Skip to main content

Pada Hari Senin

Pulang ke rumah dengan kepala yang seperti dihujam samurai. Berat dan sakit sekali rasanya apalagi kalau abang gojek ngelewatin gundukan, ngerem aja sakit minta ampun apalagi dia gak ngerem. Saya hanya diam sepanjang jalan istigfhar dan berusaha menikmati pemandangan Bogor sehabis hujan. Kalau ada kubangan, dari jauh saya sudah pasang ancang-ancang, menahan kaki di pijakan dengan lebih kencang setidaknya untuk meredam sedikit hentakan. 


Tetangga seperti biasa sedang duduk di halaman rumahnya saat saya sampai. Menyapa sebentar, membicarakan hal-hal remeh tentang ikan dan harga-harganya, tentang kemajuan jualan ikannya, sedikit tertawa pada topik yang rasanya sangat domestik dan ditutup dengan 'tetangga gue juragan ikan' ujar saya yang dibalas 'tetangga gue juragan juice' katanya.


Saya benar-benar hanya ingin sendirian, berdua dengan pikiran. Tas saya letakkan sembarangan, langsung menyiapkan makan malam yang hanya sebutir alpukat dan tiga sendok gula merah, yang saya tinggal mandi. Selepas mandi, saya berniat menikmati makan malam hening, silent dinner, or I may say. Benar-benar lelah dan tidak ingin berinteraksi dengan siapapun. 


Tanpa diduga, sebuah pesan masuk, ajakan untuk zoom meeting membahas rencana camping bersama orang-orang kantor dan keluarganya. Biasanya saya tidak begitu suka acara kantor yang melibatkan keluarga, karena membuat saya jelas sekali belum berkeluarga, dan bikin baper ingin berkeluarga tapi ga tahu bagaimana caranya. Tapi kali ini saya setuju saja untuk ikut, I need some nature too dan lagi it never be that bad.


Meeting itu ternyata menyembuhkan mood saya yang rusak gara-gara meeting siang tadi. Lumayan ringan rasa hati, selepas makan malam pun kepala jadi ikut ringan. Rupanya saya hanya butuh orang-orang baik saja. Rupanya.. dan ini yang bikin pingin nangis lagi.. saya terlalu terikat --tertarik-- apalah bahasanya --tercemplung-- dengan orang yang punya karakter serupa papa saya. Lagu Simple Plan 'Perfect' yang sampai sekarang tidak bisa saya dengar tanpa meneteskan air mata itu, rupanya berlaku lagi di pekerjaan. Saya tidak sadar akan hal itu sampai hari ini. 


Ternyata selama ini, saya memang selalu melakukan yang terbaik, karena ada bagian dari diri saya yang secara intuitif merasa hal yang sama dengan yang saya rasa terhadap papa yang selalu menuntut yang terbaik. Meski dia --mereka-- puas, tetapi kepuasan itu tidak pernah ditunjukkan dan justru yang ditunjukkan adalah kekurangan demi kekurangan saya.


Di satu sisi itu bagus sebagai motivasi, tapi di sisi lain saya berubah menjadi perempuan penuh ambisi, yang berlari tanpa tahu untuk apa dia berlari. Walaupun dalam dua tahun belakangan ini saya belajar untuk melakukan sesuatu karena Allah dan bukan karena ingin dipuji orang, yang saya iyakan karena saya memang tidak butuh pujian dari penonton, tapi saya butuh pengakuan dari mereka berdua ini.


Mungkin di sini lah yang harus saya lepaskan. Lingkaran setan yang membuat saya jatuh pada father figure yang salah. Entah bagaimana, tapi saya harus bisa berhenti membuktikan diri. Hidup hanya untuk diri sendiri, mewujudkan mimpi sendiri, sampai nanti saya punya pemimpin yang ditakdirkan untuk saya dampingi memenuhi mimpi-mimpinya.


Pada Hari Senin saya belajar sesuatu, tentang berhenti berusaha menjadi anak perempuan terbaik. I can be a bitch and that still fine. Saya juga sadar bahwa figur seorang ayah berperan sangat krusial terhadap putrinya. Ayah yang tidak puas dengan pencapaiannya sendiri, akan membesarkan perempuan ambisius yang tidak mampu menyeimbangkan kehidupannya. 


***

Bogor, 26 Oktober 2020

Senin itu seru kalau malamnya sampai harus nge diffuse oil. Meeting virtual pagi sampai siang, lalu jelang sore ke kantor hanya untuk makan daging yang masih sisa Jumat kemarin. Daging yang dibawakan rekan saya dengan sangat antusias, tapi dibilang kurang ini dan itu oleh rekan lainnya, saya makan dengan nikmat. Bodoamat. Beda selera aja itu, selera saya dan yang bikin daging itu sama, sama-sama suka manis. Saya masak sambal balado, tomat dan gula merahnya lebih banyak dibanding cabe. HAHA! Kangen Eyang btw.. pingin pulang..

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert