Skip to main content

Masa

Saya suka menonton hujan. Tulisan ini ditulis setelah men setting meja dan kursi di depan pintu, agar bisa menonton hujan angin yang derasnya bukan main. Kalau hujannya normal saya masih bisa nulis di teras, tapi karena ini disertai angin, teras pun ikut basah kena air yang terbawa angin. 

 

Menonton hujan sore-sore di teras sambil berpikir, adalah jenis aktifitas yang paling saya nikmati dan syukuri selama pandemi. Sudah lama saya mendamba jenis hidup seperti ini yang bisa punya waktu untuk diri sendiri, memikirkan apa yang Dia sudah ciptakan. Bukankah itu yang Dia inginkan dari kita yang hanya seorang hamba? Membaca dan berpikir?

 

Hujan juga membuat saya ingat kepada hari favorit saya: MY BIRTHDAY yang jatuh pada Hari Air Internasional. HAHA. Saya sangat suka menghitung hari menuju hari ulang tahun saya, bahkan sejak Bulan September. Orang-orang di kantor sudah sangat hapal dan sangat bosan jika saya terus menerus meracau tentang betapa sebentar lagi saya akan ulang tahun.

 

“Masih Agustus kali, Maaa..” celetuk salah seorang rekan dengan sebal. 

 

Bagi saya, berhasil mengitari satu putaran matahari adalah satu pencapaian yang patut dirayakan. Walaupun katanya itu bertentangan dengan agama Islam dan ajaran Rasulullah yang tidak pernah merayakan hari ulang tahun, juga disebut-sebut sebagai bagian dari kaum kafir jika merayakan ulang tahun. Saya bukannya tidak peduli dengan pendapat itu, tapi niat saya merayakan ulang tahun bukan untuk hura-hura foya-foya, tapi untuk menjadi penanda betapa jauh sudah kita berjalan. Sebagai alarm bahwa hidup ternyata sudah sejauh ini. Beruntungnya saya Nouman Ali Khan ternyata sependapat. Beliau tidak masalah dengan perayaan ulang tahun selama tidak ada elemen syirik dalam perayaannya. Kenapa beliau berpendapat demikian?

 

Karena di dalam Al-Quran sendiri Allah secara lugas mengingatkan umat manusia tentang awal penciptaan mereka. Tentang bagaimana mereka dibentuk, dari satu tetes air mani, kemudian menjadi segumpal daging, ditiupkan ruh, sampai dilahirkan ke Bumi. Allah sendiri yang mengingatkan kita untuk mengingat jasa ibu kita saat kita dilahirkan. Maka mengingat hari kita lahir, sejatinya juga adalah mengenang perjuangan ibu kita meloloskan kita ke dunia dengan mempertaruhkan nyawanya. Tentu patut untuk dirayakan dengan cara apapun yang kita bisa, tanpa berlebihan.

 

Lantas kita selalu mendoakan segenap kebaikan kepada orang yang sedang merayakan hari lahirnya, termasuk agar berumur panjang. Sampai di sini, saya mulai berpikir. Kenapa?

 

Kenapa kita –manusia—sangat amat berharap untuk bisa hidup selamanya di dunia? Kenapa dunia menjadi sebegitu menarik sampai-sampai orang yang mati muda dianggap sebagai orang-orang yang tidak beruntung?

 

Padahal dalam perintah Allah saat Nabi Adam memakan buah terlarang, pilihan kata yang digunakan (di dalam Al-Quran) adalah uskun, yang artinya turunlah kamu untuk sementara waktu. Bahkan Nabi Adam pun tahu waktu di dunia ini hanya sementara, sebelum nanti kembali pulang ke surga. 

 

Terlebih lagi, dalam membaca Al-Quran (saya selalu membaca terjemahannya juga), ayat-ayat tentang kehidupan setelah dunia ini ada banyak sekali. Bahkan bisa dibilang sering sekali menjadi tambahan setiap akhir ayat. Tentang surga dan sungai-sungai yang mengalir, minuman-minuman lezat, wewangian, rumah-rumah mewah, juga tentang neraka dan air yang mendidih. Kalau sering dibaca, gambaran-gambaran itu menjadi tampak nyata membuat dunia jadi agak blur karena tidak ada apa-apanya. Nah, lalu apa poinnya hidup berlama-lama di sini kalau ternyata di sana lebih enak?

 

Belum lagi lelah dan sakit yang kita derita di dunia. Di akhirat sudah tidak ada lagi sakit. Tidak ada lagi ghibah. Tidak ada lagi ucapan yang membuat jantung berdebar. 

 

Berbekal pikiran seperti itu, saya menjadi semakin yakin untuk memaksimalkan apa yang saya punya hari ini dan berhenti menunggu untuk apa yang terjadi esok hari. Karena buat apa juga. Besok belum tentu masih tersedia untuk saya, dan bisa jadi hanya hari ini yang saya punya. Walau saya tetap menunggu-nunggu hari ulang tahun, bukan berarti karena saya ingin hidup selamanya. Saya ingin hidup selama yang saya bisa sambil berharap jika waktunya tiba itu karena saya benar-benar sudah memenuhi tugas saya di dunia. 

 

Tapi apa sebetulnya tugas saya?

Setiap yang diutus ke Bumi mengemban tugas berbeda. Kita harus bisa menemukannya sendiri, karena tidak ada orang lain yang akan membantu. Tugas ini hanya antara kita dan Sang Pemberi Tugas. Tentu saja sebagai seorang hamba tugasnya adalah untuk membuat Tuannya senang dan melayani Sang Tuan. Tapi dengan cara apa? Ada orang yang melayani Tuhannya dengan cara menjadi Presiden, menjadi pemimpin suatu negara yang jika dia berhasil lulus, maka surga jelas untuknya tapi jika gagal.. yaa.. siap-siap jadi orang yang berdiri paling lama di Yaumul Hisab karena mesti menyelesaikan tuntutan rakyat yang tidak puas. Ada orang yang ditugaskan untuk menjadi seorang Ibu dari anak-anak yang kelak menjadi pemimpin dunia, maka dengan dia mengurus anak 24/7, Tuannya sudah senang dengan dia. Beda-beda lah. Saya juga masih belum tahu akan ambil bagian di yang mana. (Kalau tahu pun ga akan ditulis di sini kan ya buat apa. Haha)

 

Lagipula semakin lama kita hidup di dunia, semakin berkurang juga kemampuan dan kegunaan kita. Yang ada malah nantinya kita lupa sama apa-apa yang sudah kita pelajari semasa muda. Makanya, selagi belum tua, maksimalkan hari dengan semua resources yang ada. Pergi ke tempat yang ingin dikunjungi. Pelajari bahasa yang ingin dikuasai. Mengabdi pada orang-orang yang membutuhkan. Apapun asal bukan stuck behind the desk, bekerja siang dan malam untuk mengumpulkan uang tabungan di hari tua, padahal hidupnya gak sampai tua. Jangan tunggu nanti tua untuk bersenang-senang. Siapa tahu pas tua malah jadi Ibu Negara yang gak akan punya waktu untuk menyendiri dan do silly things. Haha.

 

***

Bogor, 14 November 2020

Aku masih sangat menikmati hari-hari nyetir sendiri di Pantura, konser dengan nada asal-asalan, lirik ngarang, sambil melaju agak kencang. Nanti jika waktunya tiba, dan ada orang yang mau kuajari caranya nyetir di Pantura, menyambangi kota masa kecilku bertumbuh sama Eyang, aku tidak akan lagi bisa nyanyi se asal-asalan itu tapi sebagai gantinya bisa duduk diam menikmati pemandangan dari Tol Cakalang yang kulewati bolak balik tapi gak bisa kunikmati viewnya.

Karena semua ada masanya, jadi tunggu saja.

(Tulisan ini ditulis karna mati lampu, dan gak lama setelah selesai ditulis lampunya nyala). 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert