Skip to main content

Why do we have to pray?

Waktu kecil saya pernah bertanya ke Papa, “Allah itu awalnya dari mana sih?” Yang dijawab dengan; “Jangan mikirin itu, otak kita gak di design untuk memikirkan keberadaan Allah. Nanti pusing karna berputar-putar terus di sini” katanya sambil membentuk lingkaran berulang di atas kepala. Umur saya delapan tahun, dan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya urung saya lontarkan. Allah? 

***
Belasan tahun berikutnya saya tumbuh besar dengan diajarkan solat dan mengaji. Katanya biar dapat pahala dan masuk surga. Konsep abstrak yang saya terima mentah-mentah karena malas berdebat. Kalau saya malas solat, papa akan gunakan hadist yang memperbolehkan anak di atas usia tujuh tahun untuk dicambuk jika tidak solat. Tapi saya pun tidak kehilangan akal dan selalu berhasil menyembunyikan semua alat yang bisa papa gunakan untuk mencambuk saya: ikat pinggang, sapu lidi yang dikepang, tongkat bambu tipis, sampai patahan kail pancing. Semua saya buang ke kolong tempat tidur, yang mustahil diambil lagi kecuali ranjangnya digeser.

Menginjak masa remaja saya makin malas untuk solat. Benar-benar tidak paham kenapa orang Islam harus solat. Sempat kepikiran bahwa enak juga jadi orang Kristen, gak harus solat lima waktu setiap hari. Tapi mereka juga harus ke Gereja setiap Minggu, yang artinya mereka tidak pernah bisa nonton Doraemon, Chibi Maruko Chan, Kobo-Chan dan Hamtaro yang maraton ditayangkan dari jam 8 sampe siang. Jadi saya tetap harus puas menjadi seorang Islam, walau berat sekali membayangkan jika harus mengulangi hal yang sama sebanyak lima kali SETIAP HARI. Sampai situ saya tidak kehilangan akal. Untuk menghindari cambukan papa yang semakin kreatif, biasanya saya tetap ke kamar mandi, membasahi area tubuh seadanya seperti layaknya orang habis wudhu, masuk kamar tutup pintu, gelar sajadah trus tiduran baca buku. Sungguh saya malas sekali disuruh solat, seringkali waktu solat adalah waktu saya menangis kencang karna dipukuli sama Papa tapi lebih memilih dipukuli dan sakit ketimbang bangkit dari kasur dan wudhu. 

Itulah muasal saya dikirim sekolah ke Gorontalo, diharapkan untuk jadi anak soleha yang mendadak berbakti pada orang tua setelahnya. Haha. You wish.

Perjalanan saya mengerti arti pentingnya solat justru baru didapat dua belas tahun kemudian, umur saya dua puluh satu tahun, jelang dua puluh dua, tersesat di Saigon, dan ditolong dengan ajaib oleh Allah.

Kemudian paham cara menikmatinya baru setelah empat tahun kemudian.

Tapi ada pertanyaan yang kembali menghantui; Allah kan Maha Mengetahui, Maha Merencanakan, semua yang terjadi dalam hidup kita adalah bagian dari rencana-Nya, dan semua yang terjadi juga adalah kehendak-Nya. Dia lah yang paling tahu apa yang kita mau, kita butuh, dan yang terbaik untuk kita. So that,, why do we have to pray? If He knows already? 

Dari satu youtube video ke video yang lain, saya kemudian mengerti bahwa doa bukanlah sebuah ritual yang kita lakukan supaya Allah tahu apa yang kita mau. Bukan ajang memberi pesan, melainkan cara kita terkoneksi. Terkoneksi pada entitas-Nya yang ada di dalam tubuh kita.

Tubuh manusia terdiri dari tiga komponen: akal, hati, dan ruh. Akal berpikir dari apa yang indera kita tangkap, hati berpikir dengan frekuensi atau getaran gelombang yang menghubungkan satu partikel dengan partikel lainnya (string theory), tapi ruh berbeda. Berdasarkan Surah An-Nur ayat 35, Allah sendiri yang menyebutkan bahwa ruh adalah bagian dari cahaya-Nya yang ditiupkan ke tubuh tanah liat. Diciptakan berpasangan, dan terperangkap di balik dua lapisan; hati dan akal. Sebagaimana cahaya yang butuh sumber, Allah juga menurunkan sumber cahaya ke Bumi ini dalam bentuk Al-Quran. Ruh tidak berpikir atau merasa tapi Ruh tahu kemana harus mengarah yaitu ke sumbernya. 

Doa, adalah cara kita terkoneksi pada Ruh kita sendiri. Karna Ruh ini lemah sekali jika hati dan pikiran sering kotor, atau terlalu erat menggenggam dunia, dia sulit untuk menunjukkan jalan pada kita. Doa adalah cara membersihkan hati dan pikiran kita sendiri, supaya kita bisa mengikuti jalan yang Allah tunjukkan melalui Ruh. Ini juga seperti dalam surah An-Nur, di mana hati diibaratkan seperti Al-Misbakh alias lampu teplok, dan Ruh adalah cahaya yang memancar di dalamnya. Kalau hatinya kotor, cahayanya juga butek.

Jadi sebetulnya doa itu bukan ajang kita meminta, karena Allah sudah tahu apa yang mau kita minta bahkan sebelum permintaan itu terlintas di kita. Ya kan bingung. Allah juga yang menghendaki kita meminta permintaan itu, semacam bukan karena kita minta makanya Allah kasih tapi lebih ke Allah buat kita minta itu lalu dikasih. 

Kalau inti dari doa adalah meminta, maka ini jadi agak pointless karna argumen yg mbulet di paragraf barusan.

Untuk itu saya mulai mengganti set pikiran, bahwa doa, adalah untuk meyakinkan diri sendiri; bener gak kita mau ini. Yakin gak ini yang kita inginkan? Kalau yakin, siap gak dengan konsekuensi nya? Kelak di hari penghitungan, siap tidak untuk bertanggung jawab atas permintaan ini?

Karena Allah tidak pernah tidak menjawab doa. Semua doa pasti terjawab. Dan kalau berpikirnya seperti tadi, ketika jawaban dari doa tersebut bukan seperti yang kita pinta, akan jadi lebih mudah lagi untuk menerima. Toh mungkin kita memang tidak se-ingin itu. Tidak se-yakin itu.

Ustad Hanan Attaki juga pernah bilang, jadikan doa sebagai ajang curhat ke Allah. Karena Allah sangat senang jika ada hamba yang datang kepada-Nya. Ya sama seperti kita kalau ada temen datang dan curhat, merasa dibutuhkan itu bikin bahagia. Bedanya Allah tidak butuh curhat kita untuk merasa dibutuhkan sama kita, Dia tetap Maha Agung walau hamba-Nya tidak meminta pada-Nya. Tapi itulah ke Maha Santun Nya Allah. Dia senang jika kita mengadu, berdoa, dan sebagai seorang hamba, sudah selayaknya kita lakukan apa yang membuat Master kita senang.

Pernah juga saya dikasih tahu teman, bahwa doa itu harus detil dan rinci. Ini agak bahaya kalau mindsetnya doa adalah meminta. Doa detil dan rinci karna meminta, salah-salah malah jadi mendikte Sang Maha Kuasa. Padahal Dia yang paling tahu segalanya termasuk apa yang terbaik untuk kita. Tapi kalau doa detil dan rincinya adalah supaya kita benar-benar clear dengan apa yang kita mau, saya rasa itu beda cerita. Makanya saya tidak mau sembarangan kasih nasehat ke orang. Bisa salah tafsir kalau ternyata tidak sepemahaman. 

***
Berbekal pikiran itu, saya jadi suka berpikir tiap kali berdoa. Dan semakin dipikir, juga dibaca dan dipelajari artinya, ternyata doa-doa yang banyak diajarkan itu sudah mengandung unsur-unsur permintaan terbaik yang bisa diminta. Semisal ingin kaya di dunia dan masuk surga di akhirat, sudah sangat terwakili di doa sapu jagat (kreatif sekali memang orang Indonesia menamai doa). 

Maka sekarang, setiap kali hujan turun, dan hujan adalah waktu mustajab untuk berdoa, saya duduk di teras menatap langit, karena katanya berdoa dengan menengadah akan ikut diaminkan oleh malaikat, saya selalu meminta hal-hal yang paaling sederhana. Sesederhana supaya Tuhan saya senang sama saya, dan tidak membiarkan saya sendirian apalagi sampai tersesat.

***
Bogor, 16 November 2020. 00:53
Nganter juice sampai ke Bekasi, lalu maen ke rumah temen sampai ke Cileungsi. Indahnya silaturahmi, dan semua jadi happy. Alhamdulillah sudah sebulan konsisten dengan produksi juice Minggu dan Senin. Walau ada yg order di luar hari itu, mereka mau nunggu sampai hari nya tiba. Padahal bisa saja kubikinin. Tapi ini ku sedang belajar berkomitmen. Commitment is a real thing, okay. One should learn how to master it and its not easy. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert