Skip to main content

The Wives of World's Greatest Leaders

Michelle and Barack Obama is the ideal couple for me., dua-duanya nulis buku, bisa kebayang bagaimana aktifitas keseharian mereka di rumah. Bangun pagi, siapin sarapan, ngobrol bentar, trus mereka duduk dengan bacaan masing-masing, menulis, sampai siang. Lalu mereka makan siang, habis makan siang leyeh-leyeh sambil bicara tentang apa saja, di halaman atau di mana, sampai jelang sore. Jelang sore kembali mereka mengeksplor dunia lewat video ted talk atau buku atau apapun, sampai tiba waktu makan malam. Dan seterusnya., 


Saya tertawa melihat ekspresi Barack Obama ketika Stephen Cohlbert membandingkan bukunya dengan Michelle yang sudah terjual sepuluh juta copy (ten million copies, can you imagine?) dan ditanya bagaimana dia bisa berkompetisi dengan itu. Yang dijawab dengan lucu, bahwa para publisher menjual bukunya dengan buku Michelle secara sepaket, so there's no way I can compete with that, ujarnya. Saya tertawa, sekaligus iri membayangkan perasaan Michelle yang punya sesuatu yang lebih dibanding suaminya, sang mantan kepala negara, one of the world's greatest leader. 


***

Sejak Alm Ibu Ani Yudhoyono dikabarkan sakit, saya semakin terobsesi dengan kehidupan dibalik istana, khusus meyoroti para istri. Bukan saja istri-istri presiden, tapi juga istri-istri orang hebat seperti Bu Nur Asia nya Sandiaga Uno. Tentu saja obsesi ini berawal dari Habibie Ainun, kalau tidak salah pernah saya tulis juga tapi lupa di mana saya punya terlalu banyak blog and this is embarassing. Melihat betapa Pak Habibie begitu menyesal Ibu Ainun pergi, menulis puisi romantis, hingga terlibat dalam proses pembuatan film tentangnya. 


Tapi yang saya lihat justru bukan kesedihan melainkan penyesalan mendalam. Mungkinkah itu penyesalan suami yang terlalu abai pada istrinya karena terlalu fokus pada visi dan misi yang sedang ia emban? Entahlah. Yang jelas, dari situ saya menyimpulkan bahwa boleh jadi bagi para pemimpin, pernikahan itu hanya sebatas status, tanpa bisa --dan ini di luar kendali mereka-- untuk memberi perhatian lebih pada sang istri. Dia pulang ke rumah membawa setumpuk tugas berat yang harus diselesaikan, dan tidak pernah bertemu untuk bicara dari hati ke hati. Sebagai perempuan, pasti itu berat ya karena kita kan maunya selalu dimanja. Chat harus selalu dibalas cepat, dan dia harus selalu memberi kabar setiap hari. Istri seorang kepala negara, mungkin harus bisa puas dengan hanya membersamai suami setiap hari tanpa pernah ditanyai satu kali pun tentang; bagaimana perasaan mu sekarang? 


Makanya sewaktu Ibu Ani meninggal, saya ngetwit dan mengkorelasikannya dengan Ibu Ainun, dan mendapat tiga empat ribu likes.


Setelahnya saya menonton film lama berjudul Jackie, yang diperankan oleh Natalie Portman. Mengambil kisah dari sudut pandang istri John F Kennedy, yang mati dipangkuannya dengan luka tembak di kepala.
Semakin saya yakin bahwa menjadi seorang pemimpin hebat tidak akan ada apa-apanya tanpa perempuan hebat di sampingnya. Yang tersenyum tapi tidak terlalu lebar, masih memberi ruang kosong untuk kemungkinan bahwa senyum itu bisa jadi direnggut tiba-tiba. Mereka selalu berhati-hati dalam segala aspek, and you can't be too careful about this world. 

***
Kenapa tulisan ini saya tulis?

Karena saya ingin mengingatkan teman-teman saya, terutama yang sebentar lagi akan memasuki usia tiga puluh dan masih belum ditemukan oleh pasangan. Agar mereka bisa menggunakan waktu sebaik mungkin mulai saat ini. Boleh jadi kamu memang dipersiapkan untuk menjadi pendamping seorang great leader atau menjadi ibu dari para world's greatest leader, yang hanya bisa dicapai jika terus melatih diri.

Membuka wawasan, habiskan waktu dengan membaca buku ketimbang baca ig story orang. Belajar dari buku bukan dari influencer. Jauhi gosip apalagi video sembilan belas detik (apalagi membahas detilnya). Fokuslah untuk membangun dirimu sendiri, menemukan apa yang dirimu mau dan what you're good at. Sehingga nantinya kamu juga bisa mengakui bagian mana titik lemahmu, dan tidak memaksakan diri untuk tetap jadi yang terbaik di semua aspek.

Dengan begitu, kamu akan menemukan dirimu sendiri, mencintai dirimu, sehingga kamu tidak butuh cinta orang lain untuk membuatmu merasa berharga. Ya, cinta dari orang lain itu penting, tapi bukan satu-satunya yang kamu butuh. Karena kamu sudah utuh dengan cintamu sendiri dan cinta dari-Nya.

Ini penting karena jika nanti kamu kebagian porsi tanggungjawab super besar yang menyangkut hajat hidup orang banyak, kamu tidak akan mudah ditipu orang. Tidak mudah terbuai dengan pujian dan jilatan yang hanya menginginkan uangmu. Kamu juga tidak mudah sakit hati, oleh omongan dan nyinyiran yang sudah tentu akan ada. Jangankan kamu, Taylor Swift saja masih ada yang tidak suka.

Karena percayalah tidak ada yang selamanya di dunia ini. Masa penantianmu pasti akan menemukan ujung, dan membuang waktumu dengan membandingkan diri sendiri dan orang lain yang kehidupannya jauh lebih bahagia dilihat dari kacamata sosial media, hanya akan merenggut cahaya dari wajahmu. Your vibe attracts your tribe, law of attraction, karma, apalah apalah teori tentang pola itu. Pola semesta ini adalah melingkar. Sifat alami semesta semuanya membentuk lingkaran. Apa yang kita keluarkan, itu yang kita dapat. Jadi kenapa, dan oh kenapa, masih saja terus-terusan kepoin orang, iri, tidak mau diajak kumpul dengan yang sudah pada punya anak hanya karena minder karna masih single.. sayang banget, sis.

Kita harus bisa jadi pasangan yang sepadan. Walau sepadan bukan berarti harus sama. Sepadan artinya kita bisa mengimbangi langkah pasangan kita. Jangan sampai kita dambanya muluk, tapi effort memperbaiki diri hanya sebatas skincare-an.

There are more in life than look and what appears outside. Gak perlu juga bilang ah dia keliatannya aja dari luar bahagia, dalemnya belum tentu., hey nona.. untuk apa pikiran seperti itu? Siapa tahu dia justru malah jauh lebih bahagia ketimbang yang ditunjukkan. Lagipula, bahagianya tidak mengurangi rezekimu, kan?

Sudahlah.

Kita ini perempuan, tempat pulangnya mereka yang lelah. Tempat pulang, tempat bersandar, sudah seharusnya kuat. Kuat terutama dalam hal pendirian, mindset, dan karakter. Tidak manja. Walau bukan berarti tidak boleh nangis. Nangis saja setiap malam, tapi tangiskan pada tempat yang tepat, yaitu Dia Yang Maha Menjaga. Satu-satunya Dzat yang menunggumu di setiap sepertiga malam. Kamu selalu punya Dia.

***
Begitulah buah pikir hari ini, akibat nonton talkshow nya Obama sambil nunggu ngeprint label sticker juice, sepulang training.

***

Bogor, 26 November 2020
Barusan ngetwit ini. 


Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal