Skip to main content

Keris Eyang

 "Untung barudakna mah teu aya nu kos kitu.." Tanteku berbicara sambil tertunduk "..mamake isim" lanjutnya pelan. 

Untung anak-anaknya gak ada yang seperti itu.. pake jimat.

***

"Mun ku kerisna mah udah disuruh pulang, si Eyang teh.." kata Euteu. Hatiku teriris. (Kalau sama kerisnya sih eyang tuh sudah disuruh pulang).


Aku ingin merekam percakapan dua hari lalu, tentang Eyang dan perjalanan 'pulang' nya. Tentang keharusan Eyang mewariskan sesuatu yang ada pada dirinya, namun tidak ada satupun anak-anaknya yang mau menerima. Bahkan si Om yang sedang menuju kenaikan pangkat untuk menjadi jendral di kepolisian pun menolak. Eyang tidak mau membeberkan di mana dia menyimpan keris kecil itu, juga tidak mau keris itu dihancurkan kecuali nanti jika ia sudah pergi. Sekali waktu Eyang bersikukuh ingin sembuh, sambil kesal dengan tubuhnya sendiri yang tidak bisa digerakkan, tapi di lain waktu dia berkata begini..


"Mut.. apa.. ini.. obatnya.. to die?" aku baru tiba di Pamanukan, sehabis cuci kaki dan tangan langsung masuk kamar Eyang, dan dapat pertanyaan begini. (Mut as in Cimut.. panggilan masa kecilku dari Eyang)

"Today?" kataku balik bertanya, masih belum ngeuh.

"TO DIEE.." Eyang mengeraskan suaranya, aku mendekat. Sekuat tenaga menahan tangis dan kaki yang gemetar habis nyetir tujuh jam. 

"You're gonna be fine.. you will be alright." kataku pelan, membiarkan tangannya mengelus pipiku. Satu-satunya tangan yang masih bisa digerakkan dengan bebas itu kemudian ku genggam. Tangan kanan kami saling beradu. 


Aku menatap mata Eyang yang sendu. Mata yang begitu keras, yang dulu bersinar garang menunjukkan kekeras kepalaan dan ketangguhan karakternya itu kini redup dan bahkan memelas. Eyang ingin pergi, kini. Sudah tidak lagi bertanya kapan aku akan menikah, sudah bosan rupanya dia menunggu. Sebulan lalu Eyang masih begitu ingin sembuh, ingin bisa jalan lagi, dan pulang melihat Solo, kota kelahirannya. 


Sekarang, yang tersisa hanyalah ratap dan keluhan. Pernah di satu siang yang mendung dan hujan, aku menemani Eyang di kamarnya. Tiduran di sampingnya, simply hanya untuk mendengarkan dia berceloteh tentang apa saja. Tentang hujan yang turun tapi terlalu jauh rintiknya karena tertutup oleh atap teras samping, atau tentang buah mangga yang menjulur masuk ke halaman kami padahal itu milik tetangga. Dari jendela kamar Eyang, itulah satu-satunya pemandangan yang bisa kami lihat. Aku menanggapi sesekali, sambil membiarkan Eyang terus menerus bergumam pada dirinya sendiri.


"Eyang.. mau.. di.. rumah.. sakit.. aja.. lah.." ujarnya terbata "cuma.. satu.. juta.. lima.. ratus.." lanjutnya lagi. Aku tertawa kecil,

"Kenapa gitu?"

"Iya.. abisnya.. di sini.. yang ngerawatnya.. ga.. bisaeun.." keluhnya lagi. Hmh, mulai grumpy.

"Emang Eyang pen apa? Pen bisa mandi tiap hari ya?"

"Iya.. di sini.. cuma.. tiap.. dua.. hari.." keluhnya. Aku tertawa pelan. 

"Eyang nanti malam mau mam apa?"

"Kemarin.. si.. nenek.. dibeliin.. tim.. ayam.. ya?" ujarnya balik bertanya. Aku kembali tertawa pelan, kubilang iya, tapi kan itu yang kemarin.,

"Atuh udah abis kalo yang kemaren mah. Eyang mau juga sekarang?" 

"Nggak.." ujarnya sambil menggeleng. Klasik Eyang, selalu gak mau kalah sama Nenek. Orang yang dulu dicintai, yang dia akadkan untuk dijaga sampai mati, sekarang adalah orang yang paling sering diomongin di belakang sambil menggerutu. Aku selalu tersenyum tiap kali berduaan dengan salah satu dari mereka, karena yang mereka omongin hanya tentang kejelekan satu sama lain. How they finally hate each other, but remain together until they both are dying. "saut uncal aja.." lanjutnya (abon rusa aja).


Di lain waktu, Eyang meminta susu bear brand. Susah payah dia mendeskripsikan susu beruang, dengan kaleng putih.. brbrbrnd... yang kulanjutkan kalimatnya dengan tegas "Bear brand? Eyang mau bear brand?" yang dia jawab hanya dengan jempol kanan. Aku tertawa. Sepulang belanja, sambil membawa adik sepupuku alias cucu Eyang paling kecil itu jalan-jalan ke supermarket, mendorongnya di dalam troli sampai dia puas, aku kembali ke kamar Eyang dan meminumkan sekaleng penuh susu Bear Brand dengan sedotan. Dalam hati ku meringis.. Taurean, Javanese, loving food, and bear brand. Sungguh sangat remind me to someone yang sama keras kepalanya dengan Eyang.


But he's gone now. Completely. LOL.


***

Aku ingin merekam memori ini. Eyang's final moment where everyone is here. Mama adalah anak Eyang yang merantau paling jauh. Jadi kedatangan Mama selalu menjadi pelengkap keberadaan kelima anaknya. 


Eyang punya lima anak. Anak pertama kupanggil Papa Gode, he used to be so fat, but now he's so skinny. Mama adalah anak kedua, anak ketiga kupanggil Tante --karna dia adalah tante paling gaul sejak dulu kala-- anak keempat kupanggil Om, yang selalu kusebut dengan si Om, dan anak kelima kupanggil Euteu., dulu waktu ku kecil kita sering berantem karna dia masih kecil juga.


Sekarang semuanya berkumpul, dan aku agak tidak kebayang jika inilah final moment yang akhirnya ditunggu oleh Eyang. Walau Eyang masih berdoa ingin sembuh. Masih ingin melihat anaknya naik pangkat hingga menjadi Jendral, tapi aku tidak yakin lagi doa mana yang akan kuamini.


Di satu sisi, it really hurts to imagine a wedding without him. But I won't make the same mistake twice. Six years ago, I was too consumed with fear of losing Nenek, in her hospital bed she wishes me to get married and I said yes and I talk about this to my boyfriend and he agree, and we started planning a wedding, but we both are not that invested about the idea of marriage. Terlebih karna waktu itu aku belum paham konsep tujuan penciptaan manusia untuk beribadah. Belum paham bagaimana menikah adalah proses penyempurnaan ibadah, dan karena nya harus dilakukan dengan dasar yang mulia. Bukan di dasari oleh memenuhi keinginan orang tua. Sekarang setelah paham, aku tidak mau sembarangan. Hanya karena Eyang sedang sekarat lalu buru-buru mengiyakan tawaran menikah. Tidak begitu. The goal is to live a life with no regret, and I don't wanna grow up thinking that I'm heroically sacrificing my life for the sake of other people. It won't end well.


Namun jika inilah final moment yang ditunggu oleh Eyang, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus siap kehilangannya, tanpa bisa memberikan apa yang dia inginkan.

Makanya kemarin waktu jemput mama di bandara, dan si Om nelpon ngajak ketemuan, dengan nada panik yang berusaha dinetralkan aku bertanya kenapa, dan Om jawab tidak apa-apa, dan kubilang lagi, Om nangis? Lantas sambil tertawa dia bilang sedang agak flu, 'haha kena teror nenek ya' katanya membuatku lega.


Tapi jadinya setiap hariku kini dibayangi oleh akan mendapati phone call yang kurang lebih seperti itu bunyinya. Makanya aku benci phone call. Aku takut. Tapi itu berarti aku tidak siap kehilangan, sedangkan yang selalu kutulis di sini adalah untuk menghilangkan kelekatan. Aku takut mendapat kabar Eyang akhirnya pergi dan aku tidak di sana. Tapi untuk bisa ke sana setiap minggu, adalah hal yang terlalu muluk, terlebih dengan beban pekerjaan akhir tahun yang yah.. akhir tahun.. 


Keris Eyang harus diwariskan oleh sang penerima yang sehat lahir dan batin. Tentu tidak akan diwariskan padaku, karna aku jauh dari cukup umur. Pun apa yang ada di dalam tubuh Eyang, juga tidak akan diwariskan padaku. Satu-satunya hal yang kudapat dari Eyang, adalah contoh untuk selalu bisa berpasrah dan berserah diri. Itupun belum bisa kupraktekkan dengan kemungkinan akan kehilangan Eyang. 


Karna Eyang selalu ada di rumah setiap kali ku pulang.

Bahkan ketika hubunganku gagal dengan kak mantan, dan aku menolak menyambangi mereka selama dua tahun penuh karena terlalu galau dan agak sedikit menyalahkan mereka yang terlalu banyak tuntutan, Eyang tidak mengungkit-ungkit hal itu lagi saat pertama kali dia bertemu dengan ku setelah dua tahun. 


Eyang selalu duduk di kursi kebangsaannya. Posisi yang sama dengan dua puluh tahun lalu. Eyang selalu tahu semua harga terbaru, bahkan harga mobil termurah dan terbaru pun dia tahu. Eyang masih hapal digit pin ATM nya, padahal almarhumah Oma Manado dulu di usia Eyang sudah tidak bisa mengingat kejadian sepuluh menit yang lalu. Tatapan mata Eyang yang sekarang, mengingatkanku pada tatapan mata Oma sepuluh tahun yang lalu. Eyang mungkin sudah siap pergi,. tapi aku belum siap kehilangan satu figur laki-laki yang mencintaiku apa adanya. 


Eyang ingin aku bawakan minyak urut cimande dan juice semangka pada kunjunganku selanjutnya. Tapi aku bahkan tidak tahu apakah minggu ini sanggup untuk mengunjungi mereka di sana, dengan jadwal meeting dan event sana sini yang semakin menggila.


Ketika kemarin aku bilang ke Eyang aku mau pulang, lalu Eyang bertanya heran kenapa pulang Hari Sabtu bukankah besok Minggu, hatiku kembali teriris menahan tangis. 


Nulis ini sambil mengingat-ingat, kapan terakhir kali I had a good cry. Rupanya sudah enam bulan lewat sejak I took the nine hours drive to Pelabuhan Ratu yang menyembuhkan itu. Waktu itu aku belum tahu, kalau akan ada gelombang lebih dahsyat lagi yang akan datang dalam enam bulan, dan tidak akan sembuh hanya dengan escaping ke pantai. Kalau tahu, sudah tentu tiap minggu aku akan pulang, bawa Eyang jalan-jalan, dan pergi ke Solo menyambangi makam kedua orang tuanya walaupun non-muslim, yang selalu dilarang sama Nenek: ulah jiarah-jiarah, kristen eta teh.  


***

Bogor, (masih) 6 Desember 2020

Oma dulu selalu duduk di beranda, jika aku di sana, cerita favoritnya adalah tentang masa kecil papa yang pendiam. Aku suka duduk di lantai, di bawah kursinya. Mendengarkan. Hanya tiga tahun ku sempat berkenalan dengan Oma. Satu tahun setelah aku lulus SMA dan kembali meninggalkan Gorontalo, Oma akhirnya pergi setelah solat subuhnya. 

Aku tidak ada di sana waktu itu. Yang kuingat, aku sedang berjalan menuju sekret Lawalata, baru sampai di depan lapangan tenis, ketika tanteku menelpon dan ku terduduk di situ saat itu juga. Menangis. Cuma sebentar ku mengenal Oma, karna masa kecilku lebih banyak dihabiskan di sini bersama Eyang. Tapi perasaanku sehancur itu, rasa kehilangan itu nyata, padahal sudah tahu kematian adalah niscaya. 


Sekarang, kalau Eyang yang pergi.. dan aku belum bisa memenuhi pintanya.. apa yang harus kusiapkan biar hati ini gak hancur hancur amat.. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal