Skip to main content

Due to hormonal imbalance, I wrote this post, and this is a random thought I had for the day.

Cowok gak akan pernah tahu rasanya, melawan hormon yg lagi gak seimbang akibat menstruasi tapi tetap harus keep up konsentrasi dan detaching feelings dengan pekerjaan yang menumpuk. Tapi mungkin mereka juga punya struggle nya sendiri. Ketika jatuh cinta, misal.


***

Tulisan ini terinspirasi dari tetangga yang dua hari kemarin mengulang lagu yang sama: Rude. 

"Why you're gonna be so rude,

Don't you know I'm human too,

why you're gonna be so rude,

I'm gonna marry her anyway.." 


Ya saya memang tidak pernah membahas soal ini dengan tetangga secara langsung, but somehow I knew dia sudah serius dengan pacarnya. Hubungan mereka mengingatkan hubungan saya dengan si ex bertahun lalu, yang satu virgo, yang satu fire sign (lupa sih ceweknya apa). Dengan muter lagu itu berulang-ulang, saya berkesimpulan, mungkin tidak lama lagi mereka akan menikah. Jadi saya harus siapkan hampers natal untuk mereka berdua nantinya. 


***

Mungkin sama juga dengan istilah you don't know how beautiful it is to be waiting for something and it worked out eventually. 

Siang ini saya dapat satu lagi kabar bahagia dari seorang sahabat yang sudah lama sekali menunggu kehadiran seorang anak. Saya ada di sana waktu sahabat saya mendapati dirinya haid lagi untuk kesekian kalinya. Wajahnya berubah murung, mendadak tidak mau bicara, dan sekuat tenaga menahan tangis. Padahal kita sedang berada di acara pernikahan waktu itu. Acara di mana semua orang seharusnya tersenyum dan saling sapa.


Tidak lama kemudian, pasangan yang pernikahannya kami hadiri itu, dikaruniai seorang bayi. Sedangkan teman saya ini masih belum ada tanda-tanda kehamilan. Lalu kami jarang bertukar kabar, tenggelam dalam kehidupan dan penantian masing-masing.


Rupanya berbulan kemudian, barulah dia mendapat apa yang dia harap-harap selama ini. Jalannya pun Allah mudahkan, untuk bisa berpindah kantor ke cabang lain yang berada satu kota dengan suaminya, padahal sejak awal mereka menikah (sekitar dua atau tiga tahun lalu), mereka hanya bisa bertemu seminggu sekali karena beda kota.


Dia juga cerita barusan, betapa proses lahirannya begitu cepat dan mudah. Bayi laki-laki yang posturnya tinggi seperti ibu-bapaknya, terpajang mulus berpose di dalam box bayi. Lega, bahagia, terharu, mengingat perjuangan sang ibu dan bapak, sepertinya anak ini tahu dan tidak mau membuat mereka menunggu lebih lama. Indah ya?


Begitulah kira-kira. Apapun yang diperjuangkan di dunia ini, pasti akan ada garis finishnya. Yang ditunggu pasti muncul, yang menemani pasti pergi, yang dimimpi pasti terwujud. Tinggal bagaimana sikap kita selama menunggu, mau terus menerus gelisah dan membandingkan diri dengan orang lain, berdengus kesal ketika seseorang mempublish pencapaiannya, atau fokus membangun diri sendiri dan mencoba berinteraksi dengannya.


***

Belakangan saya lebih banyak mengamati tingkah laku para pemimpin. Tanpa sadar, ternyata saya juga pernah baca buku-buku berlatar kepresidenan; bukunya SBY yang ditulis Dino Patti Djalal, buku kudetanya Soekarno oleh Soeharto yang ditulis Rahmawati (and am not proud of having that book), dan sekarang saya sedang mempertimbangkan untuk beli bukunya Obama yang terbaru. Bukan karena saya ingin jadi ibu negara presiden, tapi lebih ke untuk mengamati karakter pemimpin suatu negara dari sudut pandang nya atau orang-orang terdekatnya.


Karena kepemimpinan adalah satu hal yang sangat menarik untuk dipelajari. Dalam Al-Quran selalu disebut-sebut bahwa setiap manusia adalah pemimpin, makhluk terbaik dan paling sempurna. Tapi, dalam kehidupan sehari-hari, jarang sekali kita mendapati pemimpin yang benar-benar layak untuk memimpin.


Sampai saya mencoba sendiri. Mempunyai sebuah brand yang akan saya besarkan, mengambil posisi dalam sebuah tim kecil di pekerjaan, yang dari situ saya tahu bahwa ternyata yang mengatur vibe atau tone dalam tim adalah karakter si pemimpinnya itu sendiri, dan itu tidak bisa dibuat-buat.


Misal, orang yang sebetulnya tidak bisa memimpin, tapi kebetulan dekat dengan pengambil keputusan, lalu dia diutus menjadi pemimpin sebuah tim yang dia pimpin dengan penuh kebaikan hati. Penuh toleransi, sehingga ketepatan waktu dan displin tidak lagi menjadi hal utama melainkan kebahagiaan dan kesenangan semua orang. Apakah itu baik? Ya tergantung. Kalau deadline terpenuhi tapi timnya stress juga gak sehat, tapi kalau deadline semua ngaret dan semua klien protes tapi timnya haha hehe doang, itu juga gak sehat. Nah, menjadi pemimpin yang bisa menyeimbangkan itu, tidak bisa hanya dengan 'hey kamu kerjain ini, ini dan ini selesai tanggal sekian' lalu beres. Tidak. Dia harus mencontohkan sendiri dengan pekerjaannya sendiri yang dia tepati, tidak ada delay dalam tasknya, tidak berlebihan dalam mengeluh di depan umum, yang dengan sendirinya timnya akan mengikuti.


Memang untuk bisa seperti itu harus berani mengambil resiko tidak disenangi orang. Kalau masih peduli dan masih terus ingin disenangi orang, yang ada jadinya di tiap chat harus memasukkan emoticon kiss with love pada setiap kalimat (ew).

Seorang pemimpin setidaknya harus tahu apa yang dia lakukan, and sadly, not everyone know what they're doing. Beruntunglah orang-orang di bawah tiga puluh tahun yang sudah tahu apa yang mau dia lakukan dengan hidupnya, lengkap dengan end goal yang ingin dia capai. 

***

Sebetulnya saya ingin bilang, jadi pemimpin itu mudah, apalagi kalau sudah berumur, tapi mending jangan kepedean deh sebelum dirimu betul-betul tahu apa yang kamu mau. Sebelum punya visi atas misi yang akan kamu emban. 


***

Tulisan ini saya tulis, karena dealing with hormonal imbalance while work load is getting crazier, and time is ticking menuju event training yang ternyata masih belum full seat.. jantung tidak berhenti berdegup cepat, deg-degan dengan task list yang masih panjang tapi satu-satu sudah selesai sebelum tenggat.. dan sambil memantau grup whatsapp pembicaraan seputar asi, menyusui, bayi, dan lain-lain. Kan bikin baper he.

***

Bogor, 18 November 2020

Semalem mimpiin Prof Bintoro, dosen pembimbingku yang tercinta.. kayak ku berusaha menghindari dia dengan ambil jalan memutari satu rumah kayu yang besar di tengah pohon-pohon, tapi akhirnya kita berpapasan juga. Dia seperti biasa: galak, dan saya seperti biasa: berusaha mengimbangi langkahnya. Mudah-mudahan bapaknya sehat-sehat.. saya pernah berniat mau berkunjung ke rumahnya, tapi gak punya alasan untuk apa. Kalau kemarin mimpi ke bandara, dan beli tiket ke Bali on the spot. Rupanya saya pun sudah butuh liburan, tapi terlalu malas untuk pake baju lain selain pajamas. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert