Skip to main content

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear.


Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat. 


Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika malam mulai turun, hujan juga ikut turun, sendirian di tenda while listening to my self thinking, saya dapat banyak sekali ide dan energi baru. Pun ketika jelang tidur hujan masih ngetok-ngetok tenda, saya justru jadi amat pulas dan lelap karena itulah yang saya cari; sleeping under the open sky and if I'm lucky, there might be some rain.


Bangun pagi-pagi sebelum matahari, menunggui matahari hingga terbit sepenuhnya, lalu bertolak ke air untuk cuci-cuci muka dan bersiap bantu-bantu sarapan, the morning started good. Disaster baru muncul tidak lama setelah hening pagi itu berlalu.


A Detour

Just like any other thing in life, I like to take a detour when I got left behind.

Saya ikut menemani anak-anak rekan kantor mendaki menuju curug alias air terjun. Kata Agus --anak baru di kantor yang menjadi tour guide kita kali ini-- jalurnya lumayan curam, tapi dia siap untuk gendongin anak-anak kecil itu satu persatu kalau ada jalur yang susah. Waw what a commitment, saya pikir amanlah kalau ada anak muda yang se committed itu membawa bocah umur 3-11 tahun menembus hutan. 



Benar saja, jalurnya sempit dan licin bukan main, di sebelah kiri jelas-jelas jurang yang dipenuhi tetumbuhan. Saya harus membagi konsentrasi antara jalanan yang licin supaya tidak salah pijak karena tergelincir sedikit wasalam, juga tetap membuat anak-anak itu senang karna sambil bercerita, dan sesekali mengambil foto momen langka seperti waktu Agus gendong anak umur 3 tahun sepanjang jalan. 


Kami tiba dengan selamat, anak-anak main air sebentar, saya pun tentu ikut kebasahan, tapi saya tidak keberatan karena my Funko Pops got the best time of their artificial life. Sesaat setelah kami memutuskan pulang, dan saya melihat ada jamur yang sangat cantik sekali, tertangkap di kamera dengan begitu dramatis apalagi ditambahi Funko Pop, saya terpaku di antara tumbuhan paku-pakuan. Memotret, satu jepret dua jepret, tanpa sadar rombongan sudah bertolak. Begitu sadar, mereka sudah hilang sepenuhnya dari pandangan mata. Saya memutuskan jalan sendiri, dan menemukan persimpangan. Sok mengikuti intuisi, saya ambil jalur menurun.



Rupanya jalur itu sangat terjal, saya tergelincir dan terseret jatuh sampai agak jauh. Untuk memanjat ke atas lagi sudah sangat tidak mungkin karena tanahnya licin dan gembur, juga tidak ada pegangan karena tumbuhan yang ada di situ sudah lapuk atau berduri. Saya memutuskan untuk jalan terus mengikuti suara, karena celoteh mereka masih terdengar. Sesekali mereka berteriak memanggil, yang saya sahuti dengan khas 'yoo amaan! catchin uuuup!!!'. Padahal tidak lama setelah berteriak begitu, saya menemukan jalan buntu. Di situ saya yakin saya salah jalan. Saya berteriak 'ini jalurnya yang mana?' di balas 'ke kiri teruss' baik, saya memutar arah. Karena kalau ke kiri terus yang ada di depan saya ini tebing yang artinya saya memang salah jalan. 


Jadilah saya memutuskan untuk kembali ke titik semula saya bimbang; di persimpangan. Tapi sebelum sampai ke sana, saya sudah tergelincir semakin jauh. Rupanya saya berada di lereng yang kemiringannya sangat miring (ga berani menebak derajatnya, karena kecerdasan spasial saya terbatas), dan jalur ini tidak mungkin dilewati kecuali dengan memanjat. Saya berteriak memanggil-manggil Agus, dan dengan cekatan dia kembali ke titik saya hilang tadi, dan tidak lama kemudian suara kami bertemu. Rupanya Agus jauh sekali di atas dan saya sudah sampai di dasar jurang yang berupa air terjun tinggi sekali.

(cuma dapat pucuk tebingnya, di ambil dari jarak 200 meter dari bawah tebing. Lensa saya fix, memang cuma untuk foto Funko)


Susah payah saya memanjat naik, karena memang harus manjat dengan tangan dan kaki menopang seluruh berat tubuh, Agus menyusul separuh jalan untuk menarik tangan saya saat pijakan benar-benar hilang, sesekali saya masih harus tergelincir lagi dan terpaksa memegang tumbuhan berduri yang durinya masih menancap perih di tangan dan kaki sekarang ini sambil menulis tulisan ini. Kalau mandi dan kena sabun rasanya periih, tapi saya ingat kalau rasa sakit pasti hilang. Kayak kata Outkast kan Nothing is forever, (lanjutan liriknya; then what makes then what makes love exception. So why oh why oh why oh why oh are we so in denial when know we're not happy here..... -Hey Ya-). Singkat cerita, saya berhasil memanjat dibantu Agus, kaos putih saya berlumur lumpur, dan saya turun sambil mengancam semua orang untuk tidak bercerita apapun tentang ini ke siapapun yang langsung ambyar karena yang cerita justru anak umur tiga tahun dengan polosnya. HAHA. gemass.

Inii pelakunya.. digendong Agus, si rescue-er


Tapi ya memang kalau orang yang kenal saya lama pasti tahu kebiasaan saya ini. Tidak bisa ditinggal sendirian jalan di hutan. Pasti nyasar. Entah kenapa. Bahkan atasan saya saja dengan wajah sok polosnya itu bertanya Are you not Lawalata.. Ya begitulah Pak Cecep selalu mempertanyakan ke-Lawalata-an saya. Sama sih, Pak. Saya pun.


Tulisan ini saya buat, karena saya tahu aib ini akan jadi bahan bully an seumur hidup, sebagaimana lingkaran pertemanan kami yang masih mengingat aib satu sama lain sebelas tahun yang lalu. Jadi sebelum di bully, saya publish duluan. 


Dikepung Macaca

Setelah puas ditertawakan, saya mengambil perlengkapan mandi dan menuju kamar mandi umum. Bumi Perkemahan Sukamantri sudah dilengkapi dengan fasilitas masjid, kamar mandi, dan aula. Untuk kamar mandi ya jangan berharap banyak ya, segitu juga sudah syukur gak perlu pipis di semak-semak. Tapi ada satu hal yang perlu anda waspadai jika ingin berkemah di sana: Macaca fascicularis alias monyet. Banyak sekali monyet yang keluar di jam-jam makannya; jelang siang, atau jelang sore. Mereka tidak segan mengambil makanan dari tenda yang lengah tidak di jaga. Saya ikut menertawakan monyet yang membawa lari sebungkus lays rumput laut. Tahu aja makanan enak.


Sehabis mandi, segar, berganti baju, beberes tenda, saya menawarkan diri untuk membantu tim dapur yang memang sudah sibuk sejak pagi. Dapur kami selalu ngebul karena ada Mbak Linda yang sangat berdedikasi, bolak balik cuci piring pun tanpa henti. 

"Bantu cuci lalapan aja ya neng," ujarnya saat saya menawarkan diri. Saya selalu menjadi real person, begitupun Mbak Linda. Kalau saya menawarkan bantuan dan dijawab nggak kok ga ada, saya selalu langsung bilang oke mbak, tanpa perlu basa-basi lagi bantu ini itu karena saya tahu isi kepala perempuan kalau dia tahu apa yang dia mau kerjakan, bantuan orang justru lebih merepotkan.


Demi mengemban amanah tersebut pergilah saya kembali ke area kamar mandi, yang di situ ada bak besar yang airnya selalu mengalir. Ketika saya kembali dengan sekeranjang sayur segar dan bersih, saya dicegat oleh seekor monyet. Masih santai, saya usir dia dengan tegas. Rupanya dia lihat apa yang saya bawa dan memanggil teman-temannya. Alih-alih mundur, mereka malah semakin banyak. Ada dua jembatan di depan area masjid dan kamar mandi; satu jembatan yang hendak saya lalui, satu lagi jembatan gantung. Saya melihat ke arah jembatan gantung, sebagai alternatif jalan menuju tenda, rupanya isinya sudah penuh monyet. Saya bisa perkirakan jumlahnya pasti lebih dari tiga puluh ekor. Banyak sekali memenuhi ruang segala penjuru, di depan, kanan dan kiri..


Saya benar-benar di kepung, akhirnya memutuskan untuk teriak minta tolong 'aaakk.. help..' karena di dekat situ ada sekumpulan orang yang juga saya kenal, para consultant associate yang ikut berkemah walau tidak resmi gabung dengan rombongan kami karena tenda mereka pisah sendiri. Tenda mereka lah yang terdekat dari jembatan yang hendak saya lewati. 


Ketimbang nyasar di jurang tadi, dikepung monyet ini lebih membuat saya gemetaran. Mereka benar-benar berani maju hendak menyerang saya. Saya usir dengan tegas, satu ekor malah balas menggertak saya menunjukkan gigi-giginya yang tajam. Jantung saya makin berdebar, dan kembali berteriak minta tolong.


Kali ini Burhan, seorang rekan associate yang dulu juga pernah beberapa kali ke lapangan bareng. Dia datang dengan santainya, melewati jembatan yang hendak saya lalui, menawarkan diri mengambil keranjang sayuran yang saya bawa, dan saya berlindung di balik ranselnya yang besar sambil melempar pandangan kesal ke arah monyet-monyet itu.


Camping satu malam, dan saya sudah di rescue oleh dua orang. Lalu mereka bertanya 'why you hate camping so much?'


Another Detour; the other side of Bogor

Selesai dengan semua urusan berbenah yang tentu memakan energi, menyusun strategi kepulangan bagi kami yang tidak membawa kendaraan, semua sangat menguras tenaga. Setelahnya saya masih memutuskan untuk menemani rekan yang belum bisa pulang karena menunggu rekan lain yang belum turun.


Saya tidak tahu berapa lama kami menunggu. Sengaja tidak pakai jam tangan, dan lihat hape pun terakhir pukul tujuh pagi selebihnya saya sama sekali tidak menengok apapun bahkan jam pun tidak. Saya biarkan waktu berlalu, duduk menunggu di depan alfa mart, berceloteh ringan tentang apa saja dengan tiga anak kecil --well, dua anak kecil satu sudah mulai abege-- dan seorang rekan yang saya temani. Jelang sore yang ditunggu sudah datang, dan rupanya, alih-alih membiarkan saya pulang sendiri naik gojek, rekan saya yang lain alias Mas Rhama alias trainer HCV 1-3 AiKnow, menawarkan diri untuk mengantar pulang dengan motornya. Rumah kami berdekatan sebetulnya, cuma saya tidak enak karna pasti menambah beban, dengan ransel dan tenda yang saya bawa.


Sebutnya dia tidak keberatan, jadi tanpa diminta lagi saya langsung hop in ke jok motornya. Mumpung gratis, saya bilang padanya. Bonus dari perjalanan pulang tadi adalah, sebuah rute yang saya tidak sangka ada di dekat rumah. Banyak view point menarik yang jaraknya hanya sepelemparan batu. Kami melewati jalanan kecil, tidak terlalu ramai, dan masih dipenuhi tanah luas yang ditanami sayuran atau umbi-umbian. Masih sangat pedesaan.. masih sangat.. Bogor. 


Atau setidaknya, Bogor yang saya ingat dari memori masa kecil. Juga Bogor yang saya ingat, dari blusukan jaman mahasiswa dengan grup pecinta alam. Saya menikmati perjalanan sore tadi, meski itu sebenarnya bukan detour, tapi cukup untuk membuat pikiran sedikit terdistraksi. Tentang perjalanan yang sudah saya ambil di tengah pandemi.

Camping, for some reason...

Saya tahu ini agak terdengar gimana begitu ya liburan di tengah pandemi. Tapi saya pikir sudahlah, ini saatnya kita untuk memilih sisi bahagia --sisi menyenangkan tapi tetap bertanggung jawab-- bukan berarti saya mengajak orang untuk berlibur demi kewarasan, tapi memilih kewarasan bagaimanapun caranya. Termasuk dengan tidak membuat orang lain merasa bersalah dengan pilihannya. Biar bagaimanapun hidup adalah pilihan, untuk pergi camping atau tetap tinggal di rumah, itu hak setiap orang. Don't make people feel bad for the choices they made. You will never understand what they've been through and the reason why they choose that choice. Not even if you walk on their shoes. Selamat berlibur bagi yang memilih tuk bepergian, selamat berbahagia bagi yang masih memilih untuk tetap di rumah. 

***

Bogor, 29 Oktober 2020

...


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert