Skip to main content

The Bitter Sweet of Du'a [This is a long, deep, and elaborated post]

 It hurts to know that one thing that can make you the happiest person on earth, is also the same thing that make you the sad the most. 


Tapi kalau bukan karena sakit hati, perkataan yang menyinggung perasaan, atau segala bentuk ujian perasaan lain, kita mungkin tidak pernah tahu manisnya mengadu pada Sang Maha Kuasa. Saat semua keluh dan tangis ditumpahkan hanya pada Sang Maha Mendengar, dan di sanalah kita adukan semua kesedihan dan ketakutan, saat itulah kita tahu bahwa kita ini hamba yang lemah dan tidak punya apa-apa.


Saya sejujurnya ingin menghapus postingan sebelumnya yang there's no such thing as a mentor. Karna saya tahu betapa besar kans tulisan itu terbaca oleh orang yang bersangkutan, yang dulu pernah membuat saya menjadi anak kecil paling bahagia karena semua pintanya dituruti. Sekaligus membuat saya menjadi sangat sedih sekarang-sekarang ini oleh pergumulan yang tidak bisa dinalar. Tapi saya putuskan untuk membiarkan tulisan ini selama beberapa waktu ke depan, karena itu benar apa yang saya rasakan.


Ini rasanya jauh lebih buruk dari putus cinta. Apalah putus cinta tai kucing, orang pacaran juga udah jelas bakal temporary kok ya ditangisi. Ini lebih buruk dari itu. Hubungan dua perempuan, yang tadinya saling menopang, kini luluh lantak. Sedikit banyak saya berpikir, ini ada juga hubungannya dengan kehadiran orang baru yang entah bagaimana sangat mampu menyampaikan kabar buruk dari satu pihak ke pihak lain. Walau mungkin saja itu tidak disengaja. Tapi ya.. bahkan teman terdekat saya sejak SMA pun bilang saya ini naive. Saya memang naive untuk urusan emotional struggle. Makanya saya memilih untuk membangun dinding batas yang tebal dan tinggi.


Namun lagi-lagi, sebagai seorang manusia yang label tertingginya adalah seorang hamba, ketika hendak berdoa dan mengadu pada awal permulaan solat (yang baru setelah solat bisa berdoa), pastilah membaca Alhamdulillahi rabbil 'alamiin, -segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam-. Mau sesusah apapun hati, segundah dan sesesak apapun, jika melafalkan kalimat itu dengan segenap rasa, pasti mau tidak mau terbayang sudah nikmat-nikmat yang sudah Dia berikan. Lalu dilanjutkan dengan ayat-ayat selanjutnya yang sudah kita semua hapal by heart.


Hari ini saya mendapat satu lagi kabar yang membuat sesak di dada. Terakhir serangan seperti ini muncul persis seminggu yang lalu, Hari Rabu juga, membuat kepala saya berhenti bekerja. Sejak hari itu, setiap harinya adalah satu bad news to another, yang saya tangkis dengan cantik. 


Tapi kan tidak seterusnya orang bisa kuat terus-terusan. Apalah saya ini yang sedari kecil selalu lemah dalam urusan emosional dan gampang sekali menangis. Akhirnya, saya tumpahkan semuanya di dalam sujud-sujud yang saya perbanyak. Saya adukan semuanya, bertanya dan terus bertanya. Saya ceritakan semuanya walau saya tahu Dia tahu. Saya tidak perduli dan tetap mengadukan semua hal, mulai dari apa yang dia katakan tentang saya, sampai bertanya tentang apa yang membuat dia berbuat sedemikian rupa terhadap saya. Apa yang salah yang pernah saya lakukan, hingga orang bisa segitu dahsyatnya diam-diam menikam. Apakah tulisan-tulisa di blog ini? Kalaupun iya, mungkin saya tidak akan pernah berhenti menuliskannya. 


Masih teringat jelas kejadian dua tahun lalu, yang membuat saya menangis sampai jam empat pagi. Dia pun diam dan tidak sedikitpun memberi kabar. Bersikap seolah tak ada apa-apa, acuh dan cuek. Padahal dia selalu menjadi pahlawan bagi semua orang, siap membela yang lemah. Kecuali saya. 

Berlanjut ke November tahun lalu, momen di mana saya pulang kantor langsung menuju Masjid Alumni. Menangis dalam perjalanan, menangis dalam sujud, menangis dalam jeda antara pergantian Magrib dan Isya. 


Hari ini, saya memang tidak lagi bisa melakukan ritual sedih hati saya yang rutenya; masjid alumni - tawaf Botani Square - duduk di KOI sampe tutup. Tapi saya bisa bersimpuh selama satu jam, mengadu dan menangis. Biasanya setelah itu saya akan buka mushaf sambil bertanya what will Allah says about this.. dan betul, seringnya memang ayat yang saya temukan ada hubungannya dengan yang sedang saya rasakan. Kali ini bunyinya begini: 


"Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, "Kapankah datang pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. QS 2:214.


Saya memang tidak lagi merasa benar hanya dengan mengutip satu ayat, karena saya tahu ada banyak layer to uncover dari satu ayat itu dan rasanya terlalu dangkal jika menggunakan ayat itu hanya untuk keadaan saya sekarang. Tapi, (barusan juga nonton youtube NAK yang ini dan bagian awalnya bilang bahwa Al-Quran dibuat sedemikian rupa, sehingga bisa relate terhadap semua kalangan. Dari yang paling general sampai yang paling spesifik sekalipun.


Karena dari ayat itu sebetulnya menggunakan kata Nashr' sebagai pertolongan, dan kata nashr' itu artinya pertolongan dari musuh --lebih ke masa peperangan gitu-- karena ayat selanjutnya juga sebetulnya yang populer dikutip tentang menyukai sesuatu padahal buruk bagimu, tapi tidak menyukai sesuatu padahal baik bagimu. Itu konteksnya tentang perang.


Meski begitu, saya tetap menangis membacanya, karena boleh juga sedangkal menarik arti kata harfiah itu karena pertanyaan saya sama "kapankah datang pertolongan Allah" tanpa sedikitpun meragukan bahwa Dia akan membuka pintu itu, Allah Mendengar dan Melihat setiap apa yang saya perbuat, dan pasti akan ada akhir bagi semua cerita ini. Saya hanya bertanya, bukan meragukan, dan mendapati kalimat itu tertulis di situ, saya baca tanpa sengaja, tanpa memilih ayat atau bagian, saya baca setelah saya melontarkan pertanyaan yang sama.. itu seperti pertemuan antara dahaga dan muara. Pecah tangis saya lagi-lagi, karena saya memang se-cengeng itu.


Itulah kenapa saya suka bikin training. Training and its uncertainty membuat saya berpegang semakin kuat pada-Nya. Mengharap Allah ridha, dan semua berjalan dengan lancar. Sembari menjalankan amanah yang ditugaskan pada saya, sekaligus membagi-bagi bahagia pada siapapun yang datang mendaftar atau sekedar terlibat. Tiga tahun lalu saya bersimpuh mengadu, hidup yang hanya mencari uang saja. Berlimpah project silih berganti, tapi seperti tidak ada value yang bisa menjadi legacy. Lalu Allah ganti dengan ini, training demi training saya buktikan sendiri, betapa keajaiban dari kumpulan doa sana dan sini bisa merubah hari yang paling buruk sekalipun menjadi seperti baru terbit matahari --hangat dan menetramkan--.


Tanpa semua itu.. perkataan yang menyakitkan, hati yang membenci, sindiran yang menghujam, dan ketidakpastian yang penuh harap.. mungkin seseorang tidak akan bisa tahu manisnya doa. Saya tidak tahu akan seberapa lama hidup di dunia ini, bisa jadi besok adalah hari terakhir saya, dan satu-satunya bekal yang saya bawa hanyalah amalan tanpa meninggalkan keturunan. Untuk itu lewat tulisan-tulisan di blog ini, mudah-mudahan jika ada yang menyakitkan hati, sakitnya itu untuk perbaiki diri. Karena saya tidak menulisnya to make me feel good about myself. Saya pun tidak menikmati menulis per-katanya. Tapi itu harus dibagi, agar kita berhenti menjadi orang yang penuh kepalsuan. Karena boleh jadi, orang yang kita semangati di depan publik, adalah orang yang memilih pergi karena tidak ingin bersama kita.


***


Bogor, 14 Oktober 2020

Warna langit yang lembut, matahari membulat hangat dan indah, adalah hadiah pulang kantor yang selalu saya nikmati jika Bogor lagi cerah-cerahnya. Seperti tadi sore, dan saya bersyukur karenanya. Semoga kita semua tumbuh dewasa, menua menjadi orang yang diteladani, bukan karena kesalahannya tapi karena kesyukurannya. Jangan sampai ada anak muda yang enggan menjadi tua, karena melihat kita, dan polah kanak yang kita bangga.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …