Skip to main content

Contemplative Meeting -- a thought from a long walk in the afternoon--

Kagum pada penciptaan Malaikat yang tujuannya hanya bertasbih atau bertakbir, tapi lupa bahwa tujuan penciptaan manusia hanyalah semata-mata untuk beribadah. Our whole life on earth, yang hanya seperenam dari keseluruhan perjalanan ruh, hanya dimaksudkan untuk beribadah. Saya baru tersadar sehabis isya tadi, sambil beresin dapur dan ngakalin komposter yang kerannya netes terus, sambil dengerin ceramah Ustadz Adi Hidayat. Sebetulnya saya sering dengar istilah tujuan manusia diciptakan semata-mata hanya untuk beribadah, tapi baru tadi lah kalimat itu menyentuh hati saya dan membuat berpikir. Berarti selama ini.. saya antara tahu dan tidak tahu, sadar dan tidak sadar akan tujuan saya di sini. 


Tapi ya namanya Insaan.. pasti lupa. Mungkin kadang inget, seringnya lupa. Itu lah. Seringkali telinga mendengar sesuatu, tapi hanya momen tertentu baru kalimat itu benar-benar mengena. 


***

Anyway..

Saya bukan mau menulis tentang itu.

What I'm about to write is something risky.. something that has been bothering my mind since yesterday's meeting.

Agak khawatir juga kalau tulisan ini sampai terbaca orang kantor, walaupun kemungkinan besar mereka baca. But that's okay.. mudah-mudahan mempermudah komunikasinya, karena saya tidak perlu repot-repot lagi menjelaskan.

***

Ada satu kebiasaan di kantor kami yang saya suka sekali. Dulu, waktu saya masih muda belum tahu apa-apa, saya senang menggagas dan mengawali sesi ini; sesi bicara dari hati ke hati. Saya namai sesinya dengan table talk. 


Rupanya Senin kemarin atasan saya sedang mood bikin sesi beginian, yang tidak match dengan mood saya karena di otak saya hanya ada urusan praktikal; memberi note kepada admin untuk menyiapkan ruangan dan sediaan untuk trainer yang mau numpang online di kantor besok, mengurusi peserta yang belum bayar padahal sudah h-1 dan kalau di chat oleh admin yang saya rekrut merekanya gak mau balas, membuat presentasi materi pembukaan yang singkat padat dan jelas tapi cukup untuk mempromosikan bisnis kantor.. segala hal teknis-teknis lain serupa transfer DP kaos dan printilannya lah yang ingin saya kerjakan di hari itu.


Tapi rupanya sang boss sedang ingin flowery, dan menanyai kami satu persatu, tentang bagaimana perjalanan kami dengan kantor selama ini, dan sudah apa saja yang dilakukan. Tentu saya mengernyit. Memang, akhir tahun selalu penuh kejutan. Kadang menyenangkan, tapi belum pernah tidak menyenangkan. Saya pun penasaran, apa lagi nih yang akan berubah di tahun besok ini.


Hanya saja saya tidak mau ambil pusing. Kepala saya sudah terlalu penuh dengan list tugas dari tiga aspek (training, marketing, dan urusan kolaborasi dengan orang-orang hebat grup sertifikasi), sampai saya menjadi pelupa berat. Selama lima tahun saya bekerja, hanya tiga kali saya pernah ketinggalan attachment ketika mengirim email, tapi kemarin, mengirim email ke seluruh peserta yang seharusnya berisi agenda, malah agendanya tidak terlampir. Saya lupa di mana meletakkan paket yang baru saya ambil, dan ternyata masih tergeletak di kursi teras. Saya lupa mengirim zoom link ke trainer, sampai dua puluh menit menjelang acara. 


Saya mengikuti meeting Senin itu sambil lalu. Juga menjawab dengan sangat padat ketika tiba giliran saya bercerita tentang perjalanan dengan kantor ini. Namun meskipun sambil lalu, saya menangkap ada hal yang mengganjal.


Lagi-lagi, seperti kalimat di atas: manusia diciptakan semata-mata untuk beribadah yang sering saya dengar namun baru tadi membuat saya sadar, jawaban rekan-rekan terhadap pertanyaan 'bagaimana rasanya kerja di sini' pun membuat saya tertegun. Semua nyaris sama, dan kali ini saya ingat, jawaban ini selalu dijawab setiap kali kita buat table talk. 


Jawabannya; karena jam kerja fleksibel jadi enak banget kerja di sini. Semua kekeluargaan, dan kantor ini rasanya seperti rumah. 


Baru kali ini saya berpikir.. apakah itu adalah sebuah fitur yang patut dibanggakan dari sebuah perusahaan? Pekerjaan yang jam kerjanya fleksibel sekarang menjamur sejak start-up menggelora. Perusahaan konsultan juga bukan cuma ini saja, tapi ada banyak ternyata list kompetitor kita. 

Kemudian saya membatin lagi, oh mungkin karena rasa kekeluargaannya ini yang membuat berbeda. Membuat nyaman, karena jawaban nyaman juga dijawab oleh hampir semua orang. 


Tapi apakah itu baik?

Saya menulis ini bukan untuk memberi jawaban atau solusi, tapi lebih kepada menuangkan kebingungan saya sendiri tentang keistimewaan sebuah perusahaan. Bagaimana jika ternyata suatu hari nanti, direksi membuat kebijakan untuk mencabut fleksibilitas jam kerja? Apakah mereka masih akan bertahan? Harusnya masih ya, karena kan kerja memang enaknya di jam kerja. Selain bisa kordinasi, juga di dalam Al-Quran di sebutkan, siang untuk mencari rizq dari Allah dan malam mu untuk beristirahat.. kerja di malam hari itu tidak efektif untuk orang normal yang berkeluarga. Akuilah. Kalau masih single macam saya begini ya oke lah. Tapi di kantor yang single paling cuma tiga orang si. 


Begitupun dengan rasa kekeluargaan. Ya meskipun saya adalah yang paling nyentrik dan gak get along dengan mereka, tapi saya tahu mereka sayang padakyu dan juga sebaliknya. I love them a lot like a family, but that's the thing about love and family, they don't always nice and most of the time sometimes you hate them. Rasa kekeluargaan juga akan hilang ditimpa dengan kepentingan keluarga beneran. 


Bukankah semestinya fitur terhebat dari sebuah perusahaan itu adalah bonusnya kepemimpinannya? Bagaimana sebuah sistem mengatur kinerja, karyawan, dan kualitas hidup mereka?

Saya benar-benar ingin tahu apakah jika dua fitur itu: fleksibilitas jam kerja dan rasa kekeluargaan adalah satu hal yang patut dibanggakan untuk sebuah perusahaan? 

I really wanna find a book about that. 

Karena dengan begitu, saya bisa belajar, jika suatu nanti kena tugas mendampingi pemimpin --apapun-- saya tahu apa yang harus dilakukan. Itu aja sih tujuannya. 


So I took a walk this afternoon, after a long exhausting day of two trainings in a row --berturut-turut dari jam 8-14, lalu 14-17-- contemplating everything about yesterday's meeting. 

Now is ten pm and I can think of nothing. Sangat ngantuk. bye


***

Bogor, 24 November 2020

Hore, juice ku sudah menghasilkan uang senilai 489ribu.. tapi minusnya masih berkali kali lipat. HAHA! Tapi kusenang. besok ku mau cerita soal composting. 



Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal