Skip to main content

October in Bogor

 Sebuah kutipan dari Bude Sumiati dua hari lalu, Bude Sumiati yang selalu jenaka menggelitik nan hadeh. 

Katanya.. "sedang menguatkan diri tuk mau jatuh cinta lagi" yang langsung saya quote tweet pakai emoticon terbahak. Tidak lama kemudian menyusul sebuah mention dari kawan SMA saya, berkata "why is this reminds me of you.." sambil tertawa. 



***


Oktober --baru saya sadari-- ternyata banyak sekali mengandung permulaan. Misalnya, ini adalah Bulan saya di wisuda, lima tahun yang lalu. Tepatnya 22 Oktober 2015 dan saya masih ingat betul kecemasan saat itu tentang jenis karir seperti apa yang hendak saya tempuh. Saya ingin yang bisa jalan-jalan, tapi juga memperjuangkan lingkungan, tapi tidak terlalu konservatif hingga tertutup pikirannya melulu tentang perlindungan. Dijawab tunai oleh Allah di bulan berikutnya, November, tanggal 3 saya bertolak ke Pangkalan Bun oleh ajakan seorang rekan yang baik sekali, dan on the fifth of November, saya masih ingat betapa mangkelnya ketika kami hendak bekerjasama dengan simpul LSM lokal dan yang bersangkutan mangkir hadir di hari yang sudah disepakati. Klasik.



Tahun setelahnya, untuk pertama kali dalam hidup, saya di rawat di rumah sakit. Tiga hari mengurung diri, memilih VVIP room yang luas bukan main tapi menolak bahkan melarang setiap orang yang mengenal saya untuk mengumumkan bahwa saya dirawat. Postingan whatsapp grup yang sempat dikirim, saya minta dengan tegas untuk dihapus, dan sebagai gantinya, doakan saja. I made it clear; saya tidak mau ditengok because I'm fine. 


Oktober 2017 lain lagi. Waktu itu sudah delapan bulan saya berhasil menyingkirkan perasaan-perasaan galau tentang laki-laki. Tentang seseorang yang saya beri kesempatan berjuta kali, dan delapan bulan saya berhasil menghapus dia dari memori. Di Oktober, kami bertemu lagi untuk pertama kali dalam delapan bulan. Di situ lah saya membuat keputusan besar untuk berhenti ikut project ke lapangan. Belum.. belum final, tapi dari situ pemantik keinginan berhenti itu muncul. Saya sadar, kalau berhenti dari ke project-an saya harus punya sesuatu yang bisa dilakukan dan lebih dari project. Sejak Oktober itu saya mulai berpikir mengatur strategi selanjutnya, yang terjawab dengan apa yang saya lakukan sekarang.


Dua tahun kemudian kami bertemu lagi, dan itu juga adalah kali pertama saya kembali project-an setelah vakum satu tahun lebih. Rasanya rupa-rupa, antara malas tapi antusias, apalagi project itu adalah project kolaborasi. Kemudian ada drama tidak menyenangkan, yang bagian itu saya hitamkan, enggan mengingatnya yang saya ambil pelajaran berharga tentang mengontrol emosi dan pikiran. Pulang dari sana, saya menjadi manusia baru yang berhenti marah-marah. 


Oktober 2019, jelas adalah sebuah terobosan. Membeli tiket Bayyinah World Wide Tour, dengan antusias mendengarkan semua video youtube Nouman Ali Khan di Bayyinah Institute, dan keluar dari satu grup yang cukup toxic bagi saya. Itu adalah permulaan yang baru bagaimana saya belajar membangun boundary.


Oktober tahun ini, saya belum jelas juga apa yang baru, tapi tentu ada bayi bayi baru lahir yang perlahan mulai melihat cahaya. Mudah-mudahan konsisten, dan saya juga masih menunggu dengan antusias, what's next?


***

Bogor, 23 Oktober 2020

Bangun tidur di Hari Jumat saja sudah membahagiakan, apalagi ini ditambah morning rain, dan langit awan serta Gunung Salak yang cerah pukul tujuh pagi saat saya berangkat menuju titik lokasi foto-foto. 

Dan oh.. 


Oktober, 11 tahun lalu pun adalah mula dari sesuatu yang baru. Yang menuntun jalan saya hingga ke tempat ini sekarang, pojok kasur abu-abu, berlatar dinding putih dan abu-abu, berdiri di area yang masih abu-abu. 


Bonus, foto langit pagi ini..

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert