Skip to main content

Minimalism Concept in Islam and a brief lesson from the book: Company of One.

Sejak saya mengenal Islam dari hasil menelusuri konsep minimalism, saya berhenti pada kesimpulan bahwa minimalism bukanlah konsep baru, dan sudah lebih dulu dipraktekkan oleh Rasulullah SAW, yang disebut dengan zuhud. Agak menjadi tidak adil karena setelahnya saya hanya lebih banyak mempelajari konsep ketuhanan dan koneksi antara hati, pikiran, dan ruh, tidak lagi mengeksplor zuhud karena saya pikir, cukuplah sudah mempraktikkan minimalism dengan niat mencontoh Rasul. 


Padahal saya salah.

Hakikat ilmu adalah untuk dipelajari berulang-ulang, karena mencari ilmu bukan hanya tentang mendapat pengetahuan baru. Tapi juga untuk mengasah hati agar bisa meresapi apa yang dipelajari. Ini saya dapati setelah mendengar ceramah ringan di youtube yang baru di publish kurang dari 24 jam saat muncul di feed teratas youtube saya, dan bertemakan zuhud. 

***

Bagi saya, konsep zuhud lebih relevan untuk dipraktikkan ketimbang apa yang diajarkan oleh para minimalist dari Barat. Karena dasarnya dalam Islam, segala sesuatu itu berawal dari hati dan niat. Sehingga, jika praktiknya beda pada tiap orang, itu wajar karena kita melakukan sesuatu bukan untuk ditakar manusia melainkan Sang Pencipta, yang timbangan-Nya melebihi dari apa yang bisa dijangkau oleh indera.


Orang zuhud bukan berarti harus miskin, rumahnya kecil, bajunya itu-itu saja, dan gaji nya rendah. Orang zuhud tidak mesti juga selalu tinggal di masjid, live and breathe with dakwah, dan setiap kata yang dikeluarkan hanya seputar agama dan ayat-ayat Al-Quran. Jika dimaknai seperti ini, maka konsep zuhud sama saja dengan konsep minimalism dari negeri barat, yang hanya membatasi baju dan sepatu sebanyak sekian pasang, ukuran rumah sekian meter, dan hanya mempunyai satu atau dua gadget. 


Konsep minimalism dalam Islam tidak berbatas pada kuantitas, karena sekali lagi; minimalist tidak melakukannya untuk ditakar oleh manusia. 


Kebutuhan setiap orang pasti berbeda, laki-laki butuh jumlah baju yang berbeda dengan perempuan, pun perempuan single dan menikah punya jumlah kebutuhan skincare yang berbeda. Jika minimalism ditakar hanya soal kuantitas, maka tidak akan ada orang yang berhak mengklaim diri sebagai minimalist.


Pada dasarnya praktik zuhud bersumber dari hati, untuk tidak meletakkan dunia di hati tapi hanya sampai genggaman jari. Dia boleh kaya, punya penghasilan milyaran, dan tetap zuhud, karena hatinya tidak ditujukan untuk mengumpulkan kekayaan itu semata. Apa yang dia tuju, semua adalah untuk bekal perjalanannya setelah beranjak dari dunia ini. Orang boleh punya rumah besar dan tetap menjadi minimalist, karena alasannya membeli rumah itu bukan hanya soal prestis atau menimbun harta, tapi ada kebutuhan dibalik itu dan kebutuhan itu jika dipenuhi akan menjadi amal baik sebagai tabungan akhiratnya.


Pun sama, jika orang bela-belain hidup miskin, tidak mau digaji besar, dan selalu berpenampilan sederhana hanya agar dibilang zuhud, humble, dan minimalist, itu bukan bagian dari zuhud dan minimalism. Makanya jika melakukan sesuatu untuk timbangan Sang Maha Melihat, orang tidak akan sibuk membandingkan diri dengan satu sama lain, apalagi menghitung harta tetangga.

***

Empat hari berjibaku dengan jalan raya, meeting, dan segala urusan duniawi, saya memilih pulang dari rumah Eyang kemarin sore. Menembus jalanan Pantura yang lumayan lengang untuk level malam minggu, dan tiba di rumah jelang tengah malam.


Ruang kosong yang lagi-lagi saya sambut dengan khidmat, tembok abu-abu bertemu dengan langit-langit putih, membuat saya mengamini lagu Michael Bubble - Home yang terputar di tol Cikunir saat hujan mulai turun. Memang lebih ramai dan menenangkan berada di rumah eyang, di kelilingi orang-orang yang stuck sama saya sejak saya masih anak kecil cerewet manja dan cengeng, tapi berada di ruang kosong sendirian juga bisa memberi saya cukup ruang untuk bertumbuh.


Paginya, saya membaca buku Company of One. Salah satu konsep minimalism yang saya temukan, dalam konteks bisnis. Membacanya pelan-pelan, saya tidak mau membaca cepat karena rasanya buku itu memang berbicara pada saya. 


Company of one, mengajarkan saya to define growth. Bahwa skala besar itu penting, tapi bukan tujuan satu-satunya. Membuat bisnis yang lebih baik, jauh lebih berarti ketimbang membangun bisnis yang lebih besar. Dalam deskripsinya, buku ini mengajarkan tentang pentingnya memfokuskan diri pada jenis growth seperti apa yang akan kita tempuh, dan bukan semata-mata soal kuantitas. Jadi lebih ke menyeimbangkan antara staying small tapi tidak anti growth. 


Bukankah itu yang selalu kita butuhkan? Keseimbangan?

Saya selalu jatuh cinta pada keseimbangan, yang juga menjadi kata favorit sejak SMA pas belajar Bahasa Arab. Keseimbanganlah yang membuat semesta beredar rapi, tanpa terlambat sedetikpun. Keseimbangan juga yang membuat sebuah design menjadi enak dilihat, dan sebuah kehidupan menjadi nikmat untuk dijalani. 


Makanya konsep minimalism dalam Islam adalah tentang menjaga keseimbangan antara yang diinginkan oleh hati, dan yang dibutuhkan dari misi pribadi di dunia ini. Yaitu, hati yang menginginkan akhirat, tapi tidak menafikkan bahwa sebuah gelas harus terisi penuh dulu untuk bisa berguna bagi orang lain. Yaitu hati yang hanya takut pada-Nya, tapi tidak mengabaikan perasaan sesama manusia atas nama dakwah dan meluruskan akidah. 


Kenapa konsep ini menjadi sangat penting untuk dipelajari sekarang ini, terutama bagi para perempuan?

Karena lihat saja betapa kita sudah tidak punya moral compass dari jajaran pemerintah yang seharusnya menjadi pemimpin bangsa.

Menteri sosial mengkorupsi dana bansos? 

Satu luhut semua luhut orang menguasai banyak sektor?

The world is in crisis of good leader, ditambah lagi generasi bocah sekarang sudah sangat kecanduan akan hiburan. Bukan gadget ya, hiburan. Sedangkan kita masih punya tugas untuk menaklukkan Roma, setelah Konstantinopel sebelumnya berhasil ditembus oleh pasukannya Muhammad Al-Fatih. Maka boleh jadi, generasi yang akan menjadi pemimpin yang adil itu, datangnya dari generasi kita ini. Bisa jadi saya, kamu, atau siapapun yang mampir di sinilah yang kebagian peran menjadi ibu bagi anak-anak yang kelak akan memfokuskan diri dan hatinya pada tanggung jawab yang jauh lebih besar ketimbang hanya pemuasan nafsu semata dari games atau video.


Jika kita bisa memulai perjalanan self awareness dari minimalism, yang berkonsep secara zuhud, dan berlatih untuk mempraktikkan dari sekarang, bisa jadi besok kita akan terbiasa dengan hal-hal besar yang akan anak kita ambil dan memiliki resiko tinggi. Memang itu bukan one night process, saya pun menulis ini bukan berarti saya memang sudah zuhud, tidak sama sekali. Tidak perlu juga mengklaim diri, asalkan mau terus berlatih, walau nanti gagal lagi, trus nanti tobat lagi, dan seterusnya.


Memang lebih gampang menulis begini, ketimbang ngajarin langsung anak yang susah diajak belajar, maunya main hape terus dari pagi sampai malem. Saya mafhum sekali pada ibu-ibu yang stress dengan anaknya, dan untuk itu saya hanya bisa menulis di belakang. Yaa syukur-syukur kalau mampir dan dibaca. 


Tidak ada yang permanen di sini, dan tidak ada yang benar-benar kita miliki. Mau itu bisnis yang lahir dari buah pikir kita sendiri, atau anak yang lahir dari dalam tubuh kita sendiri, semua nanti akan menemukan jalannya masing-masing dan bisa jadi terpisah dari jalan kita. Supaya kita jangan jadi terlalu lekat, jangan terlalu merasa memiliki, apalagi merasa berjasa. Kita hanyalah jalan bagi mereka menemukan jalannya, sebagaimana sebuah jalan, nantinya pasti akan ditinggalkan.


***

Saya menulis tulisan ini, pikir saya masih jam setengah satu atau jam satu, ternyata sudah mau jam tiga. Tidak terasa dari pagi ulik juice, baca buku, tahu-tahu Senin sudah sangat dekat. Tulisan ini juga berangkat dari kegemasan bahasan di twitter tentang menteri-menteri, dan di saat yang sama, penyelenggaraan acara super penting yang saya terlibat di dalamnya harus diundur-undur terus hanya karena para pejabat yang mulia itu punya skedul lain. Pun ketika mereka setuju untuk datang, dengan seenaknya minta diubah jadwal yang sudah tersusun rapi. Itupuuuun.. kalau mereka tidak ada agenda lain, yang bisa jadi last minit dan mereka akan lebih memilih utk hadir di agenda lain itu.


Kalau sebelumnya mbahas parkiran di Mabes Polri, dengan si om, katanya 'ya banyak juga polisi yg arogan. Mesti digituin emang, kalo nggak ya ga bakalan sadar. Jangankan parkir, nyalain sirine cuma untuk pulang kantor saja mestinya gak boleh. Gue dulu waktu jadi Kapolres selalu marahin anak buah yang nyalain sirine buat pulang doang.' 


Kalau dari buku Company of One, memang power itu mematikan empathy, meningkatkan ego, dan membuat orang jadi less sensitive terhadap sekitarnya. Itu terjadi, jika dia tidak punya kesadaran akan hari esok yang akan dia tempuh dari liang kubur.


***

Bogor, 6 Desember 2020

Sederhana itu rumit, ya. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal