Skip to main content

My Love Story/ies in a Wrap ~ A Decade Summary

Terinspirasi dari perjalanan pulang sore ini dari rumah Eyang. Jalanan lancar mulai dari Pantura hingga sepanjang tol, bersama dengan playlist dari youtube mix yang memaksa saya berkaraoke sampai suara serak. Kapan lagi kan bisa nyetir tanpa penumpang yang akan protes dengar saya nyanyi yang suara dan nada gak sinkron, apalagi lirik asal-asalan.


Singkatnya, perjalanan tadi itu lumayan bikin baper dan mellow, karena lagu-lagu yang terputar adalah lagu-lagu yang saya lupa pernah ada. Lagu yang membangkitkan memori lama, selaras dengan apa yang sedang mama lakukan di rumah Eyang selama satu minggu terakhir: Nostalgia.


"Kaka Mifzal gak bisa disuruh beli ke Mang Aep yak? Dulu si Kaka Hilma umur segini mah udah jajan sorangan, disuruh beli ini itu, jajan permen karet, manehna teh.. pake sepedana nu pink tea.." kata Mama ke si Euteu, membahas anaknya Euteu yang baru berusia enam tahun, di depan ku yang setengah tertidur. Sayup-sayup mendengarkan tapi lebih peduli ke suara angin dari pohon mangga pukul sembilan pagi. Tidur babak tiga, dan Mama seperti ingin mengajak bicara, tapi saya lebih tertarik memejamkan mata.


Sebetulnya ada rasa bersalah dari kepulangan kali ini. Kepulangan yang hanya membawa energi sisa-sisa dari hasil maraton meeting de el el, sampai rumah sudah tidak minat untuk bicara sama orang. Saya agak menyesal sekarang, tapi yah sudahlah.. jadinya tahu bahwa ini ternyata yang dirasakan oleh sebuah keluarga jika ayahnya pulang dengan membawa energi sisa-sisa. Padahal yang di rumah menunggunya dengan antusias, yang ditunggu pas datang wajahnya ditekuk keberatan beban.


Dan saya juga jadi tahu penting sekali --krusial malah-- peran Ayah di dalam rumah. Anak yang ayahnya jarang pulang, sedangkan ibu nya sudah kelimpungan mengurus rumah, tidak sempat lagi mengajarkan hal-hal yang sifatnya wisdom, akan menjadi anak yang yah.. susah diatur, maunya njawabin terus, dan malas. Memang seharusnya tugas Ayah lah yang mengajarkan anaknya arti hidup, apa yang dicari, apa yang dituju, why we exist, seperti yang dicontohkan para nabi. Ibu yang lebih banyak bicara, ketempaan tugas untuk mengajarkan hal sehari-hari, termasuk pelajaran di sekolah. Tanpa satu dari itu, kasian anaknya, dia hanya tahu dia tumbuh dengan baik-baik saja, padahal ada yang timpang dan tidak seimbang antara hati dan pikirannya.


Hehe..

My monkey mind is not thinking straight right now, alur pikirannya loncat-loncat. Bear with me please, tapi beginilah memang cara otakku bekerja. Makanya kalo ku lihat ada orang yang habis ngomongin A tiba-tiba dia ngomongin L, aku mafhum sekali. Mafhum sekali.

***

Nostalgia ku melayang jauh saat lagunya Boyzone berjudul Drowning terputar dari youtube mix. Lagu jaman SMP, jaman masih kenal cinta-cinta monyet. 

Di sana, tidak banyak kisah cinta yang saya terlibat di dalamnya. Pembelajaran urusan percintaan justru baru mulai bulan ini, Desember, sepuluh tahun yang lalu.


Setelah dua bulan sebelumnya saya mengakhiri hubungan yang terjalin sejak SMA, saya bertemu dan langsung menjalin hubungan dengan si X ini. Dialah yang kemudian 'mengantarkan' saya pada pekerjaan yang saya tempuh sekarang, dan meski seberapa bencipun saya padanya, ada sedikit lah rasa terima kasih karena telah meninggalkan pelajaran berharga.


Bukan hanya karena dia menjadi salah satu pembuka jalan, karena tetap yang berkehendak untuk dia menjadi pembuka jalan hanya Allah semata, tapi juga membuat saya paham bagaimana sebetulnya cara pikiran laki-laki bekerja. Hubungan kami hanya bertahan selama lima tahun. Setelah itu dia menikah dan hidup bahagia dengan istri tercintanya. Sementara saya, masih berusaha untuk berdiri sendiri.


Setelah hubungan lima tahun itu, orang yang lalu lalang di sini sangat beragam: dari yang jauh lebih tua, nyaris sepantaran, yang hanya berani bermain kode, dan ada juga yang berani langsung mengakui. The Almosts,  I call them, yang membuat saya terlalu sibuk memikirkan hal yang salah.


Terlebih ada satu Almost yang benar-benar tidak bisa saya hilangkan dari pikiran, hingga bertahun lamanya. Lucu memang, ada yang belum jelas hubungannya tapi rasa memilikinya sudah tingkat tinggi. Seperti pede banget bakal jadi, tapi ya tetep gini-gini aja. Yang satu ini butuh satu kali perjalanan ke pulau terluar Indonesia, butuh nyetir sembilan jam pulang pergi tuk lihat laut, dan satu kali baking cookie delapan jam, untuk bisa mengeluarkan dia secara total dari sini. Inilah yang juga meninggalkan pelajaran paling berharga, sekaligus menjadi penutup kebingungan saya. Karena sejak toples kue-kue kering itu saya serahkan, sejak itulah saya benar-benar tersadar dan terbuka matanya untuk mengakui bahwa bodoh kali lu Miiim.  


Sejak itulah saya belajar mencintai diri saya sendiri, and trust me, there's nothing more liberating than falling in love with yourself. (Berarti sudah enam bulan ya, hehe.. hello my self, kita pilih tanggal 15 Desember buat ulang bulan ke-enam yuk? Jajan apa nih kita? wkwk).


Saya masih ingat Desember tahun lalu, pikiran saya begitu dipenuhi oleh si Almost satu ini. Benar-benar terokupasi dan doa serta pinta saya setiap hujan hanya agar dia dihilangkan sepenuhnya dari sini. Saya benar-benar meminta pada Allah agar mencabut perasaan saya pada dia sampai ke akar, tapi pelan-pelan ya Ya Allah, saya takut sakit, takut nanti melakukan hal-hal bodoh kalau sakit, begitu pinta saya tiap kali duduk di teras menatap langit yang menurunkan hujan. 


Sampai keputusan impulsive untuk membeli tiket ke pulau terluar itu saya ambil hanya dalam proses berpikir semalam. Saya ambil a detour, perjalanan memutar yang tidak langsung dari Jakarta, melainkan terbang dari Surabaya, dan untuk itu saya pilih berkereta dulu ke Surabaya. Sengaja. Biar jauh.


Niat saya hanya satu, ingin membuang jauh perasaan itu, meninggalkannya di Raijua. Sebelas Januari adalah tanggal yang saya pilih untuk mengambil resiko, mengirimi pesan yang tidak pernah saya kirim ke siapapun sebelumnya. Terus terang saya malu, dan mengakuinya di sini juga lebih malu lagi. Tapi blog-blog saya yang banyak itu sudah terbukti menjadi perekam terhandal atas kebodohan-kebodohan masa muda yang bisa jadi suatu hari bisa digunakan, 😁. 


Makanya tadi pas nyetir, saya benar-benar tersenyum penuh kemenangan. Betapa perjalanan itu tidak sia-sia. Walaupun hasilnya tidak instan, seperti pestisida sistemik yang butuh waktu untuk membunuh gulma tapi efektif, seperti itulah juga perjalanan ke Raijua itu. (Jadi pestisida kan ada pestisida sistemik dan pestisida kontak, nah yang kontak itu kalau langsung kena gulma, gulmanya mati, tapi ada kemungkinan tumbuh lagi karena cuma nyentuh atasnya doang serta lebih beracun. Kalau yang sistemik, kayak lagunya siapa tuh killing me softly.. hehe).


Sekarang, saya bisa nyetir panjang di jalanan lengang, menikmati musik sendu mendayu sambil nyanyi tak karuan tanpa pikiran tentang dia terlintas sedikitpun.


Desember, dan saya tidak lagi sibuk mencari-cari destinasi liburan tahunan hanya untuk melupakannya seperti yang saya lakukan nyaris tiap tahun mulai dari Solo hingga Gorontalo. Biasanya rencana menghabiskan cuti selalu berupa perjalanan ke tempat-tempat aneh, dengan misi yang sama berbeda. Tapi sekarang, hal yang ada di kepala saya hanyalah to keep my family happy, to consistently producing juice weekly, and to plan my next move (tho I'm not quite sure what is my next move yet). Juga laporan tahunan yang due di mabelas desember, persiapan fasilitasi annual meeting, belum lagi expense report yang bejibun itu notanya, oh mau launching en ef es es juga kan, yaampun lupa bikin konten kamis kemaren. 


Producing juice tetap harus rutin setiap minggu, karna customer gak mau tahu lu lagi ke mana kek ke mana, sekali lu launching jualan ya harus dirutinin. Kalo gak ya sama aja kayak mempermainkan perasaan mereka, apa sih ini dagang suka-sukanya dia aja, kan gitu. Pas mereka butuh kitanya gak ada, apa gak pindah ke lain hati tuh.. 🙊. Akutu udah capek bo dipermainkan, jadi gak mau juga main-main. ehh..

***

Saya akan tetap menghabiskan jatah cuti, tanpa ada destinasi yang berarti selain my bedroom desk. Satu-satunya hal yang ingin saya lakukan saat cuti Januari nanti, adalah membuat semua konten untuk my baby business, dari buku-buku yang saya baca dan sudah gemas ingin dibagikan. I really wanna made an impact, meskipun kecil dan gak ada yang respon cuma lingkaran itu-itu saja yang merespon.


Banyak yang ingin saya tulis, termasuk perjalanan composting sampah yang menular di perumahan ini. Tapi saya kepayahan juga rupanya menyeimbangkan waktu antara keluarga, kerjaan, dan bisnis.

***

Jadi begitulah sebetulnya perjalanan kisah cinta saya yang tidak banyak ini. Pelajarannya juga sebetulnya sering saya tulis di sini, tapi rasanya malam ini berbeda. Karena ini Desember, dan rasanya baru kemarin saya terombang badai di Selat Raijua berharap kapalnya menenggelamkan saya saja karna kepalang malu ngirimin pesan kayak gitu banget.


Tapi gakpapa.

Aku senang kok pernah mengalami hal seperti itu. Semua emosi, semua buncah perasaan, semua ketidakpastian dan kegalauan itu bisa ku gunakan nanti untuk tulisan-tulisan yang tidak pernah dikirim ke penerbit itu.


Ku masih sangat ingat di 2017 di pesawat Garuda Explorer menuju Bandara Silangit, saya bercerita dengan antusias pada Kak Bukhi tentang rencana buku yang ingin saya tulis dan kali ini most likely akan jadi setelah puluhan judul tidak ada yang rampung, dan Kak Bukhi juga mendengarkan dengan tidak kalah antusias yang kini membuat saya malu.

Sudah tiga tahun lewat, saya bahkan lupa nyimpen draftnya di mana, 😁.


Yaa, mudah-mudahan, kali ini, dengan saya yang baru menikmati dan baru tahu rasanya menjatuh-cintai diri sendiri, menerima diri sendiri apa adanya dengan segala ketimpangan, suara false dan lirik yang dilupa, yang gak bisa tahan dengan rutinitas harian, dan yang jelek-jelek lainnya (karna kalo kata quote, indikator cinta itu adanya di keberterimaan seseorang pada kekurangan yang dicintai itu).. mudah-mudahan dua ribu dua satu bisa lahir lah bayi baru, dalam rupa buku. Tahun ini sudah ada satu bayi lahir dalam rupa botol juice, dan perlakuan saya padanya, tidak kurang-kurang dibandingkan perlakuan seorang Ibu pada anaknya. He,


Mimpi ingin jadi penulis buku nih sudah ada sejak umur saya delapan tahun. Sampai umur dua puluh delapan baru ketemu cara mewujudkannya setelah random sekali coba sana-sini. Mudah-mudahan sih yaa.. (ini juga pingin kutulis nanti, kenapa sih kita mengejar mimpi yang di set sama bocah?)

***

If I look back, 2020 isn't that bad at all. Malahan saya mestinya berterima kasih. Karena saya memasukinya dengan penuh harap akan menemukan seseorang di tahun ini, dipersatukan, dan diberikan keturunan, tapi nyatanya saya justru dipertemukan dengan diri saya sendiri, mewujudkan buah pikir sendiri, setelah selama ini hanya selalu mewujudkan mimpi dan visi orang lain.


***

Bogor, 12 Desember 2020,

Dan saya tidak berminat sama sekali dengan harbolnas, ingetin ya nanti kapan-kapan mau ditulis juga tentang itu. (jadi udah ada berapa tulisan yang diniatkan mau ditulis nih.. hmm).

Btw sudah belasan tahun jadi perempuan, masih saja bingung kenapa badan ga enak banget, rasanya cepet capek, kepala puyeng, bawaannya baper dan mellow.. gejala Covid ama PMS ga beda jauh sih ya.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk