Skip to main content

Clean Slate


 

I have to take down the previous two posts because I changed mind like weather. I might not be that person anymore.

***

Ini selalu terjadi setiap kali habis antar Mama ke bandara. Karena begitu Mama pergi, ada segumpal rasa bersalah yang selalu membayangi seolah bilang jahat banget si ke Mama sendiri. Pendiem banget si. Cerita apa kek. Cerita tentang apa kek. But she never asked so I never tell. Jadinya setiap kali habis nganter-nganter Mama yang berakhir di bandara tu aku tu cuma kayak supir aja gitu. Diem sepanjang jalan, paling kalo Mama komentar apa baru ku nimbrung. Kenapa ya aku ni gak bisa banget cerita ke orang tua sendiri? Apa karena dari SMA sudah pisah dengan mereka jadi emosional connectionnya sudah hilang? Atau karena merasa tersisih oleh kehadiran dua anak yang lebih hangat dan periang? I feel like turning into a cold-hearted woman now.


Selalu setelah Mama pulang, aku tidak pernah mau sendirian. Terakhir kali seperti ini, ku minta temenin sama temen deketku yang kita emang udah deket sejak SMA --temen berantem, travelling, dll-- but it didn't end well dan malah jadi perpecahan. Sejak saat itu, gak pernah lagi kuminta-minta temenin sama temen cowok.


Hari ini ku minta temenin ke tiga orang, tiga-tiganya gak bisa. Ekstrim sih, ku tiba-tiba nelpon ngajaknya ke Bandung. Soalnya terinspirasi dari lengangnya jalanan dan toko-toko yang pada tutup. Kirain cafe juga bakal pada tutup. Tapi Alhamdulillah ada yang buka, dan tempatnya enak banget. Pas buat kerja., tempat meeting yang recommended parah ini sih. Kopinya juga enak, makanannya juga lumayan. 

***

1 Januari 2018 sengaja ku pilih untuk pindah rumah. Berarti terhitung tiga tahun sudah ku sendirian di rumah itu. Rumah yang masih belum mau ku macem-macemin. 

Hari ini, 1 Januari nya bertepatan dengan Hari Jumat, hari kesukaanku, tapi sepi sekali rasanya. Sehabis kumpulan keluarga, pulang ke rumah kosong dan ditinggal mama besoknya, rasanya ada lubang menganga besar yang sepii sekali. Ku gak mau sendirian, dan ku minta ke Allah kali ini, supaya ku tidak sendirian. Tapi nelpon ke tiga orang tiga-tiganya pada gabisa., 

Mungkin harus lebih minta lagi tanpa ada harapan ke siapapun selain-Nya kali yah.

***

Aku mau memulai tahun ini dengan a clean slate. Because I'm finally clean. 1 Januari 2020 masih terbayangi dengan sosok dingin itu, yang bikin ku berubah jadi dingin juga, dan masih berupaya keras menghilangkan bayangan dia dengan kabur ke Raijua. Beli tiket hari ini setahun lalu, untuk berangkat minggu depan. Sekarang sudah tidak perlu lagi aku repot-repot pergi jauh hanya untuk mengentaskan bayang-bayang orang. Tapi tetep aja gak pingin sendirian, biar ada yang bisa diajak ngobrol.


Tentu saja telepon pertama ditujukan ke temen SMA, karna tempat bercerita terbaik adalah yang bisa pake logat daerah yang ga pernah kepake itu,. tapii dia nya mau meeting.

***

Yasudahlah.

Alone is better anyway,

***

Bogor, 1 Januari 2021

Padahal kemarin sudah berhasil nulis dengan tag Soekarno Hatta dan Senayan, tapi dihapus da tulisannya.


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal