Skip to main content

A Wednesday

 I don't feel like 'live' today. Tidak biasanya, padahal kalau sehari sebelum sesi online, saya sangat semangat mempersiapkan ini dan itu, mencatat setiap detil yg harus saya sampaikan supaya tidak ada yang terlewat. Sekarang, saya malah baru mulai mengirimkan link ke peserta pukul sembilan malam, dan bikin presentasi untuk opening satu jam setelahnya. 


Mungkin trauma.. mungkin saya memang tidak sekuat itu menghadapi omongan orang. Sesi terakhir berlangsung sangat meriah, semua yang datang antusias, dan sesi kali ini pun jumlahnya hanya sedikit berkurang dari sesi sebelumnya yang artinya ya masih sama banyak juga.


Seperti hilang selera makan, tapi makan ayam bakar sambil facetime dikadik abege dua itu habis juga. Seperti enggan skincare, tapi lihat nanti habis nulis tulisan ini akan tetap skincare-an atau langsung tidur. Niatnya sih langsung tidur.

Seperti kehilangan separuh semangat, pada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Mungkin saya sebal dengan sistem pencernaan yang terlalu manja ini. Pinginnya makan samyang.. duh.. tapi pasti besoknya tumbang. Scroll go food sore tadi banyak sekali yang ingin saya makan.. tapi saya tahu diri. Yasudah menelan sebal itu bulat-bulat sambil memesan apa yang menurut feeling saya aman: ayam bakar.


Jelang pukul sebelas malam sekarang, saya masih belum menyelesaikan banyak hal untuk besok pagi. Mudah-mudahan besok bisa bangun sangat pagi dan selesaikan semuanya.

***

Bogor, 21 Oktober 2020

Mungkin ini kenapa orang baik seneng kalau mati. Dunia itu capek.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert