Skip to main content

Jadi Supir Mama, Day One (and a half) -- postingan tidak mengandung unsur minimalism.

Dua puluh sembilan tahun menikah, dan Mama masih menjadi perempuan yang menceritakan seluruh hari yang dilaluinya ke Papa, bahkan saat mereka sedang terpisah jarak. Semua yang dia ceritakan kepada saya sepanjang perjalanan Soekarno-Hatta - Laladon, juga diceritakan ke Papa paginya melalui telepon. Saya masih setengah sadar setelah tidur babak kedua, agak enggan untuk bangun, tapi kok nguping enak.. 

Father is annoying, but he's a good listener to Mom. 

***

Saya tekankan sekali lagi, seperti yang pernah saya tulis di blog ini sebelumnya, berbakti pada orang tua tidaklah seindah yang ditampilkan di sosial media. Itulah kenapa perintah untuk berbakti, berbuat baik, sampai larangan bilang 'ah' saja sampai harus disebut dengan lugas tanpa kode-kode semesta di dalam Al-Quran.


Padahal, Al-Quran adalah kitab yang mengajarkan manusia hal-hal yang tidak diketahuinya. Ada juga ayatnya yang menyebutkan bahwa Al-Quran tidak mengajarkan hal yang bisa dipelajari sendiri oleh manusia, makanya yang diceritakan dalam kisah-kisah nabi terdahulu bukan saja tentang runtutan kejadian dan sejarah tetapi juga apa yang menjadi pergulatan batin dalam cerita tersebut. Agar manusia tidak hanya mengambil pelajaran dari yang terlihat atau terdengar saja, tapi juga dari lapisan yang lebih dalam dari itu. 


Kalau berbakti pada orang tua semudah 'kita merasa berhutang budi pada mereka karena telah melahirkan dan membesarkan kita ke dunia,' Al-Quran tidak akan perlu mengulang-ngulang perintah tersebut di beberapa bagiannya. Karena nyatanya, berbakti dan berbuat baik pada orang tua adalah hal paling mendewasakan kita semua, karena di situ ada emosi dan ego yang harus ditekan, kehati-hatian yang harus selalu dikendalikan, dan keikhlasan terhadap sesuatu yang tidak kita ketahui bagaimana akhirnya.


Ya, saya menulis ini padahal baru dua hari jadi supir menemani Mama. Satu hari sebetulnya, setengah hari nya lagi adalah malam perjalanan dari bandara ke rumah. Membawanya ke rumah yang mereka beli, menghadapi kecewanya terhadap apa yang sudah saya warning selama ini, (and seriously, I managed to didn't say things like 'told ya'.. sumpah itu susah), mengikuti perubahan moodnya yang dari pingin sate maranggi, nyetir sampai Tajur, minta terusin aja langsung masuk tol ke Jakarta buat ketemuan sama adiknya, trus melipir masuk lagi ke Bogor dan mampir toge goreng di Surya Kencana.

***

Hari ini ditutup dengan nongkrong bareng si Om, adiknya Mama yang kini menjadi kepala bagian di salah satu departemen di Mabes Polri. Beliau ini tadinya yang memegang divisi per-IT-an yang mana adalah seksi karena dengan begitu sebetulnya saya bisa memasukkan lini bisnis kantor untuk mengerjakan projectnya Polri. Tapi yaa.. belum rejeki. 

Anyway,

Kami nongkrong sebentar di tempat makan, sambil cerita-cerita tentang Eyang, sambil grill daging, rebus kuah tomyam, seru sekali. 

Namun di akhir tetap ditutup ringan oleh si Om, dengan kalimat begini;

"Tapi ada satu yang kami tunggu-tunggu, terutama mamahmu.." katanya sambil mengangkut selembar daging tipis yang sudah matang "..itu". Saya refleks mengangguk cepat, bilang bahwa saya paham, dan kalian tenang saja, "ada kok, ada.." saya berkata sambil dalam hati meyakini bahwa Allah dengar percakapan ini, and He is doing something. 

Kalimat terakhir si Om membuat saya semakin meringis,

"O.. iya bagus kalau ada. Eyang pasti seenang sekali. Senang sekali. Gw apalagi.." ujarnya kali ini sambil memasukkan sebongkah besar brokoli dan kol. 

***

Tapi ada satu hal yang saya tarik garis benang merah antara Mama dan Eyang. Tentang menjadi orang tua, berpasrah, dan ikhlas.

Mama merasa, Eyang masih belum menguasai pasrah atau ikhlas. Masih ingin mengontrol sesuatu yang diluar kendalinya, sehingga itu yang membuat Eyang menjadi grumpy. Sedangkan saya, saat ini pun merasa yang sama tentang Mama yang merasa harus mengendalikan semuanya, dan belum bisa untuk berpasrah. Mama belum bisa menerima dan membiarkan semesta bekerja. Yang terjadi biarlah terjadi, sepertinya tidak ada di dalam kamus Eyang (menurut Mama), dan tidak ada di kamus Mama, (menurut saya).


Mungkin itulah kenapa sedari sekarang kita harus terus menerus melatih diri untuk berpasrah. Berhenti mengontrol hal-hal yang tidak berada di bawah ranah kendali kita. Jika ada sesuatu yang ingin kita ubah, tapi kuncinya tidak di kita, jangan dibawa pikiran tapi serahkan pada yang Maha Mengatur. Keberpasrahan itu --to remain stoic in every situation-- lah yang penting sekali bagi setiap orang yang ingin atau sudah menjadi orang tua. Tentu saja ini adalah latihan hati yang terus menerus, seumur hidup, dan tidak ada sertifikatnya. Ada banyak sekali hal yang berada di luar kendali kita, jika terus menerus kita pikirkan, hidup hanya akan berada di seputar mengantisipasi ketakutan. Padahal yang harus diantisipasi adalah jika mati tidak bawa bekal.

***

Kan saya bilang juga apa, semesta itu punya pola. Cara kita mengenali pola itulah yang menjadi kunci mengapa setiap keturunan selalu lebih baik dari pendahulunya. Karena setelah pola itu dikenal, orang cenderung untuk memutus rantai tersebut, dan berevolusi menjadi karakter baru --dan menemukan kesalahan baru untuk selalu dipelajari terus menerus-- bukankah hidup itu selalu tentang belajar, membaca, dan mengamati?

***

Lewat pukul sepuluh malam, nyetir cantik nan santay di Jagorawi, dengan Mama di kursi penumpang sembari menolak kantuk, Kiss FM menghadirkan lagu ini:

Baby, lay on back and relax, kick your pretty feet up on my dash

No need to go nowhere fast, le'ts enjoy right here where we at

Who knows where this road is supposed to lead

We got nothing but time 

As long as you're right here next to me,

If it's meant to be, it'll be, it'll be

Baby, just let it be

So won't you ride with me, ride with me?

See where this thing goes


I don't mean to be so uptight, but my heart's been hurt a couple times

By a couple guys that didn't treat me right 

I ain't gonna lie, ain't gonna lie

Cause I'm tired of the fake love, show me what you're made of, 

Boy, make me believe

***

Bogor, 4 Desember 2020 00.13

Friday!!

Sebagai orang anti ribet, ritual tidur saya super duper ribet. Pertama menyetrika baju tidur dulu, karena minggu lalu terlalu padat nyetrika pun tak sempat. Lalu mandi, cuci muka, ganti baju. Dilanjutkan dengan skincare empat tahap. Belum selesai di situ, saya masih harus pakai lotion, dan kebut kasur (but now with Mom on it). Tak lupa buka laptop, dan nulis beginian minimal sejam, sambil kontemplating, besok mau ajak Mama makan di mana. 

***

Special for today, post scriptnya ada dua:

Sumpah ya 'kamu' udah nyampe mana sekarang? Mudah-mudahan jangan kelamaan di rest area, atau terjebak macet, takutnya kita sama-sama keasikan. Kan ini jalan masih panjang, aku maunya kita lekas jalanin ini sama-sama, supaya pahala nya dobel. Walaupun aku sangat sadar bahwa perjalanan itu nantinya tidak akan semenyenangkan sekarang ini waktu kita masih masing-masing. Karena sebagaimana berbakti pada orang tua, menikah pun punya alasan kuat sampai rewardnya sebesar itu; menyempurnakan separuh agama. Biasanya kalau perintah dan rewardnya sebegitu dahsyat, menjalaninya juga rada peer. Tapi aku tahu kamu kuat, karena akupun sama. Kita diciptakan bersamaan, your soul feels like mine, dan itulah kenapa kita ditujukan untuk menempuh jalan dengan tujuan yang sama. So, please.. whoever you are, if you're taking a detour right now, turn that godamn map and ask around! Petunjuk orang di pinggir jalan kadang lebih ampuh daripada suara seksi mbak google map. 

Gajadi ding.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk