Skip to main content

Life till old age..? Why

 Melihat kondisi eyang dan nenek di hari tua mereka, membuat saya semakin banyak berpikir tentang durasi hidup di dunia. Some of us might wish for a long life, dan setiap kali ada orang yang meninggal, dibilangnya sayang sekali ya.. seolah-olah itu adalah hal buruk.


Padahal kalau mau dipikir, memang sedari awal kita sudah tahu kita tidak akan selamanya di sini. Mau dipaksakan hidup sampai tua juga.. buat apa?


Seriously, buat apa?


Kemudian setiap harinya pikiran kita disibukkan dengan hal-hal duniawi. Pekerjaan dan masalahnya yang tak kunjung usai. Uang dan tabungan yang terus menerus ditumpuk, atau benda-benda yang kita beli dengan penuh pertimbangan sampai menghabiskan kapasitas otak. Buat apa?


Sekarang eyang dan nenek tidak lagi ingin apa-apa. Kecuali eyang yang masih semangat mau makan ini dan itu, dan tidak pernah kehabisan jawaban tiap ditanya 'eyang mau mam apa buat malem?' atau nenek yang selalu semangat tiap diajak jalan-jalan. Berarti memang pada akhirnya, kualitas hidup yang kita butuhkan di hari tua adalah keluarga dan pengalaman. Kalau bukan anak atau cucu, kita harus bayar orang untuk nyuapin atau bikinin kita makan setiap harinya. Itupun kalau orang itu se frekuensi. Orang yang menua cenderung untuk sulit bisa beradaptasi dengan hal baru, termasuk untuk bisa ditangani oleh orang yang baru dikenal.


Menyadari hal itu akan lebih mudah membuat kita sadar betapa sementaranya di dunia ini. Jadi jangan terlalu cinta lah, dan semakin sering mengingat mati, semakin sadar untuk segera mengumpulkan bekal. Biasanya kalau sudah begitu akan jadi semakin mudah untuk beramal.


Akhirat itu nyata. Dunia setelah dari sini itu nyata. Bahwa perjalanan kita masih sangat panjang, itu nyata. Tapi kenapa pikiran masih terus disesaki dengan hal-hal yang bikin gak bisa tidur hanya untuk galau menimbang untuk menerima atau menolak sesuatu yang belum tentu membawa ke akhirat.. 

Atau merisaukan omongan orang, sentakan perasaan, ekspresi masam yang kita terima dari orang lain yang mungkin melakukannya juga tidak sengaja?

Apalagi mengurusi harta orang lain, yang kalau dia punya a, b, c, dan d sibuk dibahas dan dihitung amal zakatnya. Buat apaaaaa? 


Rasulullah bersabda, bahwa orang cerdas itu adalah orang yang sering mengingat mati. Stoicism juga menganjurkan untuk tidak berpikir kita akan hidup esok hari. Minimalism bilang live for the present. 


Sudahlah tidak usah terlalu serius-serius amat dalam hidup,. yang mesti diseriusin itu ngurus bekal ke akhirat, dan menyiapkan masa tua kalau-kalau kita tidak seberuntung mereka yang mati muda. Nanti kalau sudah tua, cuma anak dan cucu sajalah yang akan kita andalkan. Kalau dari sekarang kita abaikan mereka hanya untuk ngurusin kerjaan, bisa jadi nanti tuanya kita dibiarin dengan pengasuh juga yang ga jelas nyampurin makanan sambil bersin atau sudah cuci tangan.


***

Bogor, 6 November 2020

Eyang masih semangat pingin hidup, katanya pingin lihat aku nikah. Gimana gak nangis sepanjang jalan ku nyetir.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert