, adalah warna sebuah awal yang baru. Warna permulaan. 


Lima belas Desember dan saya menghadiahi diri sendiri slow juicer yang baru. Yang harganya dua kali lebih mahal dibanding slow juicer pertama. So the first expensive thing I bought in pandemic is slow juicer, and the second most expensive thing is still.. slow juicer. While I see my life per year as chapter, I also see my life per year as a big thing I buy, first home, then bla bla bla, and now.. slow juicers.  


Lol, emang dikiranya pas saya bilang hi my self, nanti kita jajan apa nih, saya bakal jajan kebab atau pepper lunch, gitu? Haha. Don't date me if you think of me that way. I am more of sambal lalap kinda girl. 

***

Sebelum tulisan ini ditulis, saya menyempatkan diri untuk menonton video clip Taylor yang berjudul Delicate, untuk kesekian kali. Makna dalam video clip itu dalam sekali, seirama dengan lagunya, 


This is for the best, my reputation never been worse so.. you must like me for me. 


Because.. hey.. whoever you are, kalau nanti kita ketemu, dan aku yakin kita pasti akan dipertemukan, karena Allah Maha Tahu dan Maha Mendengar, dan tidak pernah menyia-nyiakan doa seorang hamba, dan aku selalu berdoa untuk mu, berdoa untuk bisa dipertemukan dan dipersatukan dengan mu sejak dari masih di dunia., please, listen to this: I have reputation, and I hope you don't mind standing under the spotlight, karna ada banyak pasang mata mengintaiku di sini dan aku mati-matian membangun tembok tinggi hanya untuk melindungi diri. Those people? Those jerks yang selalu caper sama ku? They will hate you! Because you steal me from their shadow. 


Tapi btw Taylor memang selalu menaruh makna yang dalam di setiap videonya. Setiap angka, setiap kata, semua bermain menjadi kode-kode yang dia ingin kita pecahkan. Kalau saya yang lakukan itu, saya dibilangnya cucoklogi. Tapi Taylor juga tidak peduli kalaupun dia dibilang seperti itu, dibilang gak bisa nyanyi dia tetap nyanyi, dibilang terlalu curhat dan ngebuka privasi dia tetap menulis lirik-lirik yang relatable, dan ya.. gak ada yang bisa mendebat bahwa apa yang sudah dia karyakan, memang berdampak sangat luas.


PMS memang menyebalkan ya. Semua yang sifatnya pre- memang menyakitkan. 

***

Bogor, 16 Desember 2020

I'm begging for you, to take my hands, wreck my plans, that's my man. 



Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal