Skip to main content

Bogor.. for some reason

Maybe father was right after all. This town has something, one that makes it feel like home and stranger at the same time. Maybe I can’t appreciate it that much because I live here and the only way to have a strong feeling about places, is when you are away from it.

I realized it today, as I decided to take a walk after a two hours of exhausting online session. Though I did nothing. The walk was.. well.. the walk. The magnificent view of Mount Salak was covered by thick grey cloud, I love it at shiny days, tho. Mount Salak is breathtaking even from my block street. 

“Hey, look! You can see Mount Salak from here” I told a friend who was giving me ride home.
“Yeah, like I never saw it before” he replied, sarcastically. I laughed. Yea, he was right. There’s nothing to be amazed for. It’s just a regular view for us who live around.

After one realization or two.. now I decided to stop wanting to get out of here. I must admit.. even I am not brave enough to do what I said I wanna do. I don’t have any courage to apply for that scholarship.. one that used to be my reason to convince myself to break up from the ex. Honestly,,, and this is hard to admit,,, honestly I’m scared. I can’t picture myself, doing routine in a strange world, away from my family or the people I know. As desperate as I am to have a fresh start.. pursuing master degree in other country alone, is scary. But I keep telling people I want that, and I’ll go chase that. 

“But you’re fearless.. why?” Asked an older woman one day when I finally can say it outloud a couple of week ago.
I was just shrugged. That’s all the answer I got. 

Maybe because I have been alone for so long.. I don’t wanna get too attached to it. I left home when I was thirteen, never came back home since. Now that I have a house, I know now how nice it is to have a place to come back to. After two years I realized, this is addicting. Singleton is conquering me, and I’m afraid to give any space to anyone. Too scared that they’ll never fit in and leave a hole I can’t replace.

Alright.. it’s too much information.
But my point is.. maybe father was right about this town. I started to understand how for some people Bogor is a memory they will forever keep, or a dark chapter they will never revisit. It is a mystery for young girls and boys who dreamed about college and future, and a memory about rain and romantic town forest. 

But for some others.. it is the only place to live. Wake up every morning, go to work, come home, and go to bed over and over again.

This is at last.. the town of when people says its name, all they had in mind is beautiful things that can lift a smile. 
***

You know where I am, October 20, 2020

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert