Skip to main content

One Love

Kesepian punya banyak wajah, dan salah satu yang bisa menjadi obatnya adalah ketika kita menemukan pasangan yang selaras dan se frekuensi. Sayangnya, tidak semua orang seberuntung itu bisa dipersatukan dengan orang yang dia anggap sebagai belahan jiwa. Ada yang baru bertemu saat usia mereka empat puluhan, ada yang bertemu saat muda namun tidak berani mengakui, lalu cinta itu bersemi kembali membawa badai di rumah tangga masing-masing.


Saya tahu urusan cinta itu kompleks, dan sebagai orang yang anti ribet, saya lebih suka berada di luar arena, mengamati dari jauh. Sambil berpikir.. what do I want?


Tentu saya juga tidak mau terus-terusan sendirian, more or less, saya ingin punya anak supaya bisa menurunkan wisdom and knowledge yang Allah sudah titipkan. Takut keburu lupa. Juga sebagai bekal untuk di perjalanan selanjutnya, yang sampai ribuan tahun itu. Tapi saya kan bukan Maryam, yang sebegitu mulia bisa mengandung tanpa disentuh laki-laki. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, pada akhirnya saya harus bertemu seseorang, and adjusting to make it work.

But anyway..


Saya banyak mengamati orang-orang yang sudah menikah belasan hingga puluhan tahun, dan bagaimana akhirnya mereka menjalani kehidupan bersama. Sudah bisa dijamin bahwa cinta tidak akan hadir selamanya, itu jelas. Tapi bukan berarti tidak bisa dilatih juga. Ada buku yang saya baca minggu lalu, tentang willpower, rediscovering human strength, tentang kemampuan manusia dalam mengendalikan dirinya yang ternyata bisa dilatih. So do love, I suppose. 


Meskipun semestinya bagi manusia, cinta dari Sang Maha Kuasa saja harusnya sudah cukup. Dia yang menjaga kita siang dan malam, memastikan tidak ada hal buruk menimpa, kalaupun ada maka itu karena akan diganti dengan yang jauh lebih baik, menjaga dan merawat kita twenty four seven. Ya, seharusnya, jika dipikir hanya dari sisi relijius saja, maka orang yang mendamba cinta manusia itu tidak bersyukur. Sudah punya cinta dari The Higher Power kok ya masih saja menginginkan cinta dari budak. 


Tapi rupanya bukan begitu cara Allah bekerja. 

Dia tidak akan merasa tersaingi bahkan setelah hati kita terisi.

Makanya saya baru sadar satu hal hari ini; kenapa setiap kali solat saya selalu meminta untuk dipertemukan dengan seseorang yang memang datang karena-Nya? Hati saya terfokus pada satu ruang kosong yang ingin segera dihuni. Selalu hanya itu yang dipinta.


Kenapa bukan mempersiapkan diri sebaliknya., 

Meminta agar difokuskan hati dan pikiran ini, hanya agar bisa tercukupi dengan Dia saja. Jadi, kapanpun nanti Allah utus dia untuk datang, hati dan pikiran tetap tidak goyah dan tidak terlampau bahagia sampai meninggalkan Allah. 


Dengan begitu sebetulnya jadi lebih enteng pikiran ini. Karena memperbaiki koneksi dengan Allah ternyata tidak cukup dengan terus-terusan solat dan ngaji. Hati juga harus ikut terus-terusan berharapnya hanya pada Allah, bukan berharap Allah kasih seseorang yang nantinya dengan dia kita bisa dilindungi, dijaga, dan lain-lain. Bukan.


Biar bagaimanapun perempuan akan menjadi tiang di dalam rumah tangga. Namanya tiang, ya harus kokoh dan punya pegangan yang kuat. Kalau pegangannya ke suami, kacau balaulah. Mood laki-laki yang tidak terprediksi, belum lagi kalau dia lagi lapar emosinya meluap-luap, apalagi kalo yang ketempaan dapat laki-laki seneng tepe.. duh kalau yang begitu jadi pegangan, bisa nangis tiap hari kita, bund.


Selama ini pun kita berdoa meminta ke Allah biar dikasih apa yang kita mau, kan.. coba kalau diganti, mintanya, biar dikasih ketetapan hati ketika nanti doanya terkabul. Doa terkabul saja hatinya tetap teguh memegang Allah apalagi kalau tidak terkabul, kan makin kenceng.


***

All we need is the one love to keep us on the right path. Not to distract us and drag us further away. Because this is what this life is about; to stay on the right path. The path is the goal. 

Saat saya belum memutuskan what kind of love life do I wanna have, gambar ini melintas di instagram, yang saya amini (untuk saat ini).


***
Bogor, 25 November 2020. 
I quote,
Find a partner who can accept you as you are but also inspires you to evolve because they take their own growth seriously. Love will not seek to change you, but it will embrace you so unconditionally that you will feel safe enough to heal the old and put effort into the new. The courage you both have to stay committed to the inner journey will reflect brightly on your relationship, all the good qualities that you develop as empowered individuals will help you calmly, compassionately and creatively handle the challenges you may face as a couple. Because you both know that growing is not easy, you will warmly support each other when one of you feels down and rejoice when victorious steps forward have been taken.

And I am done with people who tried to change me. I am me. 


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk