Skip to main content

Mean

 Ada orang mengatakan hal buruk pada saya hari ini. Membuat pagi yang super sibuk tadi menjadi semakin gelap dengan apa yang dia ucapkan. Saya jadi lupa segalanya karena isi kepala saya hanya tentang luapan emosi dari kalimat yang dia tuliskan. Kalau kata Mega, bikin ngilu. Iya, ngilu di hati ucapannya itu.


Ingin sekali saya balas dengan singkat namun kejam, jika mau, saya bisa lebih tajam dari itu. Tapi apa gunanya, kan saya ingat pernah baca kutipan bijak, jika kamu beradu argumentasi dengan rekanmu, kamu menang atau kalah tetap tidak akan baik hasilnya untukmu. Jadi saya memilih diam, walau sakit bukan main. Saya beristighfar minta ampun sama Allah karna mungkin ada juga pernah ucapan saya yang menyerempet hati seseorang sedemikian rupa, dalam interaksi yang lalu-lalu, dan inilah balasan saya di dunia.


Selang satu jam berikutnya, datang sebuah pesan dari teman lama yang laaama sekali tidak berkabar, tapi masih saling terkoneksi di sosial media. Isi pesannya, dia meminta gambar design yg saya buat, untuk dijadikan contoh bahan publikasi post-event.


Di situ saya bahagianya bukan kepalang, berusaha tenang tapi saya tetap ekspresikan. Saya berterima kasih padanya karena sudah menyampaikan hal baik pada orang lain hari ini, karna dia tentu tidak menyangka kalau hal baik itu bisa mencerahkan hari seseorang dengan seketika. Lagi-lagi saya teringat kalimat bijak, if you see good thing in someone, tell them. 


Jadi begitu rupanya, ada aksi ada reaksi. Ucapan jahat yang disampaikan oleh orang itu ke saya bisa jadi adalah balasan dari apa yang pernah saya ucapkan ke dia juga. Jadi saya terima, daripada balasannya di akhirat mending sakit di dunia. Tapi Allah dengan ke-Maha Baikan-Nya, tidak akan membairkan hamba-Nya menanggung tebusan dosa di dunia tanpa memberi ganjaran kebaikan juga. Jadilah saya diberi hadiah berlipat, selain chat dari teman lama saya itu, ada juga beberapa celoteh canda bapak-bapak di grup yang sedang berkolaborasi dengan saya, mencandai kiriman hadiah dan lalala nya. Cukup lah buat bikin terhibur. Ditambah lagi, seorang rekan lain yang biasanya diam dan hening jika sudah menyangkut urusan yang saya kerjakan, justru menjadi orang pertama yang mengirimkan data dan bahan untuk saya olah jadi bahan publikasi. :D Triple!


***

Mungkin kita memang punya Tuhan yang sama, kita berdoa pada Pemilik Semesta yang sama. Mungkin diapun sama, mengadukan tentang saya pada-Nya sebagaimana saya mengadukan segala bentuk sakit hati yang saya pernah terima dari dia kepada-Nya.


Tapi Dia Maha Adil, dan tidak pernah salah dalam memberi. Jadi saya sekarang harus percaya saja sih. Mengikuti jalan cerita yang Dia buat, sampai suatu hari ada titik terang. Cerita-Nya tidak pernah salah, saya saja yang kebanyakan berencana membuat-buat skenario padahal sepuluh menit nanti masih hidup atau tidak ya belum jelas.


Jika sekarang ada keburukan yang harus saya tempuh, itu demi menyeimbangkan diri agar tidak terlampau nikmat hidup di dunia. Agar ada pengingat bahwa mati itu dekat. Kalau bukan karena ini, mungkin akan jarang saya mengingat keburukan saya yang lalu, dan meminta ampun karenanya. Memang ya setiap orang punya prosesnya sendiri, dan hanya orang-orang yang masih diberi rahmah-Nya saja yang bisa mengingat-Nya dalam setiap keadaan yang dia hadapi, baik maupun buruk.


Memang cara paling jitu menghindar dari gulat emosional macam ini hanyalah dengan menenggelamkan diri dalam kesibukan. Mengasah kemampuan diri, berkolaborasi dan bertemu banyak orang, hingga suatu hari nanti --kalau kata Nisa-- kamu lupa kalau pernah sakit hati.


***

Bogor, 7 Oktober 2020


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …