Skip to main content

Too Busy to Die

Pagi tadi saya bangun sambil tertawa, karena ada yang lucu entah di mana saya lupa (instagram atau twitter). Yang jelas hati saya ringan sambil menjalani rutinitas pagi yang coba saya bangun sejak ingin berdisiplin anti tidur jilid dua club.


Brewing coffee itu jelas.. how could I not if coffee is the best part of morning. Apalagi saya baru menemukan varian kopi enak sekali -tidak baru bagi dunia tapi baru bagi saya- karena selama satu tahun saya dengan konsisten hanya membeli satu varian dari toko yang sama yang bungkusnya tidak pernah saya buang entah disimpan untuk apa: Arabika Wamena. Sekarang, saya mulai beralih ke Arabika Aceh Gayo. Saya bukan coffee freak yang tahu rasa-rasa aroma dan campuran bla-bla-bla. Saya cuma tahu saya butuh kopi untuk bikin kenyang pagi hari, karena saya pasti malas makan, dan saya hanya bisa mengkonsumsi kopi dari biji asli dan bukan kopi campuran dalam sachet (stomach-acid-wise). Brewing method saya juga gak wah-wah amat. Gak pakai kettle yang kayak belalai gajah itu, cuma panci biasa yang beli di Giant harga 20ribu dan khusus hanya dipakai untuk merebus air tidak untuk hal lain, gelas takar tupperware yang tutupnya sudah hilang tapi ukuran mililiternya masih jelas, french press, dan cangkir putih kado ulang tahun dari Sist Pujii..


Sambil menunggu kopi tenggelam sempurna, saya bikin Umm Ali -Umm Mima- tanpa susu cair sama sekali dan diganti hanya pakai fiber creme (dan SKM sedikiitt). Pur campur.. kopi dan Umm Mima adalah sarapan ternikmat bulan ini yang selalu saya tonton dengan Marvel, kecuali pagi ini karna Marvel nya sudah sampai di Endgame dan belum mood lanjut ke Spiderman.


Petaka mulai timbul setelah saya menyelesaikan sarapan. Berniat untuk bersih-bersih rak buku secara singkat sebelum mulai bekerja. Saat itulah baru saya sadar.. Funko Pop V for Vendetta yang saya ajak mudik dua minggu lalu tidak ada. Panik, saya mencarinya di seluruh ruangan. Meskipun sebetulnya saya sudah tahu, saya lupa mengeluarkannya dari mobil malam itu. Terlalu sibuk berhaha hihi dalam whatsapp yang entahlah saya pun sebal mengingatnya sekarang. 


Saya hampir menangis saat menelpon bapak yang suka antar jemput mobil yang saya rental, karena dia tidak menjawab, pesan-singkat saya pun tidak dijawab. Kepala saya sudah berisikan puluhan kemungkinan antara merelakannya pergi dan tidak membeli lagi, merelakannya pergi tapi beli lagi funkopop yang sama, mencarinya sampai kemanapun.. Sampai tiba-tiba ada yang mengabari bahwa Funko Pop itu betul tertinggal di mobil. Saya bersyukur se beryukurnya, dan langsung bilang akan jemput pakai grabsend. Tapi ternyata orang itu lebih memilih untuk mengantarnya sendiri, dan sebagai imbalan saya beri dia ongkos senilai grabsend..


Tapi dalam hening jeda antara panggilan tak terjawab kepada bapak supir sampai ke petugas lain menghubungi saya mengkonfirmasi keberadaannya, saya duduk terdiam di ruang tengah. Patah hati. Saya bertanya-tanya sendiri, kenapa bisa selama dua minggu tidak sadar jumlah mereka berkurang. Kenapa bisa setiap hari saya melihat mereka terpajang tapi tidak melihat kalau ada yang hilang.


Baru kemarin saya belajar teori scarcity, sekarang saya sudah terperangkap dalam Scarcity. Saat waktu terasa sangat sempit dan semua hal harus diselesaikan dengan begitu cepat, sampai tidak lagi peduli pada kualitas, bahkan cenderung abai pada apa yang ada di depan mata. 


Menyadari bahwa kita sedang terperangkap dalam scarcity adalah satu langkah lebih maju ketimbang tidak sadar sama sekali. Setidaknya setelah ini kita bisa ambil langkah preventif supaya tidak terjerembab terlalu dalam, sambil pelan-pelan mengulur ritmenya, memberi jeda, dan memberi ruang untuk berencana.


Jangan sampai kesibukan membuat kita buta akan hal-hal yang jauh lebih fundamental. Hilangnya Funko Pop saya tadi membuat saya sadar bahwa gampang sekali pekerjaan membuat kita lupa pada hal esensial yang semestinya kita rawat. Bagi yang sudah berkeluarga, ada keluarga yang harus diberi perhatian. Bagi yang masih sendiri, ada diri sendiri yang butuh 'didengar', dan bagi semua orang ada akhirat yang selalu menunggu dalam kepastian.


Biasanya kalau orang sudah terlalu sibuk, akan sulit untuk men detach emosi nya dari pekerjaan dan urusan personal. Itu pun tidak sehat. Saya nyaris seperti itu siang tadi, kalau bukan karena Dia pasti saya sudah meledak dan mengeluarkan kalimat jahat. Konsep scarcity pada urusan waktu masih lebih bisa diobati ketimbang konsep scarcity secara finansial. Di buku itu juga poverty ada bab tersendiri untuk membahasnya. Tapi saya pikir, kunci untuk bisa lolos dari dua jenis scarcity itu adalah bersyukur dan memberi jeda. Memberi ruang pada otak untuk memikirkan hal lain yang jauh -- jauh -- lebih esensial ketimbang apa yang harus dilakukan hari ini. Berfikir jauh sampai ke bintang, sampai ke galaxy, sampai ke surga dan neraka.. karena hanya dengan begitu kadang-kadang ada jendela-jendela kecil atau bahkan pintu yang terbuka dan mengeluarkan kita dari lingkaran scarcity.


***


Bogor, 29 September 2020

Pingin donat Jco dari kemarin.

Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal