Skip to main content

Selamat Satu Bulan, Sayang

 I'm the kind of person yang kalo celebrating small wins sangat all out sekali. Satu bulan sudah saya berkonsisten -berkomitmen- untuk terus produksi juice tiap Minggu dan Senin. Walau tidak selalu habis, tapi ya pasti dihabiskan sendiri (dengan cara langsung dituang ke gelas tanpa dikocok terlebih dahulu supaya tidak meninggalkan jelaga di tutup botol, dan botolnya langsung disterilin lagi untuk diisi dengan menu yg sama). 


Capek? Ya jelas. Tapi di dunia ini apa sih yang gak capek. Dunia kan memang tempatnya capek.

Capek kali ini berbeda. Bukan tipe capek yang bikin grumpy, tapi tipe capek yang bikin deg-degan. Masalahnya tiap apapun yang saya lakukan, selalu diiringi dengan tepukan tangan. Setiap yang melihat selalu melempar pujian, dan jarang sekali saya terima kritikan. Bukan juga saya mengharap kritik (seperti dua rekan yang baik sekali mengkritik design yang saya buat), tapi saya justru jadi takut terlalu terbiasa dengan pujian sehingga nanti sekalinya dapat kritik langsung down ke lapisan inti Bumi. Ternyata menguatkan hati adalah sebuah pertarungan seru dan nyata. Supaya jangan terlalu lekat dan terbiasa apalagi sampai mengekspektasikan pujian setiap kali tangan saya menyerahkan botol-botol bayi ini ke pembeli.


Dua tahun lalu saya kembali menginjakkan kaki di satu kota yang amat saya cintai. Itu adalah kali pertama sejak delapan tahun saya tinggalkan kota itu. Saya bertemu dengan seorang perempuan yang usianya sekitar lima atau tujuh tahun lebih tua dari saya dan kita menjadi akrab semenjak itu. Sebetulnya biasa saja sih kita bisa kenal, saya pengunjung pulau, beliau adalah yang mengelola pulau tersebut dan pemilik satu-satunya resort di Pulau Saronde. Kami menjadi akrab mungkin karena kesamaan asal karena sama-sama dari Bogor dan dia menikah dengan orang Gorontalo. Jadi kami merasa senasib gitu lah ya sebagai orang Gorontalo separo. Walaupun separo, tapi cinta kami pada Gorontalo kayaknya ngalahin cinta orang Gorontalo ke Gorontalo itu sendiri deh. I bet. Tapi saya memang sangat terbiasa bergaul dengan perempuan yang usianya jauh di atas saya, sejak kuliah sudah begitu dan itulah kenapa saya mudah sekali mendapat pelajaran-pelajaran yang tidak diungkapkan oleh lisan.


Singkatnya, saya kagum dengan Mbak itu. Saya membatin ingin juga seperti mbaknya yang jiwa bisnis nya tinggi, didukung dengan suami yang sangat supportive, dan benar-benar bisa mengeksplore kemampuannya.


Tapi ternyata dibalik itu, saya tahu, ada juga ternyata yang nyinyir ke si Mbaknya. Walau dia cantik dan langsing dan pintar dan tajir, tetap saja ada yang tidak suka dengannya. Tetap ada yang nyinyir terhadap postingannya. 


Saya jadi tidak kaget sekarang, ketika justru respon serupa saya peroleh dari orang terdekat yang saya pikir dialah yang akan paling mendukung. Sepertinya memang setiap orang yang memilih jalan ini, harus mulai melapangkan hati mendapat respon seperti itu, karena bukan kita yang menggerakkan hati orang. Apapun yang kita buat, kalau dia tidak suka dengan kita, pasti tidak akan suka, dan pikiran kita ini mudah sekali dibisiki setan, dihantui dengan kalimat-kalimat negatif yang kita pikir mereka lontarkan padahal belum tentu.


Memang inilah bagian paling saya sukai dari mencoba sesuatu yang baru, ketidakpastian, ketakutan akan omongan orang, yang membuat doa menjadi makin indah dirasa. Walaupun.. nih ya.. sedihnya.. walaupun jadinya solat pikiran melayang kemana-mana (and mostly product), yang selalu disesali tiap habis solat karena solat inget produk bukan inget Allah. Takut kalau-kalau nanti malah Allah tidak ridhoi lagi, bubar jalan sudah ini semua. 


Meluruskan niat, berharap untuk dibantu sama Allah untuk meluruskan niat, adalah doa yang terus menerus saya ulang. Karena tipiis sekali ini batasnya dengan riya, tipis sekali dengan ujub, dan tipis sekali dengan berekpektasi pada manusia.


Latihan menjadikan Allah sebagai satu-satunya back up, salah satunya adalah dengan mengeluarkan produk sendiri. Lalu kita lihat nanti bagaimana ini akan bergulir. Dua tahun sudah saya berlatih dengan produk orang lain (produk jasa pelatihan), mungkin ini saatnya latihan dengan produk yang lahir dari isi kepala sendiri (yang sakitnya dobel kalau dikritik). 


Afterall, selamat satu bulan juice aku.. atau selamat enam bulan tepatnya sejak pertama kali kamu tercetus. Ku kasih tenggat satu tahun, kita lihat apakah kita akan sampai di sana.. dan post ini akan menjadi penanda.


***

Bogor, 16 November 2020

Aplikasi beasiswa ditolak lagi. :)



Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert