Skip to main content

Inside the Mind of ISFP Woman who just wanna Chill

 Mendung masih menggantung seru. Jam sudah menunjukkan lewat pukul sembilan malam, dan saya baru melangkahkan kaki ke luar ruangan. Dari dalam masih terdengar suara-suara speaker dari persiapan acara yang akan kami selenggarakan besok pagi. Ribet, pikirku dalam hati. Mestinya si yang ditugasi mengurus teknis penayangan live streaming hadir malam ini, bukan malah mengkordinir dari jarak jauh. 


Saya bukan saja kesal karena ketidak jelasan mereka dalam berkordinasi, karena tidak mungkin juga saya kesal apalagi marah pada teknisi-teknisi yang sudah hadir sejak sore tadi. Mereka masih sangat muda, hanya menunggu perintah dan aba-aba. Tapi yang menjanjikan bahwa semua akan baik-baik saja dan terhandle dengan rapi malah tidak hadir di H-1.


"Mbak sori banget gue duluan," saya angkat bicara setelah hening jeda beberapa lama. "takut ga kebangun euy besok pagi, udah seminggu gue ga bangun subuh". Mbak Indra, perempuan cantik yang ternyata usianya mendekati usia mama saya tapi wajahnya masih seperti sepantaran saya itu mengangguk mengiyakan. Dengan muka prihatin beliau berkata

"Iya gapapa gapapa.. thank you banyak ya.." katanya meyakinkan. Tanpa basa-basi saya langsung berkemas, memesan gojek, dan berjalan kaki ke depan yang langsung disambut gerimis tipis.


***

Entah karena angin malam yang dingin menusuk, atau abang gojek yang berlari dengan kecepatan di atas 60 km/jam, kepala saya terasa berat sekali di perjalanan tadi. Yang terbayang di pikiran saya hanyalah rasa syukur tidak perlu menghadapi wajah masam cemberut karena pulang kemalaman. Kebayang nanti kalau punya suami, baru pulang jam segini, nyampe rumah udah mah capek trus diambekin.. 


Padahal seharian tadi mood saya sudah tertata baik. Senin yang biasanya dipenuhi dengan meeting mingguan, kini dipindah ke Hari Rabu, dan saya bisa sedari pagi fokus menyelesaikan laporan tahunan yang sudah diminta sejak 4 November lalu. Terbukti bahwa ternyata, sebetulnya, saya bisa menulis 18 halaman laporan yang berangkat dari halaman kosong selama kurang lebih delapan jam dengan jeda sesekali untuk mengukus cilok atau makan donat bikinan Mbak tetangga. Saya bahkan tidak berselera membuang waktu untuk makan nasi, karena saya tahu karbohidrat dari nasi membuat otak jadi rada lemot.


18 pages front and back! Jadi itu novel-novel yang ingin saya tulis kenapa tidak ada yang rampung coba. Kalau alasannya waktu... 

Yah..

Anyway..

Laporan tahunan sengaja saya kebut hari ini agar besok bisa fokus seharian ikut mengurusi acara peluncuran ini. Acara yang melibatkan banyak sekali pihak, dan lagi-lagi kami digegerkan dengan kabar yang sangat membuat ngilu.


Adalah bapak pejabat sebutlah berpangkat direktur jenderal (saya adalah orang yang selalu memperhatikan penulisan huruf kapital, jadi kalau tidak saya kapitalin berarti saya tidak respect), yang meminta jadwal yang kami susun 1 Desember lalu itu diundur. Alasannya rupa-rupa. Kami manut. 1 Desember telah diganti menjadi 15 Desember, dan di set pada pukul sembilan. Oleh karena beliau yang mulia ini jugalah acara itu diminta dimajukan menjadi jam delapan. Karena beliau hanya bisa memberi sambutan di jelang pukul sembilan. Lagi-lagi, kami manut. Rupanya, hanya beberapa jam sebelum acara beliau bisa mengiyakan tawaran acara lain bersama dengan bank dunia dan membatalkan kehadiran nya di acara kami.


Padahal ini bukan saja urusan rundown, tapi juga urusan teknis mengenai tampilan layar, layout video, dan pengaturan in and out ke screen besar di dalam ruangan.


Saya hanya bisa ikut tersenyum tanpa ikut-ikutan misuh walaupun ingin. Lagi-lagi saya mencoba merekam kejadian ini dalam hati, karena belakangan saya selalu menganggap apapun yang saya lewati sekarang adalah untuk persiapan saya di masa depan. Bisa jadi nanti saya ada di posisi itu sebagai ibu pejabat dan punya akses untuk menasihati orang dengan posisi yang sama. Supaya jangan begitu, gitu loh.


Soalnya saya ingat, setiap kali nyetir pulang ke Pamanukan, yang mana nyetir adalah cara saya to clean the corner in my head, saya selalu bersyukur mau kayak gimana juga jalanan. Mau macet, mau padat, mau mobil rentalan yang saya pake rada-rada ga enak, saya menolak mengeluh. Karena dulu, saya pernah ada di posisi harus naik bis dua kali, dari Baranang Siang ke Rambutan, Rambutan ke Pamanukan. Belum nungguin nge temnya bisa sampai dua jam, trus panas karna bis Warga Baru dari Rambutan gak ada yang AC (sampai sekarang). Belum lagi rupa-rupa penjaja dagangan, rupa-rupa penumpang yang duduk di sebelah. Bahkan pernah satu kali di musim mudik, saya dibiarkan berdiri dari Rambutan sampai Sukamandi. Waktu itu belum ada Tol Cipali, jadi Pantura keluar dari tol Cikampek mwacetnya bukan main. Itu kurang lebih lima jam saya berdiri sampai pingin nangis tapi ditahan. Tapi nangis juga sih, dikit.


Saya masih ingat rasanya menunggu di pinggiran jalan di terminal Rambutan, di datangi orang yang menawarkan jajanan, saya pasang muka sok tidak peduli dan menolak padahal dalam hati takut bukan main.


Ingatan itu yang kini menjaga saya dari perasaan tidak bersyukur. Bahwa sekarang mobil yang saya kendarai masih pinjaman, tapi setidaknya selalu bersih (karna saya selalu request untuk dibersihin dulu dan abangnya selalu nurut). Ingatan itu juga yang menjaga agar saya tetap selalu berpikiran baik tentang orang-orang yang lalu lalang di jalanan, yang menjajakan dagangan, atau bahkan bis-bis yang ngebut asal-asalan. Saya tidak ikut-ikut mengklakson jika ada bis menyalip dengan seenak jidat. Yah.. mungkin ada penumpang di dalamnya yang butuh lekas sampai karna dia sudah dibiarkan berdiri selama lima jam.


Sekarang, setiap kali ada pemimpin yang tidak tegas, pemimpin yang seenaknya membatalkan acara, yang semena-mena terhadap jadwal orang, saya biarkan saja. Sambil berjanji dalam hati, jika memang saya kedapatan tugas mendampingi seorang pemimpin, tugas sayalah mengingatkannya untuk tetap dalam jalur yang adil. Karna bukan hanya dia nanti yang akan dimintai pertanggung jawaban, kita berdua sebagai tim pasti akan ditanyai hal yang sama. Kalau ada hati yang tersakiti dan menuntut karenanya, kami berdua juga lah yang harus menanggung akibatnya nanti.


Hidup itu terlalu dangkal jika tujuannya hanya sebatas dunia saja. Mau hidup sampai umur berapa sih, umur enam puluh juga sudah maksimal. Lewat dari itu juga sudah tidak bisa menikmati apa-apa. Bisa makan dan berdiri saja bersyukurnya minta ampun. Belum lagi kalau nanti ingatan sudah makin tumpul. Sekarang aja ingatan saya sudah sangat tumpul. Masa jaket ketinggalan seminggu lalu baru ngeuhnya sekarang karna mau dipake. Pas saya cari tidak ada dan akhirnya menyerah pakai jaket lain, saya terus mencoba mengingat kapan terakhir kali jaket itu dipake.

Senin ya di Spektrum, besoknya Selasa gw masih pake deh itu kayaknya. Rabu kan gw pake yang jeans, setelah itu udah ga pake yang itu lagi. Sampai harus scroll up chat grup whatsapp yang menampilkan foto meeting Selasa lalu, dan benar saja saya pakai jaket itu ke kantor. Segera saya chat OB di kantor, dan tiga jam setelahnya beliau balas iya ada ba.. 


Walau demikian, saya tetap akan mempertahankan jadwal yang sibuk ini. Jadwal padat yang sangat padat. Yang mengerjakan banyak hal secara simultan selama prosesnya tidak menyakiti atau menyusahkan orang. Kenapa? Karna saya senang melakukannya, dan itu membantu mengusir sepi tiap kali pulang ke rumah kemalaman dan gak ada muka masam yang ngambek karna ditinggal kelamaan.

***

Bogor, 14 Desember 2020

Semua yang Allah atur itu pasti rapi, kita harus melalui jalur ini dulu karna pelajarannya akan kepake nanti di depan sana. Makanya harusnya sih percaya aja, tapi ya namanya orang.. saya ni rajin menulis tentang Islamic view and whatever tapi solat subuh aja udah seminggu telat mulu. Kadang tiap bangun dan kesiangan, saya selalu bilang tuh kan coba kalo udah ada pasangan kan ada yang bangunin ni Ya Allah, please atuh lah.. tapi trus saya buru-buru istigfar dan langsung solat Subrang alias subuh beurang. 

Padahal mungkin Allah ni sedang menguji saya supaya lulus. Supaya selalu mikirin Dia saja, dan hanya bergantung pada-Nya. Saya mah masih aja mikirin dunia terus. Padahal dalam solat pas kita bilang Allahu Akbar, artinya kan Allah Maha Besar. Maha Besar kan artinya tidak ada lagi yang lebih besar, tapi kenapa begitu tangan ditangkupkan yang terlintas dipikiran malah eh kemarin makan sambal lalap bilangnya total dua enam padahal mestinya dua enam tambah lima sama dengan tiga satu, kan gw makannya ayam kampung bukan ayam boiler. Kalo ayam boiler mah iya dua satu tambah lima jadi dua enam. Laah..

Kalo kita lagi solat, trus tercetus ide brilian, seperti ilham yang menginspirasi itu datangnya dari Allah apa dari setan si? Misal itu for a good cause pun tapi kalau datang di tengah2 takbiratul ikhram gitu a saint atau a sin?

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2