Skip to main content

Hai, 5 Tahun

Hai, 5 tahun.. 

Begitulah cuitan saya pagi ini saat bangun tidur yang ke-tiga kali. 

***

"Hari ini aku lima tahun, Bu.." saya berbicara pada Bu Ela siang tadi. Kami sedang duduk bersama enam orang lain di ruang belakang kantor CU17A, menikmati makan siang yang disajikan dari tetangga sebelah yang baru pindah. Ruangan ini, ruangan pertama saya secara resmi berstatus karyawan.

"Oh ya? 1 Desember? Wah selamat.."

Mata saya menatap lekat wajah cantik perempuan berusia empat puluhan itu, namun pikiran saya melayang pada kali pertama saya mengenal kantor ini.

***

Adalah Kak Ex yang membawa saya ke sini, merekomendasikan saya pada seorang manajer yang menawarkan sebuah project lapangan. Saat itu saya masih tingkat akhir, dan tengah menyelesaikan penelitian skripsi. Tapi tawaran itu tidak saya tolak, walaupun pertama kali ikut meeting rasanya deg-degan bukan main. Nyaris membatalkan keikutsertaan, hanya karena saya terlalu gugup mendapat pekerjaan mendadak dengan bayaran sangat tinggi (bagi saya waktu itu).


Enam bulan kemudian tawaran lain datang lagi, masih dari orang yang sama, namun untuk project berbeda. Karakter saya yang saat itu; periang, terbuka, antusias, mau disuruh apa saja, sangat mudah memikat hati para menejer. Singkatnya, saya diminta bekerja sebagai staf tetap setelah tawaran project ke dua. Tawaran yang tentu saya iyakan dengan cepat, meskipun saat itu saya masih bekerja secara paruh waktu di studio film dokumenter.


Ada terbersit sedikit risau di hati, yang saya bawa kabur ke Semarang pada akhir November. Bersama seorang teman SMA, menonton Ngayogjazz lalu naik travel Yogya-Semarang. Memesan kamar hostel murah yang lokasinya di atas Indomaret, terbahak-bahak sepanjang jalan, namun pulang dengan hasil yang nihil. (Kecuali ide membuat buku untuk angkatan yang terealisasi dengan apik). Nihil dalam artian, tidak ada perasaan risau yang berhasil disingkirkan. Saya akhirnya memilih, dan mengambil keputusan yang menghancurkan karakter saya: menerima tawaran sebagai staf tetap, yang saya tahu akan berujung pada rusaknya hubungan yang nyaris terikat permanen.


Demi menutupi kesedihan dan ketakutan, saya tampil menjadi orang yang terlalu periang. Terlalu dibuat-buat, dan hasilnya, mengundang cinta dari orang yang dibuat-buat juga. Kak Ex sudah pergi, hubungan lima tahun kami berakhir, saya melanjutkan project demi project sambil menyaksikan satu persatu teman saya dilamar dan menikah.


Tekad saya sederhana saat itu, hanya ingin mengumpulkan modal untuk cari beasiswa kuliah ke luar negeri. Saya hanya ingin kuliah ke luar negeri, demi prestis dan pembuktian diri. Tapi itu kan harus tes IELTS, harus les, harus bayar biaya administrasi pendaftaran, dan bla bla bla yang tidak mungkin saya minta ke papa. Terlalu gengsi.


Tanpa pernah menyangka, bahwa dari keputusan dan tekad itu, lima tahun kemudian, saya akan menghuni sebuah rumah kecil, alih-alih bayar tes IELTS, saya malah rutin menyetor ke bank untuk jiwa yang sudah saya gadaikan. The 5 years ago me will be surprised to see my self juicing every morning, while singing and dancing like a crazy lady.


1 Desember tanggal yang saya pilih untuk memulai pekerjaan ini, agar mudah diingat.

Saya bahkan sudah tidak lagi sibuk mengatur langkah selanjutnya. 


***

Lima tahun berada di satu perusahaan yang sama, bagi orang yang anti komitmen mudah bosan seperti saya, ini adalah sebuah terobosan. 

Setidaknya sekarang saya belajar untuk berkomitmen, mengenal bagaimana diri sendiri mengatasi rasa bosan. Paling tidak dari kantor inilah saya mendapat pelajaran berharga, tentang cara mengendalikan emosi. Saya pernah ditusuk dari belakang, diomongin di belakang sampai menimbulkan permusuhan, dilabrak di depan orang (secara virtual) sampai harus keluar grup whatsapp, dan belajar menyendiri.


Yesterday, after admitting outloud that I am more comfortable in working alone, ada rasa sedikit perasaan bersalah but not that guilty. 


Padahal mereka tidak tahu saja, orang yang senang menyendiri bukan berarti karena dia tidak suka dengan orang-orang yang bekerja sama dengannya. Tapi hanya karena dia tidak suka sensasi setelah pekerjaan bersama itu selesai dan satu persatu semua orang meninggalkannya. 

***

Bogor, 1 Desember 2020

Maka aku belajar bahwa; tidak semua orang baru bisa jadi teman. Memang mereka menyenangkan, membuat antusias, dan seperti mendengarkan.. tapi tidak. Teman lamamu tetap yang terpenting, karena mereka sudah teruji dengan waktu.

When I look at the mirror, that girl isn't there anymore.


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2