Skip to main content

The Best Lesson in 2020

 Somehow, it feels like.. this house doesn't love me anymore. There are things that made me think that way, and maybe Pak Cecep was right.. maybe this house is sick of me already.

***

Dua minggu lalu, pulang dari sepedahan, turun dari gojek dengan tangan bawa kresek isi mangga 2 kilo, dan di kepala sudah terbayang mau langsung bikin smoothie mangga pake gula dan es batu. Udara panas, badan keringetan, paling enak ngadem di dalam rumah, bikin smoothie, lalu mandi.

Ternyata.. pintu rumah ngadat. Saya sudah tahu dari beberapa hari sebelumnya -dan sudah berniat untuk ganti apanya kunci itu tapi belum kesampean, karena niatnya mau sekalian pas manggil tukang biar dia kerjain yang lain juga- ternyata dia ngadat sampai gak bisa dibuka. Sambil istighfar saya terus mencoba membuka kunci yang kerasnya kayak kepala anak remaja. Gak bisa juga sampai sepuluh menit kemudian saya jalan ke pos satpam, manggil Mang Odoy minta tolong dibukain pake tenaga cowok.

Mengecewakan, Mang Odoy seperti gak terlalu kasih tenaga muter kunci itu dan selalu bilang 'ini rusak harus diganti harus diganti'. Saya yang memang sudah emosi duluan dengan  gagang kunci, makin emosi dengan Mang Odoy yang ga ada effort, akhirnya menyerah.

"Hayu atuh, Mang anterin beli kunci baru. Ganti aja semua" dan pergilah kami berdua ke toko bangunan. Ternyata kosong handle kunci yang sama ukurannya dengan punya saya. Toko kedua yang kami kunjungi pun sama, yang ada ukurannya agak sedikit lebih kecil dari itu. Mang Odoy kayak males gitu untuk nganter cari toko lain jadi yasudah saya kompromi dan beli gagang yang baru yang design nya sangat tidak spark joy. Sekali lagi, kompromi.

Lama sekali Mang Odoy utak-atik kunci gak selesai-selesai. Lama-lama akhirnya saya turun tangan ikut bantuin. Baru itu bisa selesai. Fix saya sudah tidak lagi percaya Mang Odoy untuk urusan pertukangan. Mending Mang Adang lah kayaknya. 

Waktu sudah lewat zuhur, nafsu bikin smoothie sudah hilang entah ke mana, akhirnya saya cuma mandi dan beres-beres rumah karena urusan kunci ini bikin baut dan gagang bekas berserakan ga jelas.

Itu satu.

***

Hari ini, entah bagaimana bisa ceritanya saya meletakkan kabel listrik ke lantai agak keras dari biasanya. Bukan ngebanting, tapi dia bersentuhan dengan lantai dengan agak lebih keras. Tiba-tiba terdengar bunyi dentuman dari arah kabel listrik, sedikit percikan, dan listrik padam.

Saya panik. Naluri berkata ini korslet tapi saya masih menolak mengiyakan karena.. saya benar-benar tidak tahu bagaimana cara menangani korslet listrik.. dua tahun di rumah ini belum pernah ada yang korslet.

Saya coba whatsapp beberapa tetangga, dan mereka bilang tidak mati lampu.

Wah fix lah korslet.

Untung Mbak Vita baik, mau bantu jelasin apa yang harus dilakuin kalau korslet. Walaupun dia bilangnya cuma cetekin saklar depan di rumah listriknya, tapi saya inisiatif untuk cetrekin steker yang di dalam rumah juga. Karena ternyata kalau cuma salah satu yang on, listrik tetap tidak mengalir. Harus dua-duanya di on kan. Baru saya lega. 

***

Tadi malam akhirnya saya mencoba juicing semangak 6,5 kg. Hasilnya saya masukkan ke dalam botol-botol kaca yang sudah saya sterilkan 2 bulan lalu. Ide jualan cold-pressed juice yang tercetus dari bulan Mei, bulan September baru terealisasi sampai memasukan juice ke botol. I should really get an award on procrastinating my own idea.

Siang ini saya tengok isi freezer. 6,5 kg semangka menghasilkan 8 botol cold-pressed juice 280 ml yang saya isi penuh. Kenapa saya isi penuh? People on instagram bilang botolnya pecah karena kepenuhan. Saya isi penuh karena menurut buku A Guide to Juicing yang saya baca beberapa bulan lalu, agar nutrisi cold-pressed juice tetap terjaga maka dia harus diminum 20 menit setelah di juice agar tidak teroksidasi, atau disimpan di wadah kedap udara yang artinya kalau ditaruh di botol harus sampai penuh.

Pun saya bersikukuh pakai botol kaca, karena di buku itu bilangnya cold-pressed juice tidak baik disimpan di wadah plastik karena akan bereaksi dan mudah rusak. I am so determine to serve the best of my juice karna niat saya bukan jualan tapi untuk kampanye hidup sehat makan sayur dan buah supaya semua orang bisa selalu membunuh sel kanker di tubuhnya. No cancer no more please.

Jadi malam ini, hati saya hancur setelah mengeluarkan botol-botol beku dan pecah itu dari freezer dan membiarkannya di suhu ruang selama kurang lebih 4 jam, malam ini saya memisahkan cairan semangka yang masih bisa diselamatkan dengan serpihan kaca. Tentu juice itu sudah tidak layak minum karena serpihan kacanya walaupun disaring kan siapa yang tahu.. jadi saya hanya pindahkan ke botol kaca yang lain, untuk foto produk saja dulu. Sumpah hati saya hancur mengumpulkan pecahan kaca itu di plastik, menuangkan isi juice yang tidak bisa diminum itu ke botol-botol baru, dan membersihkan sisa ceceran air semangka yang sudah seperti darah. Tangan kena beberapa sayat, yang pas skincare-an malam kena toner perihnya luar biasa.



***

I guess.. this is me putting too much information on my daily life.

But I wanna remember this part of life.

Or maybe I'll just delete it in a couple of days.

Whatever.

***

Bogor, 20 September 2020

Ternyata schedule email cuma bisa sampai 100 email. Ada 212 pendaftar untuk sesi Online Learning Selasa besok, kayaknya ni saya ga bisa tidur lagi mikirin cara untuk ngirim semua email itu dengan tetap ada personal touch.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …