Skip to main content

The Relationship I Love

Dari menelusuri jejak Astrologi, saya menemukan string theory. Dari string theory, saya menemukan minimalism. Dari minimalism, saya menemukan hubungan antara ruh dan cahaya dan entitas Allah. 


Dari satu pikiran ke pikiran selanjutnya, semua bermuara pada Sang Maha Pencipta, padahal saya tidak sedang mencari-Nya. Setidaknya tidak seperti enam tahun silam saat saya tersesat di Saigon. Tapi dengan ke- Maha Murah-Nya, saya bisa kembali. Menemukan jalan yang saya jatuh cintai, pelan-pelan mencoba berbenah diri, merapikan hati dan memulai kembali.


Tidak ada kata yang bisa mewakili rasa syukur terhadap ilmu yang Dia beri. Dari satu video youtube, ke artikel-artikel panjang, lalu ke buku-buku yang pada suatu waktu saya desperate mencari buku di masa pandemi lalu seorang rekan dengan santai menyarankan sebuah situs buku yang saya sebut 'perpustakaan' digital. Ya, karena saya hanya pinjam saja buku-buku itu, nanti kalau saya suka pasti saya beli.


And then things are started to fall into places. Perlahan saya melihat, bahwa apa yang saya coba tularkan mulai berbuah hasil. Orang-orang di sekitar saya mulai berbahasa yang serupa dengan yang sering saya gunakan -dan bukan English atau arti bahasa secara harfiah-. Mereka mulai membicarakan hal yang sering saya angkat, agar terus menerus melibatkan Dia dalam setiap kegiatan. Tentu itu bukan karena saya, tapi karena Allah yang menggerakkan hati mereka, dan membuat saya lega karena ternyata saya masih di kelilingi oleh orang yang lunak hatinya.


Jika suatu hari nanti saya pergi, dan saya pasti pergi, tentu saya ingin meninggalkan legacy. Legacy yang bisa membuat orang kembali mengingat-Nya karena hanya Dia satu-satunya tempat kembali. Sehingga, pada waktunya nanti, saya bisa berdiri di hadapan-Nya, dan Dia tersenyum bangga pada saya. Meskipun apa yang saya lakukan tentu masih jauh dari sempurna, dan saya bisa melakukan yang lebih lagi, tapi apapun hasil usaha saya selama di dunia, Dia terima dengan senang. My only goal is to please Him now. 


Kemarin adalah hari lahirnya produk yang sudah saya ulik lima bulan lamanya. Produk ini terbersit dan mulai saya rancang lima hari sebelum almarhumah meninggal. Pun beliau adalah salah satu inspirasi saya membuat produk ini, karena saya ingin mengunjunginya, membawakan sesuatu untuknya, tapi tentu tidak bisa sembarang makanan atau benda-benda tidak penting yang hanya menambah bebannya saja. Saya ingin membawakan minuman sehat, yang bisa membuat beliau senang hati. Tapi ternyata produk ini baru bisa diumumkan lima bulan setelah beliau pergi. hehe,

Tapi gapapa.. beliau sudah enak sekarang. Minuman di sana pasti jauh lebih enak, cangkirnya juga dari emas, piala-piala seperti di negeri dongeng.. Saya buat ini di sini sekarang untuk jadi cara mengingatkan orang supaya terus memasukkan nutrisi baik ke dalam tubuh setiap harinya, karena sel kanker itu jahat sekali. 


Dari satu pikiran ke pikiran selanjutnya, satu rencana ke rencana selanjutnya, kadang saya terlalu sibuk dengan dunia, tenggelam dalam pikiran dan rencana, tapi sering lupa kalau saya bisa pergi dari dunia ini kapan saja. 


Mudah-mudahan kita semua jadi orang-orang yang selalu ingat, betapa sebentarnya dunia. Betapa tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kehidupan setelahnya. Supaya jangan terlalu mencintai secara berlebihan, hingga menyakiti perasaan orang.


***

Bogor, 19 Oktober 2020

Tulisan ini ditulis dengan dua koyo tertempel di badan. Setiap kali habis workout yang agak ekstra, badan masih saja protes. Juga habis denger video ini dan kusukaa sekali 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert